Headlines News :
Home » » HADIS NABI TENTANG WIRAUSAHA

HADIS NABI TENTANG WIRAUSAHA

Written By Ahmad Multazam on Saturday, January 19, 2013 | 2:01 PM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم



BERWIRAUSAHA
I.          Pendahuluan
Wirausaha sering dipadankan dengan kata entrepreneur atau juga yang menyebutnya dengan wira swasta. Kedua padanan kata tersebut kelihatannya berbeda, tetapi tidak terlalu signifikan. Pemahaman tentang entrepreneur atau wirausaha/ wiraswasta yang lebih bisa diterima akal sehat, namun hingga sekarang kita masih mendengar pemahaman tentang entrepreneur atau wirausaha/ wiraswasta ini yang berbau mitos sehingga berpengaruh terhadap asumsi dan persepsi kita. Akibatnya banyak di antara kita yang gagal mewujudkan berwirausaha karena keliru memahami, membangun asumsi dan persepsi tentang wirausaha.
Entrepreneur memang bisa merupakan bakat, namun bisa dibentuk. Yang pasti, kita bukan tidak bisa menjadi entrepreneur yang sukses. Banyak cerita tentang orang yang mempunyai mitos yang salah tentang entrepreneurship. Mitos yang salah akan menciptakan rasa takut yang menjadi penghalang utama seseorang untuk memutuskan memulai usaha. Dalam makalah ini kami akan mencoba, memberikan penjelasan secara singkat tentang dunia wirausaha, pengertian wirausaha, karakteristik wirausaha, motivasi berwirausaha, tujuan dan manfaat wirausaha serta kerugian berwirausaha.
II.       Hadis
A.    Hadis Ashim bin Ubaidillah tentang kecintaan Allah terhadap orang yang berkarya
عن عاصم بن عبد الله ، عن سالم ، عن أبيه ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : { إن الله يحب المؤمن المحتر } وفي رواية ابن عبدان : { الشاب المحترف }             ( أخرجه البيهقي )
Dari Ashim bin Ubaidillah, dari Salim, dari bapaknya, dia berkata, Rasulullah SAW. telah bersabda “sesungguhnya Allah mencintai seorang mukmin yang berkarya/ bekerja keras.” Dan di dalam riwayat Ibnu Abdan, “pemuda yang berkarya/ bekerja keras.” (H.R. Baihaqy)
B.     Hadis Anas bin Malik tentang keseimbangan hidup di dunia dan di akhirat
عَنْ أَنَسَ بْنِ مَلِكٍ قَالَ ، قَالَ رَسُلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَيْسَ بِخَيْرِكُمْ مَنْ تَرَكَ دُنْيَاهُ لآخِرَتِهِ وَلا آخِرَتُهُ لِدُنْيَاهُ حَتىَّ يُصِيْبُ مِنْهُمَا جَمِيْعًا فَإِنَّ الدُّنْيَ بَلاغٌ إِلَى الآخِرَةِ وَلاَتَكُوْنُوْا كلاَّ عَلَى النَّاس   ( رواه الديلمي وابن عساكر )
Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah SAW. bersabda: bukankah orang yang paling baik di antara kamu orang yang meninggalkan kepentingan dunia untuk mengejar akhirat atau meninggalkan akhirat untuk mengejar dunia sehingga dapat memadukan keduanya. Sesungguhnya kehidupan dunia mengantarkan kamu menuju kehidupan akhirat. Janganlah kamu menjadi beban orang lain. (H.R. Ad Dailamy dan Ibnu Asakir)
C.     Hadis Miqdam bin Ma’dikariba tentang Nabi Daud makan dari usahanya sendiri
عَنْ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِيَكْرِبَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَن النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ قَالَ : مَا أَكَلَ اَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِيَّ الله دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَم كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ.[1] (رواه البخارى )
Dari Al-Miqdam bin Ma’dikarib RA. : Nabi SAW. bersabda, “tidak ada makanan yang lebih baik dari seseorang kecuali makanan yang ia peroleh dari uang hasil keringatnya sendiri. Nabi Allah, Daud AS. makan dari hasil keringatnya sendiri.” (H.R. Al Bukhori)[2]
III.    Pembahasan
Semua yang ada di dunia ini merupakan ciptaan Allah termasuk harta. Oleh karenanya harta pun sebenarnya juga milik Allah. Manusia hanya memanfaatkan dan mengelolanya sesuai dengan ketentuan syari’ah. Seorang wirausaha yang berbasis syari’ah yakin betul dengan ketentuan tersebut, dan ia dipandu oleh iman untuk mencari dan mengelola harta, serta memanfaatkannya sesuai ketentuan syari’ah.
A.  Pengertian Wirausaha
Wirausaha/ wiraswasta atau yang sering dipadankan dengan entrepreneur, secara bahasa (etimologis) wira berarti perwira, utama, teladan, berani. Swa berarti sendiri, sedangkan sta berarti berdiri. Jadi wiraswasta keberanian berdiri sendiri di atas kaki sendiri.[3] Dengan demikian pengertian wiraswasta atau wirausaha sebagai padanan entrepreneur adalah orang yang berani membuka lapangan pekerjaan dengan kekuatan sendiri, yang pada gilirannya tidak saja menguntungkan dirinya sendiri, tetapi juga menguntungkan masyarakat, karena dapat menyerap tenaga kerja yang memerlukan pekerjaan.[4]
Isi kandungan hadis pertama menjelaskan bahwa Allah SWT. suka atau lebih mencintai hamba-hambanya yang mukmin untuk berkarya atau bekerja keras. Dengan demikian bisa diambil poin penting dari hadis pertama tentang berkarya. Dalam berwirausaha, seseorang harus mempunyai jiwa untuk berkarya, dan biasanya mereka mempunyai karakteristik-karakteristik berwirausaha yang melekat pada dirinya.
