Headlines News :
Home » » MAKALAH KESEHATAN DAN GIZI

MAKALAH KESEHATAN DAN GIZI

Written By Ahmad Multazam on Thursday, December 20, 2012 | 9:13 PM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


       I.            I. PENDAHULUAN
       Anak usia 0-6 tahun, sangatlah membutuhkan suatu pendidikan karena pada usia tersebut adalah usia kritis bagi perkembangan dan pertumbuhan semua anak tanpa memandang dari suku atau budaya mana anak itu berasal. Dimana pada masa itu adalah masa-masa titik tumbuh otak yang sangat pesat sekali. Perkembangan otak anak menunjukkan betapa pentingnya membentuk syaraf-syaraf anak usia dini. Jika seorang anak tidak mandapat gizi, nutrisi yang cukup, interaksi yang baik, perhatian dari orang tua dan orang-orang di sekitarnya, maka pembentukkan itu akan berjalan kurang baik.
       Pada masa usia ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, kesadaran emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat. Perkembangan psiko-sosial sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan interaksi antara anak dengan orang tuanya. Perkembangan anak akan optimal bila interaksi sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangan.
       Untuk itu, Pemakalah akan memberikan pengetahuan bagaimana caranya memberikan kesehatan dan gizi yang tepat bagi anak usia dini agar proses perkembangan, pertumbuhan, serta kecerdasan anak tidak mengalami gangguan yang bisa mengakibatkan gizi buruk, kecerdasan mental kurang (idiot), berpenyakitan dan sebagainya yang bisa menghambat belajar anak.

    II.            II. RUMUSAN MASALAH
A.       Apa Pengertian Anak Sehat dan Dimensinya ?
B.       Apa saja Gangguan-gangguan Kesehatan Anak ?
C.       Apa Pengertian Gizi ?
D.       Bagaimana Analisis Hubungan Gizi dengan Kesehatan dan Kecerdasan Anak ?

 III.            III. PEMBAHASAN
A.       Pengertian Anak Sehat dan Dimensinya
Definisi sehat menurut UU No.9 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Kesehatan, sehat adalah sehat badan, rohani (mental), dan sosial, bukan hanya sebatas dari penyakit-penyakit, cacat, dan kelemahan. Kesehatan rohani atau jiwa adalah kondisi yang memungkinkan perkembagan fisik, intelektual, dan emosional yang optimal dari seseorang.[1] Sedangkan kesehatan jasmani yaitu kondisi yang memungkinkan pertumbuhan serta perkembangan badan. Sehat itu bisa diartikan sebagai sehat jiwa dan raga.
Jadi, Anak Sehat merupakan suatu kondisi atau keadaan anak yang normal atau stabil, baik fisik, mental, sosial, maupun ekonomi.  Anak sehat itu adalah anak yang normal intelegensinya yaitu IQ 80 ke atas, sehingga dapat masuk Sekolah Dasar biasa, bahkan yang lambat belajarnya pun (slow learner) juga bisa masuk sekolah biasa. Berikut anak sehat dapat dilihat dari tingkat intelegensianya (IQ). Di bawah ini adalah klasifikasi IQ yaitu sebagai berikut :
a)      Lebih dari 140    : Genius
b)      Antara 120-139  : Very Superior
c)      Antara 110-119  : Superior
d)     Antara 90-109    : Normal, rata-rata
e)      Antara 80-89      : Subnormal, Bodoh (slow leaner)
f)       Antara 70-79      : Garis Batas (borderline)
g)      Antara 50-69      : Debil (dapat dididik dan dilatih)
h)      Antara 30-40      : Embicil (tidak dapat dididik)
i)        Kurang dari 30   : Idiot (tidak dapat dididik dan dilatih).
Anak sehat itu biasanya super aktif dalam tingkah lakunya maupun cara berkomunikasi, dia lebih suka bergerak daripada diam, biasanya suka jahil terhadap teman-temannya. Jahil tersebut merupakan proses perkembangan anak yang mempunyai rasa ingin tahunya sangat tinggi.
