Headlines News :
Home » » PENDIDIKAN DALAM PEMIKIRAN PARA PEMIKIR PENDIDIKAN ISLAM

PENDIDIKAN DALAM PEMIKIRAN PARA PEMIKIR PENDIDIKAN ISLAM

Written By Ahmad Multazam on Wednesday, January 23, 2013 | 3:01 AM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم



I.      Pendahuluan
Dalam perkembangannya filsafat telah melahirkan pemikiran-pemikiran yang khas dalam berbagai bidang hidup dan kehidupan manusia dan dalam hubungannya dengan Tuhan dan alam semesta dan berkembang pula filsafat dalam masalah hidup dan kehidupan manusia itu, sedikit banyaknya tenth berpengaruh dalam pendidikan, atau setidak-tidaknya memberikan corak tertentu terhadap pelaksanaan pendidikan.

II.      Permasalahan
Dalam kesempatan kali ini kami akan membahas tentang pendidikan dalam pemikiran para pemikir pendidikan Islam yang meliputi:
  1. Perkembangan pemikiran atau filsafat pendidikan Islam
  2. Pemikiran-pemikiran baru dalam pendidikan Islam.
  3. Para pemikiran Islam
 III.      Pembahasan
A.    Perkembangan Pemikiran I Filsafat Pendidikan
Diantara yang masuk ke dalam dunia Islam tentang hakikat manusia, yang juga diterima serta di kembangkan di kalangan umat Islam, adalah panduan jabbariyah, berpendapat bahwa hakekatnya manusia itu bersifat ijbar, segala perbuatannya adalah terpaksa dikerjakan manusia hanya sekedar pelaksana dan kehendak perbuatan Tuhan. Manusia tidak menguasai perbuatan-perbuatannya dan tidak menentukan sendiri, serta tidak ada pilihan lain.
Berbeda dengan pandangan jabbariyah tersebut, pandangan , qadariyah berpendapat bahwa manusia menguasai perbuatan-perbuatannya. Manusia mempunyai hak dan kuasa untuk menentukan . pilihan, manusia, memiliki freedom of will. Kedua aliran tersebut memberikan pengaruh ke pendidikan yang berbeda di ka1angai umat Islam. Pandangan pertama (jabbariyah) mengandung makna yang negatif terhadap pendidikan, yaitu manusia akan bersikap pasif dan selalu menanti serta tidak mau berusaha untuk memecah kan masalah hidup dalam kehidupannya. Sedangkan pandangan kedua mempunyai dampak positif terhadap pendidikan.
Karena adanya free will dan free act, maka manusia akan menjadi aktif dalam kehidupannya akan berkembang karena harus memilih diantara perbuatan-perbuatan, dan ia akan terdidik bertanggung jawab terhadap segala karyanya.
Demikian, secara ringkas gambaran filsafat pendidikan yang berkembang dikalangan umat Islam, membawa akibat kehidupan umat Islam yang kontroversial (bertentangan).[1]

B.     Pemikiran-Pemikiran Baru Dalam Pendidikan Islam
Dalam kehidupan umat Islam, pandangan fisolosofis yang sufistis mendapatkan tempat dengan dukungan dan umat Islam di bagian timur, sedang pandangan filosofis yang rasionãl mendapat dukungan dan umat Islam  di bagian barat. Bangsa barat cenderung menguasai dunia sedang must Islam cenderung meninggalkan kehidupan duniawi.
M.M. Sharif dalam bukunya “muslim thought” beliau mengatakan bahwa ikiran Islam telah melaksanakan satu kemajuan yang hebat mulai abed ke-8 sampai abad ke-13 M. kemudian bangsa Eropa menjadikan hasil tersebut menjadi satu pembekalan untuk menjadi dasar pokok dalam mengadakan kebangkitan Eropa.
Kemudian beliau mengatakan bahwa pikiran Islam menurun Welsh abed ke-18.
Berikut ini merupakan sebab melemahnya pikiran Islam d1antarmya sbb:


