Headlines News :
Home » » MAKALAH PERKEMBANGAN ANAK

MAKALAH PERKEMBANGAN ANAK

Written By Ahmad Multazam on Thursday, December 20, 2012 | 10:16 PM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

A.    PENDAHULUAN
Al-Ghazali ra dalam bukunya yang berjudul Ihya Ulumuddin telah menyebutkan: “Perlu diketahui bahwa jalan untuk melatih anak-anak termasuk urusan yang paling penting dan harus mendapat prioritas yang lebih dari yang lainnya”. Anak merupakan amanat ditangan kedua orang tuanya dan kalbunya yang masih bersih merupakan permata yang sangat berharga. Jika ia dibiasakan untuk melakukan kebaikan (dalam lingkungan rumah tangga dan lingkungan sosial), niscaya dia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan keburukan (dalam lingkungan rumah tangga dan lingkungan sosial) serta ditelantarkan, niscaya dia akan menjadi orang yang celaka dan berdampak sangat buruk bagi perkembangan baik fisik, mental, maupun spiritual sang anak.
Sumber daya manusia yang berkualitas hanya dapat diciptakan melalui lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal. Keduanya secara simultan memproses row input untuk dapat lebih cerdas sebagaimana yang diamanatkan oleh Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 Alinea ke empat, “..... mencerdaskan kehidupan bangsa......”.
Indikator sumber daya manusia yang berkualitas, satu diantaranya adalah munculnya produk kreatif seseorang. Produk kreatif akan muncul bilamana ada motivasi, baik motivasi intrinsik maupun ekstrinsik disertai komitmen yang tinggi untuk mencapai prestasi serta adanya wahana yang memungkinkan munculnya kreatifitas. Semakin tinggi potensi kreatifitas seseorang dan didukung keterbukaan wahana untuk mengekspresikan kreatifitasnya, maka semakin terbuak pulalah peluang munculnya produk kreatif.
Manusia dalam kedudukannya sebagai peserta didik haruslah ditempatkan sebagai pribadi yang utuh, yakni manusia sebagai kesatuan sifat makhluk individu dan sosial, sebagai kesatuan jasmani, dan rohani sebagai makhluk Tuhan yang harus menempatkan hidupnya di dunia sebagai persiapan kehidupan akhirat.

B.     RUMUSAN MASALAH
Untuk membatasi permasalahan dalam makalah ini, maka saya akan membatasi dengan beberapa permasalahan diantaranya :
1.      Pengertian Perkembangan Anak
2.      Dimensi Perkembangan Anak
3.      Tugas Perkembangan Anak
4.      Prinsip dan Hukum Perkembangan
5.      Daya Bahasa Anak
6.      Daya Pikir Anak
7.      Daya Cipta Anak
8.      Motorik halus dan motorik kasar anak