Disini ada beberapa ciri-ciri Anak Sehat, Menurut Departemen Kesehatan RI (1993), di antaranya yaitu:
a)      Tumbuh dengan baik, dapat dilihat dari naiknya berat badan dan tinggi badan secara teratur dan proporsional.
b)      Tingkat perkembangannya sesuai dengan tingkat umurnya.
c)      Gesit, aktif dan gembira.
d)     Mata bersih dan bersinar.
e)      Nafsu makan baik.
f)       Bibir dan lidah tampak segar.
g)      Pernafasan tidak berbau.
h)      Kulit dan rambut tampak bersih dan tidak kering/kusam.
i)        Mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan.[2]
Bila batasan kesehatan yang terdahulu UU No.9 Tahun 1960 itu hanya mencakup 3 dimensi atau aspek, yakni: fisik, mental, dan sosial. Maka dalam pengertian anak sehat yang menurut Undang-Undang No.23 Tahun 1992, disitu terdapat 4 kategori dimensi anak sehat, di antaranya yaitu sebagai berikut:
1.      Fisik (badan) yaitu tubuh atau raga yang sehat dan bebas dari penyakit.
2.      Mental (jiwa) maksudnya adalah seseorang yang memiliki motivasi, perasaan, dan pemikiran yang kuat dalam menjalani kehidupannya alias dapat mengontrol dirinya agar tetap stabil.
3.      Sosial maksudnya adalah seseoarang yang selalu mampu menyesuaikan diri pada setiap lingkungan sosial di sekitarnya.
4.      Ekonomi maksudnya adalah produktivitas seseorang dalam hidupnya.[3]
Hal ini berarti bahwa kesehatan seseorang itu tidak hanya diukur dari aspek fisik, mental, dan sosial saja, akan tetapi diukur juga dari aspek ekonomi atau produktivitasnya dalam arti mempunyai pekerjaan atau menghasilkan sesuatu secara ekonomi.

B.       Gangguan-gangguan Kesehatan Anak
Gangguan kesehatan, walaupun hanya kecil dapat menghambat belajar anak. Misalnya gangguan diare, diare akan membuat badan anak lemas dan tidak sedikit yang mengantarkan mereka kepada kematian karena kekurangan cairan.
Selain itu, gizi yang buruk juga akan mengganggu kesehatan anak. Jika gizi yang buruk terjadi pada anak usia dini, maka akan mengakibatkan terganggunya kinerja otak dan bahkan mengurangi kapasitas kecerdasan anak. Bukan berarti makanan yang enak itu dapat memenuhi gizi seimbang, akan tetapi makanan dengan gizi seimbang adalah makanan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral dengan kadar yang sesuai dengan kebutuhan tubuh anak.[4]
Kesehatan gizi masyarakat tergantung pada tingkat konsumsi makanan. Tingkat konsumsi makanan ditentukan oleh kualitas serta kuantitas hidangan. Susunan hidangan harus memenuhi kebutuhan tubuh, baik dari sudut kualitas maupun kuantitasnya. Konsumsi yang kurang baik kualitasnya maupun kuantitasnya, makan yang berlebihan atau kekurangan makan maka akan memberikan kondisi kesehatan dan gizi yang tidak seimbang sehingga akan muncul berbagai penyakit, di antaranya penyakit gizi lebih (obesitas), penyakit gizi kurang, penyakit metabolik bawaan, dan penyakit keracunan makanan.
Anak Balita pada umumnya merupakan kelompok umur yang paling sering menderita akibat kekurangan gizi. Hal ini disebabkan karena anak Balita dalam periode transisi dari makanan bayi beralih ke makanan orang dewasa, sering kali tidak lagi begitu diperhatikan dan pengurusannya sering diserahkan kepada orang lain, dan belum tentu yang mengurusnya itu mampu mengurus dirinya sendiri dengan baik terutama dalam hal makanan.
Ada beberapa jenis gangguan yang sering terjadi pada anak usia dini di antaranya yaitu:

a.       Makanan kurang atau kelebihan
Kekurangan zat makanan disebut defisiensi dan mengakibatkan tidak sehat bahkan sakit. Kelebihan zat makanan juga menyebabkan berbagai penyakit. Kekurangan umumnya mencakup protein dan karbohidrat, serta vitamin dan mineral. Sedangkan kelebihan umumnya berkaitan dengan konsumsi lemak, protein, dan gula.
b.      Gangguan psikis
Beberapa gangguan psikis pada anak adalah gangguan emosi, belajar, sosial, psikiatri, dan khusus.