1)      Telah berkelebihan filsafat Islam yang telah dimasukkan oleh al Ghozali yang Islam nya menuju ke arab bidang rohaniah. Sedangkan Ibnu Rosyd menuju ke jurang matrealisme. Ghozali mendapat sukses di timur sedang Ibnü Rosyd mendapat sukses di barat.
2)      Umat Islam, melalaikan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, dan tidak memberi kesempatan untuk berkembang, kalau pada mulanya para pemegang pemerintahan sangat memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan, dengan memberikan penghargaan yang tinggi kepada para ahli pengetahuan, maka, pada masa itu para ahli ilmu pengetahuan umum terlibat pada urusan-urusan ke pemerintahan, hingga merupakan usaha pengembangan ilmu pengetahuan.
3)      Terjadi pemberontakan yang dibarengi dengan serangan dan Selanjutnya pada akhir abed ke-19 M mulailah kebangkitan pemikiran Islam yang dimulai oleh Jamaluddin A1-Afgani, kemudian disusul oleh Sayid Ahmad Khan dengan gerakan pembaharuan kekuatan o1itik, kekuatan sosial melalui bidang pendidikan di kalangan umat Islam, gerakan-gerakan pemikiran pembaharuan itu dibagi menjadi 3, kelompok yaitu :
a)      Muhammad Ali Pasya di mesir dan gerakan Turki muda. di Turki muda di Turki berorientasi seperti pada dunia Barat.
b)      Di mesir, India dan Indonesia berorientasi pada kehidupan sosial dan pandangan masyarakat setempat, yang kemudian menimbulkan pandangan wataniyah/kebangsaan.
c)      Gerakan pembaharuan yang berorientasi pada pemikiran-pemikiran  Islam yang murni.(al-qur’an dan hadits)[2]
 
C.    Pemikiran-Pemikiran Islam
  1. Pemikiran pendidikan Islam menurut AI-Ghazali
a)      Peranan Pendidikan
AI-Ghazali adalah seorang sufistik yang banyak menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan, karena pendidikanlah yang banyak menentukan corak kehidupan suatu bangsa dan pemikiraiuiya, demikian hasil pengamatan Ahmad Fuad A1 Ahwani terhadap pemikiran pendidikan al-ghazali. Sementara itu H. M. Arifin, guru besar dalam idang pendidikan mengatakan,  bila di pandang dan segi filosofis, al-ghazali adalah penganut faham idealisme yang konsekuen terhadap agama sebagai dasar pandangannya. Dalam masalah pendidikan a[’ghazali lbih cenderung berpaham empirisme. Hal ini disebabkan karena ia menekankan pengaruh pendidikan terhadap anak didik Menurutnya seorang anak tergantung kepada orang tua. Hal ini sejalan dengan pesan Rasulullah SAW.
كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أوينصرانه أو يمجسانه
Artinya:
“Setiap anak yang  dilahirkan dalam keadaan bersih, kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi penganut yahudi, nasrani atau Majusi” (H.R.Muslim)

Selain dengan hadits tersebut al-ghazali mengatakan jika anak menerima ajaran dan kebiasaan. hidup yang baik. Begitupun sebaiknya. Pentingnya pendidikan ini didasarkan pada pengalaman. hidup al-ghazali sendiri, yaitu sebagai orang yang tumbuh menjadi ulama besar yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan, yang disebabkan karena pendidikan .
b)      Tujuan Pendidikan
Menurut al-ghazali tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan untuk mencari kedudukan, kemegahan dan kegagahan atau mendapatkan kedudukan yang menghasilkan uang. Rumusan tujuan  pendidikan yang demikian itu sajalah dengan firman Allah SWT. Tentang tujuan penciptaan manusia, yaitu
  
Artinya: “Tidaklah aku  jadikan jin dan manusia melainkan agar beribadah kepada-ku “ (Q.S.Al-Dzariyat : 56)

