Headlines News :
Home » » HUKUM JUAL BELI HAK ARISAN

HUKUM JUAL BELI HAK ARISAN

Written By Ahmad Multazam on Sunday, January 13, 2013 | 11:47 AM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

                       I. PENDAHULUAN

Akhir-akhir ini banyak berkembang berbagai macam arisan di tengah masyarakat, bahkan telah menjadi sebuah gaya hidup. Mulai dari masyarakat tingkat bawah hingga masyarakat tinggat elit, mulai dari arisan uang, arisan barang, arisan haji, dan lain-lain. Secara umum, arisan ini dimanfaatkan untuk mengikat sesama peserta, mempererat hubungan silaturrahim, serta memastikan para peserta saling percaya dengan sesamanya. Walaupun terkadang ada juga yang memanfaatkan forum arisan untuk hal-hal lain yang kurang baik, misalnya untuk berghibah (bergunjing), pamer kekayaan, riya', ngegosip dan lainnya.
Arisan merupakan masalah kontemporer yang belum pernah disinggung dala Al Qur’an secara langsung, maka dari itu pada kesempatan ini pemakalah akan mencoba untuk menjelaskan tentang pengertian jual beli, pengertian arisan dan hukum jual beli hak arisan.

II.               RUMUSAN MASALAH
A.    Apa pengertian jual beli?
B.     Apa pengertian arisan?
C.     Bagaimana hukum jual beli hak arisan?

III.           PEMBAHASAN
A.    Pengertian Jual Beli
Jual beli secara bahasa artinya memindahkan hak milik terhadap benda dengan akad saling mengganti.
Adapun makna jual beli menurut istilah adalah akad saling mengganti dengan harta yang berakibat kepada kepemilikan terhadap satu benda atau manfaat. Hukum jual beli adalah halal sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an: 

Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS. Al Baqarah 2/:275).[1]

B.     Pengertian Arisan
Arisan adalah pengumpulan uang atau barang yang bernilai sama, oleh beberapa orang lalu diundi diantara mereka. Undian tersebut dilaksanakan berkala sampai semua anggota memperolehnya.[2]
Arisan secara umum termasuk muamalat yang belum pernah disinggung dalam Al Qur’an dan As Sunnah secara langsung, maka hukumnya dikembalikan kepada hukum asal muamalah, yaitu boleh. Para ulama menyebutkan hal tersebut dengan mengemukakan kaedah fiqh yang berbunyi :

اَلأَصْلُ فِي الْعُقُوْدِ وَالْمُعَامَلاَتِاَلْحِلُّ وَ الْجَوَازُ

Pada dasarnya hukum transaksi dan muamalah itu adalah halal dan boleh.[3]

·         Pendapat para ulama tentang arisan 

 Syekh Ibnu Utsaimin berkata: “Arisan hukumnya adalah boleh, tidak terlarang. Barangsiapa mengira bahwa arisan termasuk kategori memberikan pinjaman dengan mengambil manfaat maka anggapan tersebut adalah keliru, sebab semua anggota arisan akan mendapatkan bagiannya sesuai dengan gilirannya masing-masing “. (Syarh Riyadhus Sholihin, Ibnu Utsaimin: 1/838)[4]
Jadi, arisan hukumnya boleh bahkan memiliki manfaat. Namun perlu diingatkan di sini bahwa dalam acara arisan hendaknya diisi dengan sesuatu yang bermanfaat seperti pengajian ilmu, nasehat atau hal-hal yang bermanfaat, minimal adalah perkara-perkara yang mubah, janganlah mengisi acara arisan dengan hal-hal yang haram seperti yang banyak terjadi, seperti: ghibah, mendengar nyanyian, senda gurau yang berlebihan dan lain sebagainya.[5]

C.    Hukum Jual Beli Hak Arisan

1.      Al Qur’an

Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan. (QS. Luqman/31: 20)

   Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya. (QS. Al Maidah/5: 2)

2.     Hadis

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائِهِ فَطَارَتْ الْقُرْعَةُ عَلَى عَائِشَةَ وَحَفْصَةَ فَخَرَجَتَا مَعَهُ جَمِيعًا