c.       Gangguan sosial
Gangguan sosial terjadi karena tidak adanya keseimbangan diri dengan lingkungan di sekitarnya.
d.      Gangguan psikiatri yang timbul akibat faktor psikososial
Beberapa gangguan psikiatri yang dapat terjadi pada anak adalah gangguan dalam hubungan dengan orang tua, gangguan dalam diri anak. Gangguan ini terjadi pada anak yang memiliki kekurangan atau cacat. Gangguan dalam interaksi sosial, seperti anak bergaul dengan keluarga dan orang lain di luar keluarganya.[5]
Selain beberapa gangguan yang terjadi pada anak, juga sering muncul beberapa penyakit yang berkaitan dengan kondisi fisiknya. Ada beberapa penyakit anak yang sering menyerang sehingga perlu adanya pencegahan. Penyakit anak itu antara lain cacar air, demam berdarah, polio, mengompol, disentri. Di antara beberapa penyakit yang sering menyerang anak, ada salah satu penyakit yang setiap anak pasti akan mengalami penyakit tersebut  entah itu sudah berusia di atas enam tahun atau belum yaitu penyakit cacar air, dimana penyakit tersebut menyerang ke seluruh tubuh anak. Selain itu, ada beberapa gejala yang timbul pada anak yang sakit di antaranya pilek, suara serak, selera makan berkurang, muntah, kejang, dan nyeri.
Disini penulis akan memberi informasi sedikit agar anak usia dini bisa terhindar dari berbagai gangguan-gangguan kesehatan dan juga terhindar dari berbagai penyakit, salah satunya dengan cara pemeliharaan kesehatan bagi anak usia dini. Berikut penjelasannya.
Pemeliharaan Kesehatan Anak
Cara memelihara anak agar tidak terjadi penyakit yang dapat mengganggu belajar serta kecerdasan anak adalah dengan menjaga kebersihan diri anak dan lingkungannya, imunisasi tepat waktu, serta menjaga jenis makanan yang dikonsumsi.[6] Dengan begitu, anak akan selalu sehat dan bisa meraih prestasi.
Perawatan kesehatan pada anak usia dini dapat diawali dari pemberian makanan yang sehat dan menjaga kebersihan. Pemberian makanan yang sehat dapat menjaga kesehatan, mendidik anak sejak usia dini untuk menanamkan kebiasaan hidup sehat. Makanan yang diberikan kepada anak harus sesuai dengan kebutuhan gizi dan kebutuhan anak. Anak yang alergi terhadap makanan tertentu, maka berikanlah makanan pengganti untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Banyak anak yang tidak menyukai makanan yang sehat seperti sayuran, sebagai orang tua dan para guru harus bisa membuat sayuran menjadi makanan yang paling lezat bagi anak. Misalnya, dalam memasak sayuran bisa dimodifikasi dengan zat makanan lain yang cita rasanya dapat disukai anak.
Berbagai macam penyakit dapat diperoleh anak terutama anak usia 0-6 tahun. Masing-masing penyakit memiliki ciri dan akibatnya. Gejala penyakit anak perlu diketahui guru agar dapat memantau dan memberikan informasi kepada orang tua dalam rangka membantu orang tua untuk pelayanan kesehatan anak. Guru perlu menjelaskan kepada anak mengenai berbagai hal dalam pemeliharaan kesehatan, yaitu pemeliharaan kesehatan lingkungan, mata, telinga, kulit, gigi, dan jasmani.
Hidup dengan budaya sehat perlu ditanamkan sejak dini, sejak anak sudah mulai dapat menangkap dengan panca inderanya mengenai arti pentingnya memelihara dan menjaga kesehatan.
C.       Pengertian Gizi
Kata “gizi” berasal dari bahasa Arab ghidza, yg berarti “makanan”. Sedangkan dari bahasa Inggris kata “gizi” berasal dari kata ‘nutrition”, artinya sesuatu yang mempengaruhi proses perubahan semua jenis makanan yang masuk ke dalam tubuh, yang dapat mempertahankan kehidupan.[7]
Dalam arti luas, Gizi adalah elemen atau unsur yang terkandung dalam makanan, dimana unsur-unsur itu dapat memberikan manfaat secara langsung  bagi tubuh yang mengkonsumsinya sehingga menjadi sehat. Seperti halnya karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air.[8]
Gizi yang seimbang dibutuhkan oleh tubuh, terlebih pada balita yang masih dalam masa pertumbuhan. Di masa tumbuh kembang balita yang berlangsung secara cepat dibutuhkan makanan dengan kualitas dan kuantitas yang tepat dan seimbang.