Selain itu rumusan tersebut mencerminkan sikap zuhud A1-Ghazaii terhadap dunia, merasa cukup dengan yang ada, dan banyak memikirkan akhirat. Rumusan tujuan pendidikan Al-Ghazali  yang demikian itu juga karena al- ghazali memandang dunia itu bukan merupakan hal pokok, tidak abadi dan akan rusak. Selanjutnya Al-Ghazali mengatakan bahwa orang yang berakal sehat adalah orang yang dapat menggunakan dunia untuk tujuan akhirat, sehingga orang tersebut derajatnya lebih tinggi di sisi Allah, hal ini menunjukkan bahwa tujuan pendidikan menurut Al- Ghazali tidak sama sekali menistakan dunia.
c)      Pendidik
Al-Ghazali juga menjelaskan tentang ciri-ciri pendidikan yang boleh melaksanakannya pendidikan. Ciri-ciri tersebut adalah:
-          Guru harus mencintai muridnya seperti mencintai anak kandungnya sendiri
-          Guru jangan mengharapkan materi (upah) sebagai tujuan utama dan pekerjaan karena mengajar merupakan tugas yang diwariskan oleh nabi Muhammad SAW, sedangkan upahnya adalah erletak pada terbentuknya anak didik yang . mengamalkan ilmu yang diajarkannya
-          Guru harus mengingatkannya muridnya agar tujuan dalam  menuntut ilmu bukan untuk kebanggaan diri tetapi untuk mendekatkan diri kepada Allah.
-          Guru di hadapan muridnya harus memberikan contoh yang baik.
-          Guru harus mengajarkan pelajaran yang sesuai dengan tingkat intelektual dan daya tangkap anak didiknya.
-          Guru harus mengamalkan yang diajarkannya, karena ia menjadi idola di mata anak muridnya.
-          Guru harus memahami minat, bakat dan jiwa anak didikya, sehingga disamping tidak akan salah dalam mendidik, juga akan terjalin hubungan yang akrab dan baik antara guru dengan anak didiknya.
-          Guru harus dapat menanamkan keimanan ke dalam pribadi anak didik nya, sehingga ákal pikiran anak didik tersebut akan dijiwai oleh keimanan itu
Jika ciri-ciri diatas dilihat dan perspektif guru sebagai profesi nampak diarahkan pada aspek moral dan kepribadian guru, sedangkan aspek keahlian, profesi dan penguasaan terhadap materi yang diajarkan dan metode yang harus dikuasainya nampak kurang di perhatikan. Hal ml dapat dimengerti, karena paradigma yang digunakan untuk menentukan guru tersebut adalah paradigma tasawuf, guru sebagai figur sentral, bahkan mempunyai kekuatan spiritual, dimana sang murid sangat tergantung kepadanya hal yang tidak sesuai dengan pola dan pendekatan dalam pendidikan yang diterapkan masyarakat modern saat ini posisi guru dalam pendidikan modern saat ini bukan merupakan satu satunya sumber ilmu pengetahuan dan informasi, karena ilmu pengetahuan dan informasi, karena ilmu pengetahuan dan informasi sudah dikuasai oleh peralatan teknologi penyimpan data. Sekarang guru dilihat sebagai fasilitator yang mengarahkan jalannya proses belajar - mengajar.
d)     Murid
Sejalan dengan prinsip bahwa menuntut ilmu pengetahuan itu sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah, maka bagi murid dikehendaki hal-hal sebagai berikut:

1)      Memuliakan guru dan bersikap rendah hati atau tidak takabur
2)      Menjauhkan diri dan berbagai mazbab yang dapat menimbulkan kekacauan dalam pikiran
3)      Mempelajari tidak hanya satu jenis ilmu yang bermanfaat saja.
Ciri-ciri tersebut untuk masa sekarang perlu ditambah dengan ciri-ciri yang lebih membawa kepada kreatifitas dan kegairahan dalam belajar.
e)      Kurikulum
A1-Ghazali memandang kurikulum dan ilmu pengetahuan  ia membagi ilmu pengetahuan kepada yang terlarang dan yang • wajib dipelajari oleh anak didik menjadi tiga kelompok yaitu:
1)      Ilmu yang tercela, ilmu yang tidak ada manfaatnya bagi manusia di dunia ataupun di akhirat, misalnya ilmu sihir, nujum dan ilmu perdukunan. Bila ilmu ini dipelajari akan membawa madarat dan akan meragukan terhadap kebenaran adanya Tuhan. Oleh karena itu ilmu ini harus dijauhi.
2)      ilmu yang teruji, misalnya ilmu tauhid dan ilmu agama  dipelajari seseorang kepada jiwa yang suci bersih dan madarat dan keburukan serta dapat mendekatkan diri kepada Allah.
3)      Ilmu yang teruji pada taraf tertentu yang tidak boleh  diperdalam, karna ilmu ini  dapat membawa kepada kegoncangan iman

