Headlines News :
Home » » PENGORGANISASIAN SEBAGAI FUNGSI DASAR MANAJEMEN

PENGORGANISASIAN SEBAGAI FUNGSI DASAR MANAJEMEN

Written By Ahmad Multazam on Monday, March 18, 2013 | 10:28 PM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

                I.   PENDAHULUAN
            Pengorganisasian merupakan lanjutan dari fungsi Perencanaan dalam sebuah sistem Manajemen. Pengorganisasian bisa dikatakan sebagai “urat nadi” bagi seluruh organisasi atau lembaga. Oleh karena itu, pengorganisasian sangat berpengaruh terhadap berlangsungnya suatu organisasi atau lembaga, termasuk di dalamnya lembaga pendidikan.
            Pengorganisasian adalah suatu kegiatan pengaturan atau pembagian pekerjaan yang dialokasikan kepada sekelompok orang atau karyawan yang dalam pelaksanaannya diberikan tanggung  jawab dan wewenang, sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif, efisien dan produktif.
            Untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien, sebuah organisasi harus melakukan upaya-upaya seperti berikut ini:[1]
1.      Organisasi tersebut harus memiliki visi, misi dan tujuan yang  jelas yang diarahkan pada upaya mewujudkan cita-cita bersama.
2.      Organisasi tersebut harus dipimpin oleh orang yang memiliki visi (gagasan dan imajinasi yang terus mengalir), capability (kesanggupan untuk mewujudkan visi), loby (kemampuan berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan berbagai pihak) dan morality (akhlak yang baik).
3.      Organisasi tersebut harus memiliki sumber ekonomi yang dihasilkan melalui berbagai usaha yang mendatangkan profit (keuntungan) bagi kelangsungan organisasi.
4.      Organisasi tersebut harus mampu membaca peluang yang memungkinkan dapat dilakukan berbagai kegiatan yang dibutuhkan oleh anggotanya.
5.      Organisasi tersebut harus didukung oleh sarana dan prasarana pendukung yang baik.
6.      Organisasi tersebut harus memperoleh legitimasi dari masyarakat dengan cara menciptakan berbagai kegiatan yang dibutuhkan oleh masyarakat.

             II.   RUMUSAN MASALAH.
              Dari beberapa penjelasan diatas dalam memahami pengorganisasian masih perlu penekanan mengenai :
1.                  Teori-teori Organisasi
2.                  Struktur Organisasi
3.                  Kultur/Budaya Organisasi