Karakteristik Makanan Bergizi
Pada anak usia dini perlu dilatih dan diajarkan bagaimana memilih makanan yang baik dan tidak. Makanan yang bergizi akan sangat membantu perkembangan fisik dan meningkatkan kecerdasan anak. Sebaiknya, orang tua dan guru mengajarkan anak untuk melihat dan mengenali berbagai macam makanan yang bergizi dan tidak. Jika seorang anak tidak mendapatkan asupan makanan yang bergizi, maka tidak hanya menghambat perkembangan otak dan fisik, akan tetapi bisa menyebabkan seorang anak terserang penyakit dan menghambat proses belajarnya.
Gizi yang baik dikombinasikan dengan kebiasaan makan yang sehat selama masa balita akan menjadi dasar bagi kesehatan yang bagus di masa yang akan datang. Pengaturan makanan yang seimbang menjamin terpenuhinya kebutuhan gizi untuk energi dan pertumbuhan si kecil. Pengaturan makan yang baik juga dapat melindungi si kecil dari penyakit dan infeksi serta membantu perkembangan mental dan kemampuan belajarnya.
Pengaturan makanan yang sehat untuk anak usia dini tidak sama dengan orang dewasa. Kebutuhan sehari-hari anak akan energi (kalori) dan zat gizi lainnya sangat tinggi, terutama sewaktu si kecil sudah mulai berjalan. Di masa ini ia menjadi lebih aktif dan tumbuh dengan pesat. Namun, karena perut anak masih kecil, anak tidak dapat makan dalam jumlah besar dalam sekali makan. Porsi makan untuk anak usia dini biasanya sepertiga sampai setengah dari porsi orang dewasa. Karena, mereka juga membutuhkan makanan selingan yang bergizi di antara 3 kali makanan utama. Anak perlu makan makanan yang mudah dicerna dan bergizi tinggi. Ada 5 kelompok makanan yang bergizi, di antaranya yaitu:
1)      Lemak dan Gula
Pengaturan makanan yang seimbang harus mengandung cukup lemak dan gula. Hindari pemanis buatan. Berikanlah makanan olahan susu yang berlemak tinggi.
2)      Daging dan alternatifnya
Setiap hari berikan 1 porsi daging, ikan, atau telur,  atau 2 porsi tumbuh-tumbuhan, seperti kacang-kacangan.
3)      Makanan olahan susu
Setiap hari berikan sedikitnya 350 ml susu berkadar lemak tinggi atau 2 porsi keju atau yogurt.
4)      Buah dan sayuran
Setiap hari berikan sedikitnya 4 porsi buah atau sayuran segar, kalengan, ataupun beku. Jus buah dihitung sebagai 1 porsi walaupun diberikan lebih dari 1 kali.
5)      Produk biji-bijian dan zat tepung
Setiap hari di setiap waktu makan berikan sedikitnya 1 porsi nasi, roti, jagung, sereal, ataupun tumbuhan yang mengandung zat tepung. Hindari makanan yang terbuat dari biji-bijian yang sangat kasar.[9]
Dalam penelitian yang dilakukan Ernesto Pollitt dkk (1993) menyatakan bahwa pemberian makanan yang sehat dan protein, akan mempengaruhi perkembangan kognitif selanjutnya. Selain itu, apa yang anak makan juga ikut mempengaruhi irama pertumbuhan, ukuran badan dan ketahanan terhadap penyakit (Brom dkk, 2005 dalam Santrock, 2007).