" Rasullulah SAW apabila pergi, beliau mengadakan undian di antara istri-istrinya, lalu jatuhlah undian itu pada Aisyah dan Hafsah, maka kami pun bersama beliau." ( HR Muslim, no : 4477)

Hadits Abu Darda’ ra, bahwasanya Rasulullah bersabda :
ما أحل الله في كتابه فهو حلال وما حرم فهو حرام وما سكت عنه فهو عفو فاقبلوا من الله عافيته فإن الله لم يكن لينسى شيئاً وتلا قوله تعالى :( وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا ) سورة مريم الآية 64
“Apa yang dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya, maka hukumnya halal, dan apa yang diharamkannya, maka hukumnya haram. Adapun sesuatu yang tidak dibicarakannya, maka dianggap sesuatu pemberian, maka terimalah pemberiannya, karena Allah tidaklah lupa terhadap sesuatu. Kemudian beliau membaca firman Allah swt (Dan tidaklah sekali-kali Rabb-mu itu lupa) – QS Maryam : 64- “ (HR Al Hakim, dan beliau mengatakan shahih isnadnya, dan disetujui oleh Imam Adz Dzahabi).

Hadits di atas secara jelas menyebutkan bahwa sesuatu (dalam muamalah ) yang belum pernah disinggung oleh Al Qur’an dan Sunnah hukumnya adalah “afwun“ ( pemberian ) dari Allah atau sesuatu yang boleh.[6]

3.      Fiqh

Saat ini banyak terjadi jual beli hak arisan sebagai berikut: Ani adalah orang yang mendapatkangiliran nomer satu, sedangkan Fani mendapat giliran ke 5, kemudian karena Fani sangat membutuhkan uang maka dia membeli nomer undian Ani dan nanti kalau sudah tiba giliran Fani (nomer 5) maka Ani yang akan mendapatkannya. Haram/tidak boleh apabila dengan aqad/cara hutang piutang untuk mendapatkan selisih keuntungan.
Menurut Syeikh Sulaiman Jamal al Manhaj: dalam sebuah jual beli atau arisan tidak boleh atau tidak sah apabila mengganti pemilik suatu barang atau benda tanpa membuat perjanjian terlebih dahulu, hal itu dikatakan pula oleh Syuwairi: tidak sah pula mendahulukan hak kepemilikan tanpa perjanjian. Seperti halnya jual beli dalam suatu perjanjian tanpa adanya jaminan atau tanggungan-tanggungan yang lain.
Boleh berpindah tangan antara suatu barang dengan uang dengan cara pemiliknya berkata: “saya serahkan kepilikanku ini kepadamu, kemudian pembeli menjawab: saya terima”.[7]

Bughyatu Al-Mustarsyidin hal, 135
إِذِ اْلقَرْضُ الفَاسِدُ المُحَرَّمُ هُوَ اْلقَرْضُ المَْشْرُوْطُ فِيْهِ النَّفْعُ لِلْمُقْرِضِ، هَذَا اِنْ وَقَعَ فِي صُلْبِ العقد، فان تواطأ عليه قبله ولم يذكر في صلبه أو لم يكن عقد جاز مع الكراهة كسائر حيل الربا الواقعة لخير غرض شرعي.

Aqad utang piutang yang fasid (rusak) dan haram ialah menghutangi dengan janji pihak yang menghutangi mendapat keuntungan hal ini (haram) bila syarat tersebut masuk (ikut) dalam isi transaksi, jika syarat mendapat keuntungan itu berketepatan pada waktu sebelum terjadi transaksi dan waktu transaksi tidak menyebut-nyebut janji keuntungan bagi yang menghutangi, atau sama sekali tidak ada transaksi, maka hukumnya boleh disertai makruh seperti makruhnya segala rekayasa riba yang terjadi bagi selain tujuan syara'.