  1. Pemikiran pendidikan Islam menurut Ibn Khaldun
a.       Pandangan tentang manusia didik
Ibnu Khaldun melihat manusia tidak terlalu menekankan pada segi  kepribadiannya, namun ia lebih banyak melihat manusia dalam hubungannya dan interaksinya dengan kelompok-kelompok yang ada di masyarakat. Ibnu Khaldun memandang manusia sebagai makhluk yang berbeda dengan makhluk lainnya Kata Ibri Khaldun manusia merupakan makhluk berpikir Oleh karena itu manusia mampu melahirkan ilmu (pengetahuan) dan teknologi lewat kemampuan berpikirnya itu, manusia tidak hanya membuat kehidupannya, tetapi juga menaruh perhatian terhadap berbagai cara guna memperoleh makna hidup.
Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa manusia berbeda dengan makhluk lainnya, karena manusia memiliki pemikiran yang dapat menolong dirinya untuk menghasilkan kebutuhan hidupnya, juga memiliki sikap hidup bermasyarakat. Dan keadaan manusia tersebut muncullah ilmu pengetahuan. Pada bagian lain, Ibn Khaldun berpendapat bahwa dalam proses belajar harus sungguh-sungguh dan memiliki bakat. Berhasilnya suatu keahlian dalam satu bidang ilmu atau disip.Iin memerlukan pengajaran.
.           b. Pandangan tentang ilmu
Kemudian Ibn Khaldun beipendapat bahwa pertumbuhan pendidikan dan ilmu pengetahuan dipengaruhi oleh peradaban, pada bagian lain, Ibn Khaldun juga mengatakan bahwa adanya perbedaan lapisan sosial timbul dan bail kecerdasannya yang diproses melalui pengajaran.
Mengenai ilmu pengetahuan, Ibnu Khaldun membaginya menjadi tiga macam, yaitu:
1) Ilmu lapisan (bahasa) menipakan ilmu tata bahasa sastra yang
 tersusun secara puitis.
2) Ilmu Naqli merupakan ilmu yang diambil dan kitab suci dan sunnah Nabi
3) Umu ‘Aqli merupakan ilmu yang dapat menunjukkan manusia dengan daya pikir padafilsafat dan semua ilmu pengetahuan.
Diantara ilmu tersebut ada yang harus diajarkan kepada anak didik,
yaitu:
1) Ilmu syari’ah dengan semua jenisnya
2) Ilmu filsafat seperti ilmu alam dan ilmu ketuhanan
3) Ilmu alat yang membantu ilmu agama seperti ilmu bahasa
4) Ilmu alat yang membantu ilmu falsafah seperti ilmu 1ogika
C. Metode Pengajaran
Menurut Um Khaldun bahwa mengajarkan pengetahuan pada pelajar hanya akan bermanfaat jika dilakukan secara
berangsur-angsur. Pertama-tama ia hnrus diberi pelajaran tentang soal-soal mengenai setiap cabang pembahasan yang dipelajarinya. keterangan yang diberikan harus secara umum, dengan memperhatikan kekuatan pikiran pelajar dan kesanggupannya memahami apa yang dibcrikañ kepadanya.
Dalam hubungannya dengan mengajarkan ilmu kepada anak didik, Ibn Khaldun mengajarkan agar para guru mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak didik, dengan metode yang baik dan mengetahui mahfaat yang dipergunakannya dan setenisnya. Kemudian kesulitan yang dihadapi para pelajar disebabkan karena para pendidik tidak menguasai ilmujiwa anak. Kemudian kesulitan yang dihadapi para pelajar disebabkan karena para pendidik tidak menguasai ilmu jiwa anak. Kemudian Ibn Khaldun menganjurkan agar pendidik bersikap sopan dan halus pada muridnya, hal ml merupakan sikap orang tua terhadap anaknya.[3]
       3. Pemikiran pendidikan Islam menurut ikhwan Al-Safa
Menurut Ikhwnn Al-Safa bahwa perumpamaan orang yang belum dididik dengan ilmu akidah.
Pendidikan dengan pàndangan yang bcrsifat rasional dan empirik, atau perpaduan antara pandangan yang bersifat inte1ektual dan faktual Ilniu sebagai gambaran dan sesuatu yang dapat diketahui di slam ml, atau ilmu yang dihasi1kin oleh pemildran manusia itu teijadi karena meidapat bahan-bahan informasi yang dikirim oleh panca indera.