B.  Karakteristik Wirausaha
Berwirausaha mempunyai beberapa karakteristik yang menonjol, di antaranya adalah:
1.      Proaktif, suka mencari informasi yang ada hubungannya dengan dunia yang digelutinya, agar mereka tidak ketinggalan informasi sehingga segala sesuatunya dapat disikapi dengan bijak dan tepat.
2.      Produktif, mementingkan pengeluaran yang bersifat produktif daripada yang bersifat konsumtif merupakan kunci untuk sukses. Memperhitungkan dengan teliti, dan cermat dalam memutuskan pengeluaran uang untuk hal-hal yang produktif bisa menekan kecenderungan pada hal-hal yang bersifat kemewahan, dan gengsi yang tidak menghasilkan keuntungan.
3.      Pemberdaya, memahami manajemen, menangani pekerjaan dengan membagi habis tugas dan memberdayakan orang lain dalam pembinaannya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan demikian di satu sisi tujuan bisnisnya tercapai, dan di sisi lain orang yang bekerja padanya juga di berdayakan sehingga mendapat pengalaman, yang pada gilirannya nanti dapat berdiri sendiri berkat pemberdayaan yang dilakukan oleh pemimpinnya.
Sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW. “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin harus bertanggung jawab atas kepemimpinannya”.
4.      Tangan di atas, setiap rezeki yang diterima harus ada sebagian yang dibagikan kepada orang-orang yang kurang beruntung yang diberikan secara ikhlas. Bagi para wirausaha tangan di atas (suka memberi) ini merupakan hal penting dalam hidupnya karena setiap pemberian yang ikhlas menambah kualitas dan kuantitas rezekinya dan hidupnya penuh berkah. Itulah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. dalam salah satu hadisnya “Tangan di atas lebih mulia dari tangan yang di bawah”.
5.      Rendah hati, sejatinya menyadari keberhasilan yang dicapainya bukan sepenuhnya karena kehebatannya, tetapi ia sadar betul di samping upayanya yang sungguh-sungguh ia juga tidak terlepas dari pertolongan Allah, dan harus diyakini betul bagi para wirausaha muslim, sehingga akan selalu bersyukur dan tawadhu (rendah hati).
6.      Kreatif, mampu menangkap dan menciptakan peluang-peluang bisnis yang bisa dikembangkan, sehingga ia tidak pernah khawatir kehabisan lahan bisnisnya.
7.      Inovatif, sifat inovatif selalu mendorong kembali kegairahan untuk meraih kemajuan dalam berbisnis. Mampu melakukan pembaruan-pembaruan dalam menangani bisnis yang digelutinya, sehingga bisnis yang dilakukannya tidak pernah usang dan selalu dapat mengikuti perkembangan zaman.[5]
Bekerja keras bernilai ibadah dan mendapat pahala apabila dilakukan dengan ikhlas, Islam memposisikan bekerja sebagai kewajiban kedua setelah shalat. Dengan bekerja itu bernilai ibadah, maka segala yang kita kerjakan harus sesuai dengan tuntutan ibadah dan tidak bertentangan dengan ketentuan syari’ah. Semua yang kita lakukan dalam berwirausaha akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ketika nanti kita berhadapan dengan pengadilan Allah di hari kiamat. Baik cara mendapatkannya, mengumpulkannya, sumber kehalalannya, serta pemanfaatan harta yang dikumpulkan.
Bekerja keras dengan etos kerja Islami maksudnya bekerja yang didasari budaya kerja Islami yang bertumpu pada akhlakul karimah. Ciri-ciri orang yang bekerja dengan etos kerja Islami nampak pada sikap dan prilaku dalam kehidupan sehari-hari yang dilandasi oleh keyakinan yang sangat mendalam bahwa bekerja itu ibadah dan berprestasi itu indah. Berikut sikap dan Prilaku tersebut :
1.      Menghargai waktu
2.      Ikhlas
3.      Jujur
4.      Komitmen
5.      Istiqomah
6.      Disiplin
7.      Konsekuen
8.      Percaya diri
9.      Kreatif
10.  Bertanggung jawab
11.  Leadership
12.  Berjiwa wirausaha
Kemudian dalam penjelasan hadis yang kedua, berkaitan dengan keseimbangan hidup di dunia dan di akhirat. Kehidupan yang baik ialah kehidupan seseorang yang mampu menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhiratnya dengan menyadari bahwa hidup di dunia akan ada akhirnya, dan bekal hidup di akhirat hanyalah amal shaleh yang kita lakukan selama hidup di dunia. Sebagai umat Islam kita dilarang untuk menjadi beban orang lain, maka dari itu kita harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan kemampuan kita sendiri.
Keselarasan hidup di dunia dan di akhirat juga disebutkan dalam hadis lain riwayat Ibnu Asakir, “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup untuk selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok”. Maksudnya hadis ini ialah menggambarkan kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi, yakni bagaimana seseorang menjalani kedua kehidupan tersebut.[6]
C.  Membangun Motivasi Wirausaha
