Headlines News :
Home » » KONDISI SOSIAL MASYARAKAT MAKAH SEBELUM DAN SESUDAH KEDATANGAN ISLAM

KONDISI SOSIAL MASYARAKAT MAKAH SEBELUM DAN SESUDAH KEDATANGAN ISLAM

Written By Ahmad Multazam on Wednesday, January 23, 2013 | 3:46 AM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم



       I.            PENDAHULUAN
Ketika nabi Muhammad SAW lahir (570 M), Makah adalah sebuah kota yang sangat penting dan terkenal di antara kota-kota di negeri Arab, baik karena tradisinya maupun karena letaknya. Kota ini dilalui jalur perdagangan yang ramai, menghubungkan Yaman di selatan dan Syiria di utara. Dengan adanya Ka’bah di tengah kota, Makkah menjadi pusat keagamaan Arab. Makkah kelihatan makmur dan kuat. Agama dan masyarakat Arab ketika itu mencerminkan realitas kesukuan masyarakat jazirah Arab dengan luas satu juta mil persegi.
Bila dilihat dari asal usul keturunan, penduduk jazirah Arab dapat dibagi menjadi menjadi dua golongan besar yaitu : Qahthaniyun (keturunan Qahthan) dan Adnaniyun (keturunan Ismail Ibn Ibrahim). Pada mulanya wilayah utara diduduki golongan Adnaniyun, dan wilayah selatan didiami golongan Qahthaniyun. Akan tetapi lama kelamaan kedua golongan itu membaur karena perpindahan dari utara ke selatan atau sebaliknya .[1]
    II.            RUMUSAN MASALAH
A.    Bagaimanakah keadaan sosial Makkah sebelum islam?
B.     Bagaimanakah keadaan Makkah setelah Islam masuk ?
 III.            PEMBAHASAN
A. Kondisi Sosial
  Kota Mekah merupakan tempat yang dipandang suci oleh seluruh bangsa Arab. Kota Mekah sejak awal didirikan telah mengenal sistem pemerintahan.Beberapa suku pernah memegang kekuasaan atas kota Mekah, yaitu suku Amaliqah (sebelum Nabi Ismail dilahirkan), suku Jurhum, dan suku Khuza’ah (440 M). Suku Khuza’ah yang mengambil kekuasaan Mekah dari suku Jurhum mendirikan Darun Nadwah, yaitu tempat untuk bermusyawarah bagi penduduk Mekah di bawah pengawasan Qushai.