C.    PEMBAHASAN

1.         Pengertian Perkembangan Anak
Perkembangan anak adalah segala perubahan yang terjadi pada diri anak dilihat dari berbagai aspek antara lain aspek fisik (motorik), emosi, kognitif, dan psikososial (bagaimana anak berinteraksi dengan lingkungan).[1]
Secara umum konsep perkembangan anak dikemukakan Werner (1957) sebagai berikut: “Perkembangan sejalan dengan prinsip orthogenetis, bahwa perkembangan anak berlangsung dari keadaan global dan kurang berdiferensiasi sampai ke keadaan dimana diferensiasi, artikulasi, dan integrasi meningkat secara bertahap. Proses diferensiasi itu diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak, bahwa dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya menjadi semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.[2]
Sejak bayi dilahirkan, ia telah mempunyai “gambaran total atau gambaran lengkap” tentang dunia ini, hanya saja gambaran tersebut masih kabur dan samar-samar. Terbawa oleh perkembangannya, gambaran total yang samar-samar tadi berangsur-angsur menjadi terang dan bagian-bagiannya bertambah nyata, jelas dan strukturnya semakin lengkap. Timbulah kemudian komplek dan unsur-unsur, umpamanya unsur gerak, jarak, bentuk, struktur, warna, dan lain-lain. Namun semuanya merupakan bagian dari satu totalitas atau keseluruhan dan mengandung sifat-sifat totalitas tersebut.
Dalam hubungannya dengan konsep perkembangan anak secara orthogenetik yang dikemukakan oleh Werner ini, maka perubahan-perubahan ke arah terorganisasi dan trintegrasinya suatu aspek menunjukkan adanya kontinuitas. Perubahan-perubahan yang terjadi berlangsung terus pada tahapan-tahapan perkembangan berikutnya dengan cara-cara yang sama. Apa yang ada pada perkembangan sebelumnya diteruskan pada tahapan perkembangan berikutnya. Sedangkan perubahan ke arah diferensiasi yaitu timbulnya karakteristik baru yang berasal dari sesuatu yang sebelumnya masih global disebut diskontinuitas.
Perkembangan anak adalah proses perubahan kualitatif yang mengacu pada kualitas fungsi organ-organ jasmaniah, dan bukan pada organ-organ jasmaniah, dan bukan pada organ jasmani tersebut, sehingga penekanan arti prkembangan terletak pada penyempurnaan fungsi psikhologis yang termanifestasi pada kemampuan fisiologis.[3]
Perkembangan memiliki karakteristik yang dapat diramalkan dan memiliki ciri-ciri sehingga dapat diperhitungkan, seperti:
a.    Perkembangan sudah terjadi sejak didalam kandungan, dan setelah kelahiran merupakan suatu masa dimana perkembangan dapat dengan mudah diamati.
b.    Dalam periode tertentu ada masa percepatan atau masa perlambatan. Terdapat 3 periode pertumbuhan cepat adalah pada masa janin, masa bayi 0-1 tahun, dan masa pubertas.
c.    Perkembangan memiliki pola yang sama pada setiap anak, tetapi pada kecepatan yang berbeda.
d.   Perkembangan dipengaruhi maturasi sistem syaraf pusat. Bayi akan menggerakkan seluruh tubuhnya, tangan dan kakinya kalau melihat sesuatu yang menarik, tetapi pada anak yang lebih besar reaksinya hanya tertawa atau meraih benda tersebut.
Ada dua faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan anak yakni faktor internal dan faktor eksternal.
a.    Faktor Internal (alami) adalah faktor yang diperoleh dari dalam individu itu sendiri, seperti:
Ø  Genetika (keturunan)
Ø  Pengaruh hormon
b.    Faktor eksternal (lingkungan) adalah faktor yang diperoleh dari luar individu, seperti:
Ø Keluarga
Ø Kelompok teman sebaya
Ø Pengalaman hidup
Ø Kesehatan lingkungan
Ø Nutrisi
Ø Istirahat, tidur, dan olahraga
Ø Status kesehatan
Ø Iklim atau cuaca

2.         Dimensi Perkembangan Anak
Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap seseorang terhadap perubahan dalam perkembangan, meliputi:
a.         Penampilan diri
Perubahan yang dapat meningkatkan tampilan diri akan cenderung untuk diterima dan diulangi lagi, sedangkan perubahan-perubahan yang dapat mengurangi penampilan akan ditolak atau berusaha untuk ditutupi.[4]
b.    Perilaku
Perubahan perilaku memalukan seperti yang terjadi pada anak usia dini  akan berpengaruh pada perkembangan perilaku selanjutnya.

c.       Stereotip Budaya
Dari berbagai media, orang mempelajari stereotip budaya yang sering kali dikaitkan dengan ciri khas manusia pada tahap perkembangan tertentu. Dan stereotip budaya tersebut dipakai untuk menilai orang lain dalam usia dini atau pada tahap perkembangan dini.
d.      Nilai-nilai budaya
Setiap budaya memiliki nilai yang dikaitkan dengan usia-usia yang berbeda, hal ini akan mempengaruhi penyikapan masyarakat terhadap kelompok usia tertentu lebih menyenangkan atau meremehkan dibanding sikap terhadap usia lainnya.
e.       Perubahan peranan
Sikap terhadap orang dari berbagai usia dipengaruhi oleh peran yang mereka mainkan. Adakalanya berupa sikap yang lebih baik atau sebaliknya.
f.        Pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi mempunyai pengaruh yang besar terhadap sikap individu dalam menghadapi perubahan dalam perkembangan. Karena kewenangan dan kewibawaan bisa dipertajam dari pengalaman yang pernah diperoleh, sebaiknya orang akan cenderung meninggalkan penglaman yang menyebabkan mereka menjadi diremehkan.[5]