Menurut Santrock (2007: 157) pada umumnya masalah kesehatan yang sering dialami anak-anak adalah kurang gizi, pola makan, kurang olah raga dan pelecehan. Seperti yang dinyatakan dalam penelitian Pollitt dkk, bahwa gizi sangat mempengaruhi perkembangan kognitif anak. Pola makan sangat berkaitan erat dengan hal ini. Maraknya makanan cepat saji dengan berbagai variasi yang sangat menarik untuk anak seperti hotdog, pizza, hamburger dsb, menjadi kendala tersendiri yang mempersulit pemenuhan kebutuhan gizi yang sehat. Perlu kreatifitas yang tinggi bagi guru dan orang tua untuk mengemas makanan sehat yang menarik bagi anak layaknya makanan cepat saji. Untuk itu cermatilah karakteristik makanan yang bergizi di bawah ini:
·         Mengandung berbagai unsur-unsur terpenting yang di butuhkan di dalam tubuh, seperti karbohidrat, mineral, protein, vitamin, lemak, dan air.
·         Makanan yang berasal secara alami, tidak adanya  bahan kimia atau bahan lainnya yang dapat membahayakan tubuh.

D.       Analisis Hubungan Gizi dengan Kesehatan dan Kecerdasan Anak
Apa itu gizi? di dalam rumusan masalah yang ke-3 sudah dijelaskan bahwa gizi itu adalah Unsur-unsur yang terkandung di dalam makanan, yang mana unsur-unsur tersebut memberikan manfaat secara langsung bagi tubuh serta dapat mempertahankan kehidupan.
Apakah yang dimaksud dengan kesehatan? UU No.23 Tahun 1992 Bab 1 Pasal 1 menyebutkan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. [10] Setiap anak berhak mendapatkan kesehatan untuk proses perkembangan dan pertumbuhannya. Karna dengan kesehatan anak bisa melakukan apa yang dia mau, beraktivitas dengan lancar dan baik, berfikir secara rasional, dan dapat berkonsentrasi dalam belajarnya. Untuk itu, kesehatan sangatlah penting bagi anak usia dini bahkan mempengaruhi kecerdasan otak anak. Akan tetapi bukan hanya setiap anak saja, orang dewasa juga memerlukan kesehatan yang baik untuk bisa mendidik dan memberikan contoh yang baik mengenai pentingnya kesehatan dan menjaga kebersihan bagi anak-anak mereka.
Apa itu kecerdasan? kecerdasan bisa diartikan dengan istilah intelegensi. Hampir semua orang memiliki pemikiran mengenai apa yang diartikan sebagai kecerdasan atau intelegensi misalnya “kecerdasan”, “kemengertian”, “kemampuan untuk berfikir”, “kemampuan untuk menguasai”, “kecemerlangan sejak lahir”, dan sebagainya. Namun berbagai definisi tersebut belum benar-benar memungkinkan kita untuk menentukan apakah, misalnya suatu perilaku tertentu tergolong perilaku pandai atau tidak pandai.[11] Menurut saya, kecerdasan itu adalah tingkat pola pikir IQ yang mencapai di atas 140, yang disebut juga dengan genius.
Kesehatan dan gizi dapat diartikan sebagai suatu hal yang mendatangkan sehat atau kebaikan dengan diberikan zat makanan yang dibutuhkan tubuh. Makanan bayi ASI merupakan makanan utama, sedang lainnya sebagai makanan pelengkap. Anak usia 1 – 3 tahun sangat rentan terhadap penyakit gizi. Mereka boleh diajari makan sendiri, dengan cara mencicipi makanan yang lunak, tidak pedas dan tidak merangsang. Pemberian makanan manis pada anak usia dini tidak boleh terlalu banyak supaya tidak terjadi karies (gigi berlubang), oleh karena itu anak perlu belajar menggosok gigi. Pada usia 4 – 6 tahun kebutuhan nutrient anak relatif kurang, sebab anak sudah bisa memilih makanan sendiri, untuk itu pengertian tentang nilai gizi boleh diajarkan.
Kesehatan dan gizi anak sangat penting untuk diperhatikan sejak dini mulai dari dalam kandungan. Kesehatan dan gizi itu sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak serta kecerdasan otak anak. Anak yang mendapat gizi yang seimbang dan sehat akan tumbuh menjadi manusia yang berkualitas dan cerdas. Sejak anak masih dalam kandungan kesehatan dan gizi perlu diperhatikan, melalui ibunya. Sebab kondisi kesehatan dan gizi anak walaupun masih dalam kandungan ibu akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.[12] Cara mengusahakannya, antara lain dengan memberikan kebiasaan untuk berdisiplin dalam makan, minum, serta menjaga kesehatan.