I'anatu Al Tholibin, juz III, hal. 20
(ومنه ربا القرض) أي ومن ربا الفضل: ربا القرض، وهو كل قرض جر نفعا للمقرض غير نحو رهن. لكن لا يحرم عندنا إلا إذا شرط في عقده

(Diantaranya ialah riba qordi) artinya: termasuk bagian dair riba fadli ialah qordli, yaitu setiap menghutangi yang mengambil untung/ manfaat bagi yang menghutangi, selain aqad gadai dan sesamanya haram, hal itu tidak haram menurut kita, kecuali jika keuntungan itu di ucapkan/di isyaratkan pada waktu transaksi (maka hukumnya haram).

Al-Bajuri, juz I hal. 357
لم يكن هناك عقد - كمالو باع معاطاة وهو الواقع في أيامنا لم يكن ربا وإن كان حراما لكن أقل من حرمة الربا. اهـ
Jika disana (dalam syarat) tidak terjadi aqad (transaksi) seperti pada waktu jual beli dengan mu'athoh ( memberikan tanpa bicara), seperti yang terjadi saat ini, itu bukan riba, jika terjadi keharaman maka lebih sedikit dari pada keharaman riba”.[8]  

IV.            ANALISIS

Berdasarkan keterangan diatas arisan hukumnya boleh. Sebab semua anggota arisan akan mendapatkan bagiannya sesuai dengan gilirannya masing-masing. Namun hukum dari jual beli hak arisan adalah haram. Sebagaimana diungkapkan oleh Syeikh Sulaiman Jamal al Manhaj: dalam sebuah jual beli atau arisan tidak boleh atau tidak sah apabila mengganti pemilik suatu barang atau benda tanpa membuat perjanjian terlebih dahulu, hal itu dikatakan pula oleh Syuwairi: tidak sah pula mendahulukan hak kepemilikan tanpa perjanjian. Seperti halnya jual beli dalam suatu perjanjian tanpa adanya jaminan atau tanggungan-tanggungan yang lain.
Boleh berpindah tangan antara suatu barang dengan uang dengan cara pemiliknya berkata: “saya serahkan kepilikanku ini kepadamu, kemudian pembeli menjawab: saya terima”.
Arisan sendiri memiliki beberapa manfaat, sebagai berikut:
1.      Melakukan sosialisasi dan memperluas jaringan
Lewat arisan Anda bisa lebih saling mengenal satu sama lain, yang tentunya membuat Anda lebih akrab dengan sesama peserta arisan.
2.      Ajang promosi
Bukan rahasia lagi jika acara arisan sering dimanfaatkan menjadi ajang jual beli antar peserta arisan
3.      Latihanmenabung
Bagi mereka yang sulit menabung, kegiatan ini bisa menjadi ajang latihan untuk mendisiplinkan diri, karena mau tak mau Anda harus menyisihkan uang sejumlah tertentu untuk disetorkan setiap arisan.
4.      Bertukar informasi
Dengan mengikuti kegiatan arisan, tujuan mencari informasi ini akan lebih mudah
dicapai.
5.      Jika mendapat undian di awal periode arisan, berarti Anda mendapat pinjaman tanpa bunga.
6.      Melepas stress
Hidup di kota besar terkadang membuat kita terasing dengan lingkungan sekitar.


[1] Abdul Aziz Muhammad Azzam, dkk, Fiqh Muamalat, (Jakarta: Amzah , 2010) hlm 26

[2] Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (PN Balai Pustaka, 1976) hlm 57.
[3] Sa’dudin Muhammad Al Kibyi, Al Muamalah Al Maliyah, (Beirut, 2002) hlm 75.
                              
[5] http://abiubaidah.com/hukum-arisan.html/, 10 Desember 2012, jam 20.52 WIB
[6] Abdul Aziz Muhammad Azzam, dkk, Fiqh Muamalat, …. Hlm 89
[7] Muhammad Najih dkk, Tholai’ul Ahkam: Kumpulan Hasul Musyawarah Bahtsul Masa’il 1974-1990, (Rembang: PP Al Anwar Sarang,2004) hlm 110
[8] http://fimadani.com/hukum-arisan-menurut-islam/, 11 Desember 2012, jam 10.22 WIB
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

About Me

My Photo

Knowledge is being aware of what you can do. Wisdom is knowing when not to do it.
 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template