3.         Tugas Perkembangan Anak
Tugas perkembangan yang muncul pada setiap periode perkembangan merupakan keharusan universal yang idealnya berlaku secara otomatis seperti kegiatan belajar keterampilan dalam melakukan sesuatu pada fase perkembangan tertentu yang lazim terjadi pada manusia normal. Itulah yang disebut dengan tugas perkembangan, sehingga dapat disimpulkan bahwa tugas perkembangan adalah kemampuan atau keterampilan yang harus dikuasai atau dimiliki anak pada periode perkembangan tertentu.
Periode kanak-kanak, yaitu usia pra sekolah sebagai periode peralihan dari masa bayi keusia anak sekolah sebelum anak masuk sekolah, jiwanya telah matang untuk sekolah, yaitu matang karena dipersiapkan di taman kanak-kanak atau TPA, dan jenis-jenis pendidikan anak pra sekolah lainnya. Kohnstamm meyebut periode ini dengan periode estetis, yang berarti keindahan.
Ciri dari periode masa kanak-kanak ialah:
1)  Perkembangan emosi kegembiraan hidup
2)  Kebebasan
3)  Fantasi.
Ketiga ciri tersebut, dapat berkembang dengan berbagai bentuk ekspresi seperti; permainan, dongeng, nyanyian dan menggambar itulah sebabnya, empat kegiatan tersebut sering dijadikan isi materi kurikulum di TK.
Adapun tugas masa perkembangan anak, yakni sebagai berikut:
1.  Menguasai kemampuan fisik dasar untuk bermain
2.  Bisa bermain dengan teman sebaya
3.  Membentuk sikap positif terhadap diri sendiri
4.  Mempelajari peran gender yang sesuai
5.  Mengembangkan kemampuan dasar dalam membaca, menghitung, dan menulis
6.  Mengembangkan hati nurani, moralitas, dan sistem nilai
7.  Memiliki kemandirian dasar dalam kegiatan sehari-hari
8.  Mengembangkan sikap yang tepat terhadap kelompok sosial tertentu
Salah satu dasar untuk menentukan apakah seorang anak telah mengalami perkembagan dengan baik adalah memulai apa yang disebut dengan tugas-tugas perkembangan atau Development Task. Tugas perkembangan masa anak menurut Munandar (1985) adalah belajar berjalan, belajar mengambil makanan yang padat, belajar berbicara, toilet training, belajar membedakan jenis kelamin dan dapat kerja kooperatif, belajar mencapai stabilitas fisiologis, pembentukan konsep-konsep yang sederhana mengenai kenyataan sosial dan fisik, belajar untuk mengembangkan diri sendiri secara emosional dengan orang tua, sanak saudara dan orang lain serta belajar membedakan baik dan buruk.[6]
Sedangkan menurut Havighurst (dalam Hurlock, 1980) tugas perkembangan pada masa anak-anak adalah sebagai berikut:
a)  Mempelajari ketrampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan yang umum.
b)  Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai mahluk yang sedang tumbuh.
c)  Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya.
d)  Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tepat.
e)  Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung.
f)  Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari.
g)  Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata dan tingkatan nilai.
h)  Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-lembaga.
i)  Mencapai kebebasan pribadi.
Secara sadar pada masa masa anak-anak seorang individu berupaya untuk dapat bersikap dan berperilaku lebih dewasa. Hal ini merupakan “tugas” yang cukup berat bagi para remaja untuk lebih menuntaskan tugas-tugas perkembanganya, sehubungan dengan semakin luas dan kompleksnya kondisi kehidupan yang harus dihadapi.
Tugas-tugas perkembangan oleh havighurst dikaitkan dengan fungsi belajar, karena pada hakikatnya perkembangan kehidupan manusia dipandang sebagai upaya mempelajari norma kehidupan dan budaya masyarakat agar ia (mereka) mampu melakukan penyesuaian diri dengan baik di dalam kehidupan nyata.[7]
4.         Prinsip dan Hukum Perkembangan
Prinsip perkembangan secara tepat akan dapat dipakai sebagai dasar untuk memahami anak-anak, sekaligus mempunyai nilai ilmiah yang bersifat praktis yaitu:
a)    Pengetahuan tentang pola perkembangan akan membantu mengetahui apa yang diharapkan dari anak pada tahap usia tertentu dan pada usia berapa akan muncul pola perilaku tertentu, dan kapan pola itu akan diganti oleh yang lain.
b)   Pengetahuan tentang apa yang diharapkan dari anak pada usia tertentu memungkinkan disusunnya pedoman dalam bentuk skala tinggi dan berat badan, skala usia mental dan skala perkembangan sosial atau emosional.
c)    Pengetahuan bahwa perkembangan yang berhasil membutuhkan bimbingan dan pembinaan, maka pengetahuan tentang pola perkembangan memungkinkan orang untuk dapat membimbing proses belajar anak pada waktu yang tepat pada masa peka yang merupakan masa paling tepat untuk berkembangnya kemampuan tertentu.
d)   Pengetahuan tentang pola normal dalam tahapan perkembangan tertentu akan dapat dipakai sebagai kriteria untuk mengenali secara dini perkembangan anak yang mungkin menyimpang dari pola umum.