Seorang anak usia TK sedang mengalami tumbuh kembang yang amat pesat. Pada masa ini proses perubahan fisik, emosi, dan sosial anak berlangsung dengan cepat. Proses ini dipengaruhi oleh berbagai faktor dari diri anak sendiri maupun lingkungannya. Gizi yang diperoleh seorang anak melalui konsumsi makanan setiap hari berperan besar untuk kehidupan anak tersebut. Seorang anak juga dapat mengalami defisiensi zat gizi yang berakibat pada berbagai aspek fisik maupun mental. Pola makan kelompok masyarakat tertentu juga menjadi pola makan anak. Jika menyusun hidangan untuk anak, perlu diperhatikan kebutuhan zat gizi untuk hidup sehat dan bertumbuh kembang. Kecukupan zat gizi ini berpengaruh terhadap kesehatan dan kecerdasan anak.
Untuk itu, perlu diperhatikan betul-betul dalam memberikan makanan pada anak, hendaknya makanan tersebut bisa menyehatkan dan memberi stimulus yang baik bagi perkembangan anak. Kecerdasan anak itu bergantung pada kesehatan dan gizinya, antara gizi dengan kesehatan dan kecerdasan itu saling berkaitan antara yang satu dengan lainnya . Jika pola makan tidak bergizi maka akan mengganggu kesehatan serta kecerdasan. Sebaliknya, Pola makan yang bergizi akan meningkatkan kinerja otak yang baik, sedangkan kesehatan itu membuat si anak dapat berkonsentrasi mengingat sesuatu dan bergerak aktif sehingga menghasilkan anak yang cerdas.
Penyusunan Makanan Sehat
Menurut Sediaoetama (2000) fungsi zat gizi sebagai sumber energi atau tenaga, menyokong pertumbuhan badan, memelihara jaringan tubuh, mengatur metabolisme dan berbagai keseimbangan dalam cairan tubuh (keseimbangan air, asam basa, dan mineral), serta mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakit. Ada berbagai jenis zat makanan yang dibutuhkan tubuh di antaranya karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral-mineral.
Air susu ibu (ASI) merupakan salah satu jenis makanan sehat. Bayi dapat diberikan susu formula atau bubur halus setelah berusia 4 bulan atau diberikan secara bertahap sesuai dengan kebutuhannya. Selanjutnya, setelah usia 6 bulan dapat diberikan nasi tim. Tim yang diberikan sebaiknya diolah dengan memanfaatkan berbagai jenis makanan. Mulai dari sumber protein hewani dan nabati, sumber karbohidrat, dan berbagai jenis sayuran. Sejak berusia 6 bulan sebaiknya bayi mulai diperkenalkan berbagai makanan untuk melatih indra pengecapnya. Dengan diberikan berbagai jenis makanan secara bergantian maka anak akan mengenal berbagai macam rasa makanan. Untuk dapat menentukan makanan yang tepat, orang tua perlu mengetahui kondisi anak.[13]
*        Berapa banyak serat yang dibutuhkan anak usia dini?
Serat diperlukan karena untuk mencegah sembelit. Namun terlalu banyak serat dapat membuat anak kekenyangan sehingga ia tidak mau makan makanan lain. Terlalu banyak makanan yang berserat tinggi juga dapat menyebabkan diare dan mengganggu penyerapan beberapa macam mineral, seperti zat besi.
Jika setiap hari si buah hati makan dengan berbagai biji-bijian, buah-buahan, sayur-sayuran atau kombinasi bermacam roti tawar serta sereal, ia akan mendapat cukup serat.
*        Apakah si kecil perlu lemak?
Lemak merupakan sumber energi dan vitamin yang sangat besar bagi anak-anak dan juga sumber asam lemak esensial. Asam lemak ini tidak dapat dibuat oleh tubuh, sehingga harus didapatkan dari luar melalui makanan. Sumber lemak yang paling baik didapat anak dari makanan seperti susu berlemak tinggi atau keju, yang juga mengandung zat gizi penting lainnya. Makanan seperti kripik dan biskuit, kaya akan lemak tetapi miskin zat gizi lainnya. Jadi, batasilah pemberiannya, untuk daging, pilihlah yang tidak mengandung banyak gajih atau lemak.