1)      Jahiliyah
Konteks sosial masyarakat Makkah Pra Islam yaitu Jahiliyah. Bagi sebagian kalangan jailiyah di artikan sebagai komunitas orang yang bodoh. Namun Muhammad al Jabiry membantah pandangan tersebut, karena masyarakat pra islam sudah mempunyai kebudayaan sendiri.
Masyarakat jahiliyah hidup sebagaimana layaknya masyarakat yang lain. hanya saja sistem hidupnya ditentukan sejauhmana otoritas kesukuan dan kekuasaan ekonomi mempengaruhi sebuah tatanan sosial. Tidak adanya norma hukum dan nabi di tengah-tengah kalangan Quraysh telah menyebabkab munculnya konflik diantara mereka. Maka pada saat itu dikenal dengan istilah Ayyam al-‘Arab (Hari-hari orang arab). Menurut Hitti, tradisi ini mengisahkan tentang permusuhan antar suku yang disebabkan oleh persengketaan dalam soal hewan ternak, padang rumput dan mata air.
Ada 3 kelompok masyarakat jahiliyah yaitu : Pertama, masyarakat pagan yang nomaden. Mereka adalah kelompok yang kaya dan mempunyai tradisi keberagaman yang amat beragam. Tradisi mereka yang nomaden masih memberikan ruang  untuk mencari agam yang memberikan mereka solusi terhadap kebutuhan pokok sehari-hari.
Kedua, masyarakat pagan yang menetap, jika dibandingkan dengan masyarakat pagan yang nomaden, mereka yang menetap ini lebih religius. Dari segi keyakinan mereka dikenal sebagai penyembah berhala. Kelompok ketiga yaitu mereka yang meyakini adanya tuhan tetapi mereka tidak menafikan keberadaan kelompok lain.[2]
Masyarakat baik nomadik maupun yang menetap, hidup dalam budaya kesukuan Badui. Organisasi dan identitas sosial berakar pada keanggotaan dalam suatu rentang komunitas yang luas. Kelompok beberapa keluarga membentuk Kabilah. Beberapa kelompok Kabilah membentuk Suku dan dipimpin oleh seorang Syaikh. Mereka sangat menekankan hubungan kesukuan, sehingga kesetiaan atau solidaritas kelompok menjadi sumber kekuatan bagi suatu kabilah atau suku. Mereka suka berperang oleh karena itu peperngan antar suku sering sekali terjadi. Sikap ini tampaknya sudah menjadi tabiat yang mendarah daging dalam diri masyarakat Arab. Karena itu perang antar suku sering terjadi. Dalam masyarakat yang suka berperang tersebut, nilai wanita menjadi sangat rendah. Dunia Arab ketika itu merupakan kancah peperangan yang terus menerus.[3]
2)      Pusat perdagangan
Sumber ekonomi utama yang menjadi penghasilan orang Arab adalah perdagangan dan bisnis. Orang-orang Arab di masa jahiliyah sangat dikenal dengan bisnis dan perdagangannya. Perdagangan menjadi darah daging orang-orang Arab.[4]
Ada Tiga alasan yang menyebabkan Makkah menjadi salah pusat perdagangan : Pertama, Ka’bah sebagai tempat suci yang membuat setiap orang terkesanuntuk mengunjunginya. Kedua, air Zamzam, kita tahu timur tengah adalah tempat yang tandus, yang tidak mudah untuk mendapatkan air. Maka, keberadaaan sumber air zamzam dengan nilai kesejarahannya yang sangat luar biasa menjadi pemikat banyak orang untuk mendatanginya. Ketiga,Makkah adalah tempat yang menjamin keamanan dan kenyamanan. Mereka yang datang ke Makkah dilarang untuk menumpahkan darah. Untuk memuliakan dan menghormati Ka’bah.[5]
3)      Pusat peradaban
Kultur yang berkembang pada masyaakat Arab pada umumnya adalah kultur klenik. Dan dikenal dengan ilmu pengetahuan dan filsafatnya. Bahasa merupakan yang penting dalam pembentukan kebudayaan orang-orang Makkah Pra-Islam. Karena dengan bahasa mereka mampu menjalin kerjasama dengan masyarakat Arab lainnya diluar Makkah. Disamping itu Syair merupakan salah satu kekuatan tersendiri, karena hal tersebut sebagai cara untuk mengekspresikan perasaan orang Arab. Para penyair di anggap sebagai salah satu kelompok yang menyuarakan perasaan mereka. Karya sastra Pra-Islam yang sangat populer antara lain al-Muallaqaat, karya Abu Tamam, al-Aghani, Mukhtaridat karya Ibnu al-Syajari dan karya lain-lainnya.[6]
B. Arab Setelah Islam
1.      Kelahiran dan Empat Puluh Tahun Sebelum Nubuwah
Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada 12 Rabi’ul Awal 570 M. Ayahnya Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim seorang kepala suku Quraisy yang besar pengaruhnya. Ibunya adalah Aminah binti Wahab bin Bani Zuhrah.[7]Selagi nabi Muhammad SAW masih dalam kandungan ibunya, Ayahnya telah meninggal dunia di kota Yatsrib (Madinah).[8] Muhammad kemudian diserahkan kepada ibu pengasuh, Halimah Sa’diyyah. Dalam asuhannya Muhammad dibesarkan sampai usia empat tahun. Setalah berusia enam tahun Beliau menjadi Yatim piatu karena ditinggal oleh ibunya.
Setelah aminah meninggal. Abdul muthalib mengambil alih tanggungjawab merawat Muhammad. Namun dua tahun kemudian Abdul Muthalib meninggal dunia. Tanggungjawab selanjutnya beralih kepada panamnya, Abu Thalib. Seperti juga Abdil Muthalib, dia sangat disegani dan dihormati orang Quraisy dan penduduk Makkah, tetapi dia miskin.