Hukum perkembangan antara lain:
a.    Hukum Cephalocoudal
Hukum ini berlaku pada pertumbuhan fisik yang menyatakan bahwa pertumbuhan fisik dimulai dari kepala kearah kaki. Bagian-bagian pada kepala tumbuh lebih dahulu dari pada bagian-bagian lain. Hal ini sudah terlihat pada pertumbuhan pranatal, yaitu pada janin. Seorang bayi yang baru dilahirkan mempunyai bagian-bagian dan alat-alat pada kepala yang lebih “matang” dari pada bagian-bagian tubuh lainnya.
b.    Hukum Proximodistal
Alat-alat tubuh yang terdapat di pusat, seperti jantung, hati, dan alat-alat pencernaan lebih dahulu berfungsi. Hal ini karena lebih vital dari pada misalnya anggota gerak seperti tangan dan kaki.[8]
c.                                           Hukum Tempo dan Ritme
Cepat lambatnya sesuatu masa perkembangan dilalui dan seluruh perkembangan dicapai, selain berbeda antara perkembangan filogenetik dan ontogenetik, juga menunjukkan perbedaan secara perorangan, meskipun tingkat perbadaannya tidak terlalu besar. Cepat atau lambatnya suatu masa perkembangan dilalui, menjadi ciri yang menetap sepanjang hidupnya, bilamana tidak ada hal-hal yang bisa mempengaruhi proses perkembangan secara hebat, misalnya pengalaman kecelakaan dan terjadinya trauma-trauma fisik sehingga proses perkembangan menjadi lambat dan terhambat.
Ritme perkembangan akan semakin jelas pada saar kematangan fungsi-fungsi. Terlihat adanya selingan diantara cepat dan lambatnya perkembangan, yang kurang lebih tetap atau konstan sifatnya.

5.         Daya Bahasa Anak
Perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan penguasaan alat berkomunikasi, baik alat komunikasi dengan cara lisan, tertulis, maupun maupun menggunakan tanda-tanda dan isyarat.[9]
Sejalan dengan perkembangan hubungan sosial, maka perkembangan bahasa seorang anak dimulai dengan meraba (suara atau bunyi tanpa arti) dan diikuti dengan bahasa satu suku kata, dua suku kata, menyusun kalimat sederhana, dan seterusnya melakukan sosialisasi dengan menggunakan bahasa yang kompleks sesuai dengan tingkat perilaku sosial.
Perkembangan bahasa terkait perkembangan kognitif, yang berarti faktor intelek sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa. Semakin anak itu tumbuh dan berkembang serta mulai mampu memahami lingkungan, maka bahasa mulai berkembang dari tingkat yang sederhana menuju ke bahasa yang kompleks.
Anak belajar bahasa seperti halnya belajar hal yang lain, meniru dan mengulang merupakan hasil yang didapatkan cara belajar bahasa awal. Lalu anak menambah kata-kata dengan meniru bunyi-bunyi yang didengarnya.
Tahapan-tahapan umum perkembangan kemampuan berbahasa seorang anak, yaitu:
Ø  Reflexsive Vocaization
Pada usia 0-3 minggu bayi akan mengeluarkan tangisan yang masih berupa refleks. Jadi bayi menangis bukan karena ia memang ingin menangis tetapi hal tersebut dilakukan tanpa ia sadari.
Ø  Babling
Pada usia lebih dari minggu, ketika bayi merasa lapar atau tidak nyaman ia akan mengeluarkan suara tangisan. Berbeda dengan sebelumnya, tangisan yang dikeluarkan telah dapat dibedakan sesuai dengan keinginan atau perasaan si bayi.
Ø  Lalling
Dalam usia 3 minggu sampai 2 bulan mulai terdengar suara-suara namun belum jelas.
Ø  Echolalia
Di tahap ini, yaitu saat bayi menginjak usia 10 bulan mulai bisa menirukan suara-suara yang didengar dari lingkungannya, serta juga akan menggunakan ekspresi wajah atau isyarat tangan ketika ingin meminta sesuatu.
Ø  True Speech
Bayi mulai dapat berbicara dengan benar, disaat usianya menginjak 18 bulan atau biasa disebutu batita. Namun, pengucapannya belum sempurna seperti orang dewasa.