Susu rendah lemak ataupun susu krim sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak di bawah 5 tahun. Susu semi-krim dapat diberikan kepada anak mulai usia 2 tahun, hanya saja jika si kecil sudah mendapat cukup energi (kalori) dari pengaturan makanan yang baik dan bervariasi. Jika ragu dalam memberikan makanan tersebut, mintalah saran dari dokter atau petugas kesehatan.
*        Suplemen vitamin
Jika makanan si kecil tidak cukup mengandung vitamin A, C, dan D, ia mungkin butuh tambahan vitamin. Tetapi sebaiknya, konsultasikan dahulu dengan dokter tentang dosis yang tepat. Terlalu banyak vitamin sama bahayanya dengan terlalu sedikit vitamin.
*        Kebutuhan akan zat besi dan seng
Kekurangan zat gizi dapat memperlambat pertumbuhan dan perkembangan balita. Cobalah untuk memberikan makanan yang mengandung zat besi setiap hari kepada si buah hati. Untuk meningkatkan penyerapan di usus, berikan makanan atau jus buah yang mengandung vitamin C di setiap waktu makan.
Sumber zat besi yang baik adalah daging merah, ikan yang mengandung banyak minyak, kerang-kerangan, sereal, roti, telur, buah yang dikeringkan (seperti kismis, cherry, kurma), polong-polongan, jeruk, aprikot, serta sayuran hijau tua dan berdaun lebar (seperti kol dan brokoli).
Seng dibutuhkan untuk sistem kekekalan tubuh dan pertumbuhan. Sumber seng yang bagus adalah daging dan unggas, sereal, keju, telur dan polong-polongan.
Hindari memberi makanan atau minuman yang mengandung zat tanin, seperti teh, kepada anak balita. Zat tanin dapat menghambat penyerapan zat besi dan seng.
Hindarilah memberikan makanan kepada anak balita, seperti:
a)      Segala jenis kacang-kacang (terutama kacang tanah), popcorn, dan buah-buahan yang berbiji kecil, karena dapat membuat si kecil tersedak.
b)      Makanan atau minuman yang mengandung rempah, kecuali si kecil sudah terbiasa atau dia yang memintanya sendiri.
c)      Makanan yang terlalu asin, karena akan membuat si kecil merasa sangat  haus.[14]



[1] http://rike-rikeriwayanti.blogspot.com/2011/06/pelayanan-kesehatan-anak.html, di akses pada tanggal 22 maret 2012, pukul 09.17
[2] http://rike-rikeriwayanti.blogspot.com/2011/06/pelayanan-kesehatan-anak.html, di akses pada tanggal 22 maret 2012, pukul 09.17
[3]http://azizahfathia.blogspot.com/2012/03/tugas-konsep-sehat-serta-dimensinya-dan.html#ixzz1qPFOFHMz,  di akses pada tanggal 28 maret 2012, pukul 17.31
[4] Zainal Aqib, Pedoman Teknis Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), (Bandung: Nuansa Aulia, 2011), hlm. 29
[5] http://paudanakceria.wordpress.com/2010/05/12/kesehatan-dan-gizi/, di akses pada tanggal 22 maret 2012, pukul 09.22
[6] Zainal Aqib, Op Cit, hlm. 29
[7] http://artikelterbaru.com/kesehatan/ilmu-kedokteran/pengertian-gizi-20112816.html, di akses pada tanggal 22 maret 2012, pukul 09.15
[8] http://carapedia.com/pengertian_definisi_gizi_info2106.html, di akses pada tanggal 22 maret 2012, pukul 08.48
[9] June Thompson, Pedoman Merawat Balita, (Jakarta: Erlangga, 2003), hlm. 6
[10] Danar Santi, Pendidikan Anak Usia Dini; Antara Teori dan Praktik, (Jakarta: Indeks, 2009), hlm.35
[11] Alex Sobur, Psikologi Umum Dalam Lintas Sejarah, (Bandung: Pustaka Setia, 2003), hlm. 153
[12] Soemiarti  Patmonodewo, Pendidikan Anak Prasekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm. 20
[13] http://paudanakceria.wordpress.com/2010/05/12/kesehatan-dan-gizi/, di akses pada tanggal 22 maret 2012, pukul 09.22
[14] June Thompson, Pedoman Merawat Balita, (Jakarta: Erlangga, 2003), hlm. 7
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !


Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template