Agar kita dapat melaksanakan keseimbangan hidup tersebut perlu adanya motivasi-motivasi dalam diri untuk membangun kita agar hidup ini lebih bermanfaat. Dalam hal ini lebih ditekankan pada aspek membangun motivasi wirausaha,
1.      Niat yang baik, merupakan pondasi dari amal perbuatan, sebagaimana hadis Rasulullah, “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya. Dan seseorang sesuai dengan apa yang ia niatkan”.
2.      Membulatkan tekad, berani melangkah dapat mewujudkan keberhasilan daripada setengah-setengah atau tidak berani bertekad dipastikan gagal.
3.      Percaya pada takdir dan ridha, dalam hal ini kita berpikir positif.
4.      Belajar dari filsafat alam, berawal dari yang kecil.
5.      Belajar dari pengalaman wirausaha yang sukses.
6.      Berinteraksi dengan akhlak, akhlak menempati posisi puncak dalam rancang bangun ekonomi Islam.
7.      Mengikuti program pengembangan, mengikuti kegiatan sosialisasi dan advokasi kewirausahawan agar dapat menumbuhkan, meningkatkan, dan mengembangkan.
8.      Kunjungan kerja, melakukan kunjungan ke sentra-sentra kegiatan ekonomi/ industri yang lebih maju.
9.      Kerja sebagai ibadah, dalam hal ini bekerja dengan ikhlas karena Allah.
10.  Bersyukur, merupakan konsekuensi logis dari bentuk rasa terima kasih atas nikmat-nikmat yang sudah Allah berikan selama ini kepada kita.[7]
Hadis ketiga anjuran makan dari hasil usaha sendiri. Rasulullah SAW. menganjurkan umatnya supaya berusaha memenuhi hajat hidup dengan jalan apapun menurut kemampuan asal jalan yang ditempuh itu halal. Penjelasan hadis di atas bahwasanya Nabi Daud AS. di samping sebagai Nabi dan Rasul, juga seorang raja. Namun demikian, sebagaimana diceritakan Nabi SAW. dalam hadis beliau ini, bahwa apa yang dimakan oleh Nabi Daud adalah jerih payahnya sendiri dengan bekerja yang menghasilkan sesuatu sehingga dapat memperoleh uang untuk keperluan hidupnya sehari-hari. Di antaranya sebagaimana dikisahkan dalam al-Quran, bahwa Allah menjinakkan besi buat Nabi Daud sehingga ia bisa membuat aneka macam pakaian besi.[8]
Kerja dalam pengertian luas adalah bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi atau nonmateri, intelektual atau fisik, maupun hal-hal yang berkaitan dengan masalah keduniaan atau keakhiratan. Adapun pengertian kerja secara khusus adalah potensi yang dikeluarkan manusia untuk memenuhi tuntutan hidupnya berupa makanan, pakaian, tempat tinggal, dan peningkatan taraf hidupnya. Islam mempunyai perhatian besar terhadap kerja, baik dalam pengertiannya yang umum maupun khusus. Dalam tradisi Islam, kerja dinilai sebagai sesuatu yang paling tinggi, dan di lingkungan birokrasi pemerintah dan politik, kerja masuk dalam kategori profesi yang sulit.[9]
Islam berpendapat bahwa seseorang tidak dapat hidup tanpa yang lain, demikian juga para pekerja terhadap yang lain. Akan tetapi, Islam tidak melarang pemberian definisi pekerja sebagai seseorang yang mencari upah, baik pekerja tetap seperti pegawai negeri (biasanya golongan ini tidak masuk dalam definisi kerja secara terminologi), pekerja di suatu perusahaan, koperasi, dagang, maupun para pekerja sebagaimana pengertian dewasa ini, serta pekerja dengan gaji yang tidak tetap dan disesuaikan dengan pekerjaannya, semisal kuli dan tukang kayu.
D.  Tujuan dan Manfaat Kewirausahaan bagi Mahasiswa
Sejak dini, cara berpikir orang muda perlu dibuka untuk mengetahui manfaat penting menjadi entrepreneur atau wirausahawan. Jangan sampai ketekunan belajar di sekolah atau perguruan tinggi hanya mengarah pada satu target, yaitu mencari kerja saja.
Beberapa tujuan dan manfaat mempelajari kewirausahaan bagi mahasiswa dan dunia pendidikan, yaitu:
1.      Pendidikan saja sudah tidak cukup menjadi bekal untuk masa depan.
2.      Kewirausahaan bisa diterapkan di semua bidang pekerjaan dan kehidupan.
3.      Ketika lulusan perguruan tinggi kesulitan mendapatkan pekerjaan atau terkena PHK, kewirausahaan bisa menjadi langkah alternatif untuk mencari nafkah dan  bertahan hidup.
4.      Agar sukses di dunia kerja atau usaha, tidak cukup orang hanya pandai bicara, yang dibutuhkan adalah bukti nyata/ realitas.
5.      Memajukan perekonomian Indonesia dan menjadi lokomotif peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia.
6.      Meningkatkan pendapatan keluarga dan daerah yang akan berujung pada kemajuan ekonomi bangsa.
7.      Membudayakan sikap unggul, prilaku positif, dan kreatif.
8.      Menjadi bekal ilmu untuk mencari nafkah, bertahan hidup, dan berkembang.[10]
9.      Dapat memanfaatkan peluang motif berprestasi.
10.  Dapat memanfaatkan waktu-waktu lowong yang ada dalam kehidupan kita.
11.  Membantu anggota masyarakat dalam hal, menyediakan barang/ jasa keperluan hidup, membimbing/ mendidik calon-calon wirausahawan yang berminat terjun ke dunia wirausaha, dan turut membuka kesempatan pekerjaan bagi masyarakat.