6.         Daya Pikir Anak
Daya pikir disebut juga sebagai kemampuan kognitif yang sering diartikan sebagai daya atau kemampuan seorang anak untuk berpikir dan mengamati, melihat hubungan-hubungan, kegiatan yang mengakibatkan seorang anak memperoleh pengetahuan baru yang banyak didukung oleh kemampuannya bertanya. Kemampuan kognitif menunjukkan pada proses dan produk dari dalam akal, pikiran manusia yang membawanya untuk tahu.
Dalam hal ini termasuk semua kegiatan mental manusia yang meliputi: mengingat, menghubungkan, menggolongkan, memberi simbol, mengkhayal, memecahkan masalah, mencipta, membayangkan kejadian dan mimpi.
Daya pikir perlu dikembangkan sedini mungkin karena apa yang diperoleh pada suatu periode akan sangat membantu pengembangan daya pikir pada periode selanjutnya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1997) telah menetapkan tujuan dan fungsi pengembangan daya pikir.[10]
Tujuan pengembangan daya pikir adalah agar anak mampu menghubungkan pengetahuan baru yang diperolehnya. Tujuan tersebut secara rinci adalah sebagai berikut:
a)    Mengembangkan kemampuan berpikir logis dan pengetahuan akan ruang dan waktu.
b)   Anak mampu mengembangkan pengetahuan yang sudah diketahui dengan pengetahuan baru yang diperolehnya.
c)    Mengembangkan kemampuan memahami sesuatu dengan cara melihat bermacam-macam hubungan antara satu objek dengan objek lain berdasarkan perbedaan dan persamaan.
d)   Mengembangkan imajinasi melalui bermacam-macam kegiatan.
e)    Memberi kesempatan untuk mengolah lingkungan dan membangun dunianya secara aktif.
f)    Agar anak dapat menghargai dan mencintai isi alam sebagai ciptaan Tuhan.
Setelah anak dilahirkan, tahun-tahun awal kehidupan merupakan saat yang paling kritis bagi pertumbuhan dan perkembangan otak. Semakin banyak pengalaman indera yang di alami anak, semakin banyak sambungan yang diperoleh yang berarti semakin banyak pula potensi bawaan itu berkembang.
Diyakini bahwa setiap anak dengan lebih dari satu bakat, namun bakat tersebut bersifat potensial. Untuk itulah anak perlu diberikan pendidikan yang sesuai dengan perkembangannya.
Anak yang berpikir operasional formal, lebih dahulu secara teoritik membuat matriksnya mengenai segala macam kombinasi yang mungkin, kemudian secara sistematik mencoba mengisi setiap sel matriks tersebut secara empiris. Jadi dengan berpikir operasional formal memungkinkan anak untuk mempunyai tingkah laku problem solving yang betul-betul ilmiah.[11]
Seorang anak yang memiliki kemampuan berpikir normal tetapi hidup dalam lingkungan atau kebudayaan yang tidak merangsang cara berpikir, misalnya tidak adanya kesempatan untuk menambah pengetahuan, pergi ke sekolah tetapi tidak adanya fasilitas yang dibutuhkan, maka anak itu sampai dewasa pun tidak akan sampai pada taraf berpikir abstrak.