          III.            PEMBAHASAN
A.    TEORI-TEORI ORGANISASI[2]
1.      Teori Pendekatan Klasik
Pendekatan klasik (tradisional) ini didasarkan pada “teori mesin”. Organisasi diibaratkan sama seperti mesin yang onderdilnya setiap saat dapat diganti dan setiap bagian mempunyai tugas tertentu sesuai fungsinya.
            Pendekatan ini sangat memperhatikan pembagian kerja,  spesialisasi, dan standar dalam mendesain organisasi, sehingga organisasi yang dibentuk dapat efektif dan efisien untuk mencapai tujuan. Efisien dan efektif, artinya agar semua unsur manajemen berdaya guna dan berhasil guna.
2. Teori Pendekatan Tingkah Laku
Kritik pendekatan tingkah laku (pendekatan hubungan manusiawi =  behavioral approach) terhadap pendekatan klasik dengan teori mesinnya adalah anggapan bahwa manusia/anggota organisasi disamakan dengan “onderdil mesin” yang mudah didapat dan diganti, tetapi kita tidak dapat menguasai sepenuhnya, agar ia berfungsi tepat sesuai dengan perincian dan keinginan kita.
            Pendekatan tingkah laku ini menekankan pentingnya memperhitungkan aspek manusia secara utuh dalam mendesain suatu struktur organisasi. Yang menjadi bahan penelitian utama adalah “tingkah laku manusia” dalam organisasi.
3.      Teori Pendekatan Struktur
        Menurut Peter F. Drucker, organisasi adalah sarana ke arah ujung prestasi bisnis dan hasil bisnis. Karena itu masalah utamanya adalah, “Apakah yang sedang kita usahakan dan apa yang seharusnya kita lakukan?” Dengan demikian, organisasi harus dirancang untuk mencapai tujuan bisnis.
Drucker mengemukakan tiga jalan untuk menemukan struktur yang membantu pencapaian tujuan, yaitu:
a. Analisis kegiatan, mengemukakan prkerjaan apa yang harus dilaksanakan, pekerjaan macam apa saja yang tergolong sama yang diberikan kepada setiap kegiatan di dalam struktur organisasi.
b.Analisis keputusan ialah merancang suatu struktur organisasi, yang juga berkenan dengan keputusan yang harus dibuat. Dengan menganalisis keputusan demikian, kita dapat menentukan tingkat bobot keputusan yang diambil.
c. Analisis hubungan, dalam merancang suatu struktur organisasi juga harus dirumuskan hubunga vertikal (atasan dengan bawahan) dan hubungan horizontal (hubungan kesamping /sejajar). Tujuan analisis ini bukan hanya untuk membantu merumuskan struktur saja, melainkan juga untuk memberikan pedoman penempatan tenaga kerja dalam struktur.
4.      Teori Pendekatan Sistem
                   Menurut pendekatan sistem, organisasi bukanlah suatu “sistem tertutup”, tetapi suatu “sistem terbuka” yang harus berinteraksi dengan lingkungan. Organisasi adalah suatu sistem terbuka, karena itu interaksinya mencakup proses produksi dan proses-proses lain yang bersifat hakiki untuk mempertahankan eksistensinya, menopang fungsi-fungsinya serta menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam sistem terbuka terdapat dua interaksi, yaitu “interaksi internal dan eksternal”.
            Interaksi internal ini mengutamakan peningkatan “efisiensi, produktifitas, dan kerja sama antara subsistem-subsistem” dalam organisasi. Sedangkan interaksi eksternal adalah interaksi yang terjadi antara suatu organisasi dengan pihak-pihak luar (lingkungan) yang ada hubungan ketergantungannya satu sama lain.
B.     STRUKTUR ORGANISASI
                      Menurut E. Kast dan James E. Rosenzweig (1974) struktur diartikan sebagai pola hubungan komponen atau bagian suatu organisasi. Struktur merupakan sistem formal hubungan kerja yang membagi dan mengkoordinasi tugas orang dan kelompok agar tercapai tujuan.
                      Struktur organisasi dimaksudkan untuk menyediakan penugasan kewajiban dan tanggung jawab kepada personil dan membangun hubungan tertentu diantara orang-orang pada berbagai kedudukan.
Struktur dalam organisasi memperlihatkan unsur-unsur administrasi sebagai berikut:[3]
a.                   Kedudukan, struktur menggambarkan letak/posisi setiap orang dalam organisasi.
b.                  Hirarki kekuasaan, struktur digambarkan sebagai suatu rangkaian hubungan antara satu orang dengan orang lain dalam suatu prganisasi.
c.                   Kedudukan garis dan staf, organisasi garis menegaskan struktur pengambilan keputusan, jalan permohonan dan saluran komunikasi resmiuntuk melaporkan informasidan mengeluarkan instruksi, perintah dan petunjuk pelaksana.
C.    KULTUR/BUDAYA ORGANISASI[4]