E.  Kerugian Berwirausaha
Kerugian berwirausaha, yaitu:
1.      Banyak menyita waktu sehingga sedikit sekali kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga, terutama di awal-awal membangun/ mendirikan usaha.
2.      Beban tanggung jawab menumpuk pada diri sendiri, terutama di tahap-tahap awal membangun/ mendirikan usaha.
3.      Margin keuntungan relatif kecil, terutama di awal-awal membangun/ mendirikan usaha, biasanya hanya menggunakan modal/ dana yang ada pada diri sendiri (terbatas) sehingga jumlah keuntungan juga terbatas.


[1] Muhammad bin Allan, Dalilul Falihin Juz 2 (Beirut: Dar al-Kotob al-Ilmiyah, 1995), hlm. 428.
[2] Imam Syihabuddin Ahmad Bin Muhammad al-Qasthalani, Irsyadus Syari’, Syarah Shahih al Bukhori (Beirut: Dar al-Kotob al-Ilmiyah, 1996), hlm. 234.
[3] Handri Rahardjo, Kalo Gak Mau Kaya, Jangan Berwirausaha (Yogyakarta: Penerbit Cakrawala, 2009), hlm. 15.
[4] Ma’ruf Abdullah, Wirausaha Berbasis Syari’ah (Banjarmasin: Antasari Press, 2011), hlm. 1.
[5] Ma’ruf Abdullah, Wirausaha Berbasis Syari’ah..., hlm. 3 – 8.
[6] Buya H.M. Alfis Chaniago dan Saiful El-Usmani, Kumpulan Hadis Pilihan (Jakarta: Dewan Mubaligh Indonesia, 2008), hlm. 98.
[7] Ma’ruf Abdullah, Wirausaha Berbasis Syari’ah..., hlm. 49 – 62.
[8] Husaini A. Majid Hasyim, Syarah Riyadhush Shalihin 2 (Surabaya, PT Bina Ilmu, 1993), hlm. 347.
[9] Abdul Aziz Al Khayyath, Etika Bekerja Dalam Islam ( Jakarta: Gema Insani Press, 1994), hlm. 22.
[10] Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis (Jakarta: Erlangga,  2011), hlm. 8.
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

About Me

My Photo

Knowledge is being aware of what you can do. Wisdom is knowing when not to do it.
 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template