7.         Daya Cipta Anak
Daya cipta disebut juga kreativitas. Tujuan pengembangan daya cipta adalah mengembangkan imajinasi dan kreatifitas anak, memberi kesempatan pada anak untuk menciptakan sesuatu sesuai dengan kreatifitasnya, dan anak dapat menghargai hasil karyanya. Adapun fungsi daya cipta anak adalah untuk mengenal berbagai hasil karya seni dan kreatifitas pada anak, memberi kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi benda-benda yang ada disekitarnya, dan melatih anak berpikir kreatif.
Kreatifitas anak dirangsang dan dieksplorasi melalui kegiatan bermain sambil belajar, sebab bermain merupakan sifat alami anak. Kiat-kiat dalam membangun daya cipta anak yakni sebagai berikut[12]:
Ø  Ajak dan dukung anak untuk mencoba cara baru dan berbeda dalam melakukan sesuatu. Jangan terlalu berharap agar hasil karya anak mirip dengan contoh atau dengan hasil karya orang dewasa.
Ø  Sediakan aktifitas kreatif yang dapat dilakukan oleh anak, tanpa bantuan terlebih dahulu. Persiapkan tempat kreasi bermain anak dimana anak dapat menggunakannya sampai terinspirasi.
Ø  Bangun rasa percaya diri anak terhadap kemampuannya sendiri. Jika anak meminta anda untuk melakukan sesuatu untuknya, katakan bahwa anda ingin melihat bagaimana kalau si anak yang melakukannya. Ajak dan dukung mereka untuk berkreasi dengan gaya mereka sendiri.
Ø  Buat penekanan lebih pada proses, bukan pada hasil. Ajukan pertanyaan seperti, “bagaimana cara kamu membuatnya tadi?”.
Ø  Pajang hasil karya mereka, tunjukkan bahwa anda menghargai dan bangga terhadap karya mereka.

8.         Motorik halus dan motorik kasar anak
Perkembangan motorik adalah proses seorang anak belajar untuk terampil menggerakkan anggota tubuhnya. Untuk itu anak dapat belajar dari orang tua atau guru tentang beberapa pola gerakan yang dapat mereka lakukan untuk dapat melatih ketangkasan, kecepatan, kekuatan, kelenturan, serta ketepatan koordinasi tangan dan mata.
Motorik halus yakni gerakan-gerakan yang merupakan hasil koordinasi otot-otot yang menuntut adanya kemampuan mengontrol gerakan-gerakan halus, sedangkan motorik kasar hanya mengandalkan kekuatan untuk mengkoordinasi gerakan.
A.           Motorik halus
Gerakan motorik halus pada anak berkaitan dengan kegiatan meletakkan, atau memegang suatu obyek dengan menggunakan jari tangan.[13] Pada usia 4 tahun koordinasi gerakan motorik halus anak sangat berkembang bahkan hampir sempurna. Walaupun demikian anak usia ini masih mengalami kesulitan dalam menyusun balok-balok menjadi suatu bangunan.
Pada usia 5-6 tahun koordinasi gerakan motorik halus berkembang pesat. Pada masa ini anak telah mampu mengkoordinasikan gerakan visual motorik, seperti mengkoordinasikan gerakan mata dengan tangan, lengan, dan tubuh secara bersamaan, antara lain dapat dilihat pada waktu anak menulis atau menggambar.
B.            Motorik kasar
Melatih gerakan jasmani berupa koordinasi gerakan tubuh pada anak, seperti merangkak, berlari, berjinjit, melompat bergantung, melempar dan menangkap, serta menjaga keseimbangan.
Motorik kasar anak akan berkembang sesuai dengan usianya (age appropriateness). Orang dewasa tidak perlu melakukan bantuan terhadap kekuatan otot besar anak. Jika anak telah matang, maka dengan sendirinya anak akan melakukan gerakan yang sudah waktunya untuk dilakukan. Misalnya : seorang anak usia 6 bulan belum siap duduk sendiri, maka orang dewasa tidak perlu memaksakan dia duduk di sebuah kursi.


[1] Dr. Yuliani Nurani Sujiono, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta: PT Indeks, 2009, hlm. 55
[2] Dr. Sunarto dan Dra. B. Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002, hlm. 37
                                                               [3] S. Wojowarsito, dkk, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta: Tara, hlm 136.
[4] Endang Poerwanti dan Nur Widodo, Perkembangan Peserta Didik, Malang: UMM, 2002, hlm. 28.
[5] Ibid, hlm. 29
[6] J. Ellys, Kiat Meningkatkan Potensi Belajar Anak, Bandung: Pustaka Hidayah, 2009, hlm. 34
[7] Dr. Sunarto dan Dra. B. Agung Hartono, Op. Cit, hlm. 43.
[8] Ibid, hlm. 47
[9] Ibid, hlm. 136
[10] J. Ellys, Op. Cit , hlm. 126
[11] Dr. Sunarto dan Dra. B. Agung Hartono, Op. Cit, hlm. 105.
[12] J. Ellys, Op. Cit , hlm. 138
[13] Ibid, hlm. 174
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

About Me

My Photo

Knowledge is being aware of what you can do. Wisdom is knowing when not to do it.
 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template