1.      Pengertian Budaya Organisasi
                      Budaya organisasi merupakan pola nilai-nilai, kepercayaan, asumsi-asumsi, sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan seseorang atau kelompok manusia yang mempengaruhi perilaku kerja dan cara bekerja dalam organisasi. Dalam pengertian lain juga dapat dikatakan bahwa budaya organisasi adalah sebuah sistem nilai, kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan dalam suatu organisasi yang saling berinteraksi sehingga menghasilkan norma-norma perilaku organisasi.
2.      Fungsi Budaya Organisasi
                      Budaya organisasi mempunyai beberapa fungsi diantaranya adalah:
a.       Memberikan identitas organisasi kepada anggotanya
b.      Memudahkan komitmen kolektif
c.       Mempromosikan stabilitas sistem sosial
d.      Membentuk perilaku dengan membantu manajer merasakan keberadaannya
3.      Tipe Budaya Organisasi
               Noe dan Mondy membedakan tipe budaya organisasi dalam dua kelompok, yaitu:
a.    Open dan participative culture, ditandai oleh adanya kepercayaan terhadap bawahan, komunikasi yang terbuka, kepemimpinan yang suportif dan penuh perhatian, penyelesaian masalah secara kelompok, adanya otonomi pekerja, sharing informasi dan pencapaian tujuan yang output-nya tinggi.
b.    Closed and autocratic culture, ditandai oleh pencapaian tujuan output yang tinggi, namun pencapaian tersebut mungkin lebih dinyatakan dan dipaksakan pada organisasi dengan para pemimpin yang otokrasi dan kuat. Karakteristik ini lebih menekankan pada individual daripada teamwork.
          Harrison dalam Poespadibrata membedakan empat orientasi budaya organisasi yang terpisah dan bertentangan satu sama lain, yaitu:
a.       Orientasi Kekuasaan, budaya ini menekankan  pada bagaimana lingkungan eksternal dikuasai dan ditundukkan serta dicirikan oleh norma-norma: bersaing untuk menjaga wilayah kekuasaannya, berusaha memperluas kekuasaannya, tidak mempedulikan nilai-nilai kemanusiaan dan kesejahteraan anggota, hukum rimba masih berlaku, mengejar keuntungan pribadi diantara para eksekutif organisasi.
b.      Orientasi Peran, budaya semacam ini sering disebut juga sebagai budaya birokrasi yang merupakan reaksi terhadap budaya yang berorientasi kekuasaan. Orientasi budaya ini ditandai antara lain oleh persaingan dan konflik diatur /diganti oleh kesepakatan/perjanjian, adanya peraturan dan prosedur, hak dan kewajiban diberikan dan ditaati secara cermat , keterikatan yang besar pada status diubah menjadi keterikatan pada keabsahan kewenangan dan peraturan, kemantapan dan kehormatan sering dinilai setara dengan kemampuan.
c.       Orientasi Tugas, budaya semacam ini didasarkan pada asumsi bahwa pencapaian tujuan yang paling tinggi merupakan prioritas utama dan dinilai tinggi. Karena itu, struktur organisasi, fungsi dari kegiatan selalu dinilai berdasarkan signifikansinya terhadap pencapaian tujuan yang gradasinya paling tinggi. Budaya semacam ini antara lain ditandai oleh tidak ada yang boleh menghalangi penyelesaian tugas dalam rangka pencapaian tujuan.
d.     Orientasi Orang, orientasi budaya ini didasarkan pada asumsi bahwa organisasi dinilai sebagai sarana bagi para anggotanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka yang tak dapat dipenuhi jika dilakukan sendiri.
Ciri budaya ini ditandai oleh, kewenangan bila diperlukan dapat diserahkan kepada seseorang selama dinilai cakap dan ahli untuk menjalankan kewenangannya, sebagai gantinya para anggota diharapkan akan saling mempengaruhi lewat keteladanan, sikap saling menolong dan kepedulian, metode musyawarah untuk mufakat lebih disukai dalam pengambilan keputusan.


[1]  Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan, (Jakarta: Prenada Media, 2003), h. 273                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            
[2] Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen Dasar, Pengertian, Dan Masalah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h.161
[3] Ara Hidayat dan Inan Machali, Pengelolaan Pendidikan,(Bandung: Pustaka Educa, 2010), h.64
[4]  Ara Hidayat dan Imam Machali, op.cit, h.67
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

About Me

My Photo

Knowledge is being aware of what you can do. Wisdom is knowing when not to do it.
 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template