a Cara mendapat ilmu
Menurut lidlwaI! Al-Safa ilmu penetahuan itu dapat dicapai melalul dua cara. Pertama, dengan cara mempergunakan panca indera terhadap obyek alam semesta yang bersifat empirik. Kedua, menggunakan informasi atau berita yang disampaikan oleh orang lain. Selain itu heliau juga menyebutkan tentang ilmu yang dapat dicapai melalui tulisan dan bacaan. Selanjutnya Ikhwan Al-Safa berpendapat bahwa pada dasarnya semualimu itu harus diusahakan, bukan dengan cara tanpa usaha, ilmu didapat dengan menggunakan panca indera.
Pendapat Ikhwan Al-Safa hampir mirip pada aliran John Locke yang bersifat empirisme. Bahwa awal pengetahuan teijadi karena panca indera berinteraksi dengan alam nyata, kemudian Ikhwan AI-Safa berpendapat bahwa cara untuk mendapatkan ilmu dengan cara membiasakan berpegang pada perenungan.
b. Tipe Ideal Gura
Nilal seorang guru menurutnya bergantung. kepada caranya dalam mcnyainpaikan ilmu pengetahuan, guru yang cerdas, baik
akhlaknya, lures tabiatnya, bersih hatinya, menyukai ilmu, bertugas mencari kebenaran, dan tidak bersifat fanatisme terhadap sësuatu aliran. Gum &Ialah mualim, ustadz dan mu’addib. MIah
adøh gum dan segala sesuatu guru Ustadz atau mu’addib dibagi menjadi tiga & diantaranya A1A&ar dan a1-RUhaI* A1-Ru’asa dan’
• A1-MaliIç muluk dan suithan. ‘
       4. Peniikiran Pendidikan Islam menurut Zamuddin Labày
Zainuddin Lâbay bercndapat bahwa banyak mengambil metode-metode ada mesir.dalam menerapkan pendidikan. Tetapi juga dapat diterima bahwa garis besar pengajaran di Madrasah ini juga memakai unsur pendidikan gubernamen.
Zainuddin Labay dalam mcngair mengunakan bahasa arab. Pertama, Zainuddin Labay telah menunjukkan otodidaknya menjadi seorang pembaharu dalam bidang pendidikan.Kedua, ia rejasa dalam mengembangkan bahasa Arab baik sebagai bahasa pengantar. Ketiga, ia telah memperkenalkan model pendidikan yang pada masa itu belum lazi digunakan, mode1 k1asikal. keempat ia telah memperkenalkan pengetahuan modem ke dalam kurikulum pendidikan Islam. Kelima, usaha-usaha yang dilakukan Zainuddin labay telah menghasilkan kader yang tangguh dalam bidang ilmu agama.
5. Pemikiran pendidikan Islam menurut Sycikh Ahmad
 a. Ide-ide Pembaharuan Pendidikan Ahmad Surkati
Secara umum ide pembaharuan pendidikan Ahmad Surkati
dapat digolongkan pads tiga aspek, yaitu :
1) Aspek kelembagaan
Secara kelembagaan program pendidikan yang dilakukan
berlangsung selama 15 tahun.
2) Aspek metodedan pendekatan
Ahmad Surkati dalam menempatkan para siswa agar benar-benar memahami pelajaran dan mempunya daya kreatifitas tidak hanya diajarkan ilmu naqliah yang lebih memperlihatkan metode qauliyah secara sempit namun juga diperkenalkan ilmu akliah untuk memahami ayat-ayat kauniyah.
Dalam kemanipuan memilih metode dan pendekatan . pengajaran yang sesuai dengan situasi belajar yang dihadapi oleh seorang guru tidak kalah pentingnya penguasaan. materi pelajaran, namun mereka kesulitan menyampaikan mated pelajaran.
Ahmad Surkati dalam melakukan kajian tethadap al-Qu’an maupun hadits sangat tepat. karena metode kritik terutama pada materi hadits  ajaran agama lainnya yang dalam pelajrannya telah tercampur dengan hal-hal yang termasuk bid’ah dan sesuatu yang bukan ajaran agama.
3) Aspek kurikulum
Sebagai lembaga pendidikan modern, sekolah-sekolah Al-Irsyad dalam kegiatan belajar mengajar menerapkan rencana pelajaran atau rencana pengajaran yang dalam bahasa pendidikan disebut kurikulum. Pengajaran dijadikan sebagai kerangka kerja sistematik dalam suatu ‘kegiatan pengajaran moden. .