Dalam usia muda Muhammad hidup sebagai pengembala kambing. Melalui pengembalaan ini dia menemukan tempat berpikir dan termenung. Pemikiran dan perenungan ini membuatnya jauh dari segala pemikiran nafsu duniawi. Sehingga ia terhindar dari segala macam noda yang yang dapat merusak namanya, karena itu sejak muda ia sudah dijuluki al-amin, orang yang terpercaya.
Nabi Muhammad ikut untuk pertama kali dalam kafilah dagang ke Syiria dalam usia 12 tahun. Dalam perjalanan ini, di Busra sebelah selatan Syiria ia bertemu dengan pendeta kristen bernama Buhairah. Pendeta ini melihat tanda-tanda kenabian pada Muhammad. Pada usia yang ke 25, Muhammad berangkat ke Syiria membawa barang dagangan saudagar wanita kaya yang telah menjanda, Khadijah. Dalam perdagangan ini Muhammad memperoleh laba yang besar. Khadijah kemudian melamarnya, lamaran itu diterima dan pernikahannya segera dilaksanakan. Khadijah adalah wanita pertama yang masuk islam dan banyak membentu nabi Muhammad dalam perjuangan menyebarkan islam. Dalam pernikahan itu mereka dikaruniai enam orang anak,  dua putra empat putri : Qasyim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kulsum, dan fatimah. [9]
2.      Bangsa Arab Sebelum Fathul Mekah
Ketika Islam pertama kali disiarkan oleh nabi Muhammad SAW secara terang-terangan,bangsa Arab melakukan penolakan. Terutama kaum Quraisy yang sangat tidak menerima agama baru yang di bawa oleh nabi Muhammad SAW. Mereka tetap berpendapat bahwa kepercayaan watsanilah yang paling benar. Karena kepercayaan tersebut menupakan warisan dari nenek moyang mereka. Kaum Quraisy berpendapat bahwa kepercayaan yang telah di anut oleh nenek moyang mereka itu telah cukup untuk mereka. Bahkan mereka menyeru nabi Muhammad untuk tidak menyiarkan Islam dan kembali pada kepercayaan Watsani.
Perilaku bangsa Arab pada masa sebelum fatahul Mekah, belum terdapat perubahan yang besar. Mereka masih saja melakukan kebiasaan-kebiasaan jahiliyah. Hanya beberapa orang yang masuk Islam saja yang mengalami perubahan-perubahan perilaku. Sedangkan sebagian besar bangsa Arab yang belum masuk Islam tetap meneruskan kebiasaan-kebiasaan mereka. Pada waktu ini nabi Muhammad SAW mendapatkan tantangan yang sangat berat dalam menyebarkan Islam.[10]
3.      Bangsa Arab Setelah Fathul Mekah
Setelah terjadinya penaklukkan terhadap kota Mekah, penduduk kota tersebut yang masih menganut kepercayaan watsani tiba-tiba berbondong-bondong menyatakan bahwa mereka masuk Islam.
Maka sejak itu terjadi perubahan-perubahan yang besar terhadap mereka baik dari segi watak, budaya dan kepercayaan. Dari segi watak, perubahan yang terjadi yaitu bangsa Arab yang semula sangat bangga dengan kabila, darah dan turunannya masing-masing maka ketika Islam telah menjadi agama yang mereka anut mereka dipersatukan di atas suatu bendera dengan satu nama yaitu Islam.[11]
Sehingga bangsa Arab saat itu saling menghormati satu sama lain dan karena itu pula perselisihan-perselisihan antar kabilah yang sering terjadi pada masa jahiliyah dapat dihindarkan.Islam juga mengajarkan untuk saling menyayangi satu sama lain ,menyambung tali silaturahim dan bertetangga dengan baik.[12]
Dilihat dari segi budaya,perubahan yang terjadi ialah:
·         Bangsa Arab yang semula sangat gemar melantunkan dan mendengarkan syair-syair para penyair di pasar Ukaz pada zaman Islam, mereka asik membaca Qur'an siang dan malam.
·         Kebiasaan meratap yang sering dilakukan pada masa jahiliah mereka tinggalkan. Karena agama Islam telah melarang perbuatan meratap.
·          Pada zaman Islam, bangsa Arab juga telah merubah kebiasaan mereka yang suka membunuh anak perempuan yang baru lahir.
·         Terhapusnya sistem perbudakan karena dalam Islam semua orang memiliki hak yang sama.
·          Adanya pengaturan terhadap pernikahan. Sehingga kebiasaan mengawini janda bekas ayah yang dilakukan oleh masyarakat jahiliah dilarang.[13]
Perubahan-perubahan yang dibawa Islam dalam sistem kepercayaan bangsa Arab sangat jelas terlihat. Bangsa Arab tidak lagi menyembah berhala, matahari dan bulan. Mereka mengamalkan ajaran-ajaran islam seperti : salat, puasa, membayar zakat, dan berhaji.[14]


[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam ( Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1993), hlm  9.
[2] Zuhairi Misrawi, Mekkah : Kota Suci,Kekuasaan dan Teladan Ibrahim, (Jakarta : Kompas, 2009), hlm 103
[3] Badri Yatim,op.cit., hlm 11
[4] Ahmad Al-Usairy, Sejarah Isalam sejak Zaman Nabi Adam hingga Abad XX, (Jakarta : Akbar Media, 2003), hlm 72
[5] Zuhairi Misrawi, op.cit., hlm 113-114
[6] Ibid, hlm 117

[8] Rus’an, Lintasan Sejarah islam di Zaman Rasulullah SAW, (Semarang : Wicaksana, 1981), hlm 19
[9] Badri Yatim,op.cit., hlm 16-18
[10] Zuhairi Misrawi, op, cit., hlm 120
[11] Ibid, hlm 122
[12] M. Fethullan Gulen, Versi terdalam : Kehidupan Rasul Allah Muhammad SAW, (Jakarta : Murai Kencana, 2002), hlm 65
[13] Ibid, hlm 67
[14] Ibid, hlm 69
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !


Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template