Sehingga dapat diketahui bahwa Ahmad Sürkati menggunakan model dan cam pendidlikan yang diperkenalkannya belum biasa dikenal di lembaga-lembaga pendidikan yang terdapat di masyarakat Islam pada masa itu. Hal ini menunjukkan dar sikap dan pandangannya yang berani bersikap berbeda dan sikap dan pandangan yang pada waktu itu diterapkan.
       6. Pemikiran pendidik Islam menunit Ahmad Dalilan
a. Pandangan Ahmad Dahian Dalam Pendidikan
Pandangan Ahmad Dahlan dalam bidang pendidikan dapat dilihat pada kegiatan pendidikan yang dilaksanakan oleh Muhammadiyah. • Dalam bidang pendidikan, Muhammadiyah melanjutkan model sekolah yang digabungkan dengan system pendidikan gubemamen. 
Ahmad Dahian mendirikan sekolah yang mengikuti model gubemamen, beliau beraliran Muhamniadiyah. Kcmudiai beiau
mendirikan pondok MUhainmadiyah sebagal sekolah pendidikan guru agama.
Muhaznmadiyah berhasil melanjutkan model pembahanian pendidikan, disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa ia menghadapi lingkungan sosial yang terbatas pada pegawai, guru maupun pedagang di kota. Kelompok menengah di kota dalam banyak hal merupakan latarbelakang sosial yang dominan dalam Muhaninadiyah hiugga sekarang ini. Kelompok ini menguasai perusahaan percetakan yang secara ekonomis penting dalam masyarakat. Kelompok ini juga mementingkan pendidikan model Barat. Oleh karena itu Muhammadiyah dengan menyediakan model pendidikan Barat yang ditambah dengan pendidikan agama.
mendapatkan hasil yang baik dalam kalangan ini.
Dan uraian tersebut dapat diketahul ide-ide pendidikan yang dikemukakan Ahmad Dahian. Pertama, Ahmad Dahian membawa pembaharuan dalam bidang pembentukan lembaga pendidikan Is1am yang semula sistem pesantren menjadi sistem sekolah. Kedua, Ahmad Dahian telah memasukkan pelajaran umum kepada sekolah-sekolah agama atau madrasah. Ketiga, Ahmad Dahian telah mengadakan perubahan dalam metode pengajaran dan semula pengajaran sorogan kepada metode pengajaran yang lebih bervariasi[4]
     7. Pemikiran Pendidikan Islam Menurut Ibnu Majah
Ibnu Majah . berpendapat bahwa manusia itu tidak sanggup sampai kepada pengetahuan dan kehidupan bahagia yang dicitacitakannya kecuali dengan perbuatan-perbuatan yang timbul dari pemikiran yang cermat, dan dengan mengembangkan akal dengan bebas clan segala ikatap, perbuatan bebas menurut piihan sendiri itulah yang timbullah sesudah melalui pemikiran, dan penyelidikan perbuatan yang membuatnya, merasakan tujuan yang ditujunya.
Majah berkata : “Segala perbuatan tertentu yang terdapat
manusia, yakni yang menjadikan ia lain dan makhluk lain sebab sifat sifatnya yang istimewa maka itu disebut ikhtiar”.
       8. Pemikiran pendidikan Islam menurut Thnu Rusyd
Ibnu Rusyd meletakkan dasar - dasar ilmiah dalam pemikiran Islam dengan jalan mengembalikan segala sesuatu di alam ini kepada sebab-seoab yang dapat diterima oleh akal dan menjauhkan tafsiran tafsiran gaib.[5]


[1] Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hlm. 137-142.
[2] Murdi Djamal, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Depag Ri, 1984), hlm. 143.
[3] Abuddin, Nata Filsafar Pendidikan Islam I, Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997, hlm 161-178

[4] Ibid, hlm,182-200
[5] Prof, Dr, Hasan,  Langgulung, Beberapa Pemikiran tenking Pendidikar Islam,    Bandwg: PT. Al Ma’ruf 1980.

Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

About Me

My Photo

Knowledge is being aware of what you can do. Wisdom is knowing when not to do it.
 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template