Headlines News :
Home » » MAKALAH FILSAFAT ILMU PRAGMATISME META-ETIK

MAKALAH FILSAFAT ILMU PRAGMATISME META-ETIK

Written By Ahmad Multazam on Saturday, January 19, 2013 | 1:59 PM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم



PRAGMATISME META-ETIK
I.         Pendahuluan
Manusia selalu berusaha menemukan kebenaran. Beberapa cara ditempuh untuk memperoleh kebenaran, antara lain dengan menggunakan rasio seperti para rasionalis dan melalui pengalaman atau empiris. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia membuahkan prinsip-prinsip yang lewat penalaran rasional, kejadian-kejadian yang berlaku di alam itu dapat di mengerti. Ilmu pengetahuan harus dibedakan dari fenomena alam. Fenomena alam adalah fakta, kenyataan yang tunduk kepada hukum-hukum yang menyebabkan fenomena itu muncul.
Konsep kebenaran pragmatisme mula-mula dikemukakan oleh Charles Sandre Peirce pada tahun 1839. Dalam konsep tersebut ia menyatakan bahwa, sesuatu dikatakan berpengaruh bila memang memuat hasil yang praktis. Pada kesempatan yang lain ia juga menyatakan bahwa, pragmatisme sebenarnya bukan suatu filsafat, bukan metafisika, dan bukan teori kebenaran, melainkan suatu teknik untuk membantu manusia dalam memecahkan masalah. Dari pernyataan tersebut tampaknya Pierce ingin menegaskan bahwa, pragmatisme tidak hanya sekedar ilmu yang bersifat teori dan dipelajari hanya untuk berfilsafat serta mencari kebenaran belaka, juga bukan metafisika karena tidak pernah memikirkan hakekat dibalik realitas, tetapi konsep pragmatisme lebih cenderung pada tataran ilmu praktis untuk membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi manusia.
II.      Rumusan Masalah
A.    Apa pengertian pragmatisme?
B.     Bagaimana latar belakang munculnya pragmatisme?
C.     Bagaimana era dan para tokoh pragmatisme?
D.    Apa yang dimaksud pragmatisme metaetik?









III.   Pembahasan
A.  Pengertian Pragmatisme
Pragmatisme diambil dari kata Pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan. pragmatisme mula-mula diperkenalkan oleh Charles Sanders Peirce (1839-1914). Sebenarnya istilah pragmatisme lebih banyak berarti sebagai metode untuk memperjelas suatu konsep ketimbang sebagai suatu doktrin kefilsafatan.[1]
Istilah pragmatisme berasal dari kata Yunani "pragma" yang berarti perbuatan atau tindakan. "Isme" di sini sama artinya dengan isme-isme yang lainnya yaitu berarti aliran atau ajaran atau paham. Dengan demikian pragmatisme berarti: ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Kreteria kebenarannya adalah "faedah" atau "manfaat". Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Dengan kata lain, suatu teori adalah benar if it works ( apabila teori dapat diaplikasikan).
Pada awal perkembangannya, pragmatisme lebih merupakan suatu usaha-usaha untuk menyatukan ilmu pengetahuan dan filsafat agar filsafat dapat menjadi ilmiah dan berguna bagi kehidupan praktis manusia. Sehubungan dengan usaha tersebut, pragmatisme akhirnya berkembang menjadi suatu metoda untuk memecahkan berbagai perdebatan filosofis-metafisik yang tiada henti-hentinya, yang hampir mewarnai seluruh perkembangan dan perjalanan filsafat sejak zaman Yunani kuno (Guy W. Stroh: 1968).
Dalam usahanya untuk memcahkan masalah-masalah metafisik yang selalu menjadi pergunjingan berbagai filosofi tulah pragmatisme menemukan suatu metoda yang spesifik, yaitu dengan mencari konsekwensi praktis dari setiap konsep atau gagasan dan pendirian yang dianut masing-masing pihak.
Dalam perkembangannya lebih lanjut, metode tersebut diterapkan dalam setiap bidang kehidupan manusia. Karena pragmatisme adalah suatu filsafat tentang tindakan manusia, maka setiap bidang kehidupan manusia menjadi bidang penerapan dari filsafat yang satu ini. Dan karena metode yang dipakai sangat populer untuk di pakai dalam mengambil keputusan melakukan tindakan tertentu, karena menyangkut pengalaman manusia sendiri, filsafat inipun segera menjadi populer. Dan filsafat ini yang berkembang di Amerika pada abad ke-19 sekaligus menjadi filsafat khas Amerika dengan tokoh-tokohnya seperti Charles Sander Peirce, William James, dan John Dewey menjadi sebuah aliran pemikiran yang sangat mempengaruhi segala bidang kehidupan Amerika.
Namun filsafat inl akhirnya menjadi lebih terkenal sebagai suatu metode dalam mengambil keputusan melakukan tindakan tertentu atau yang menyangkut kebijaksanaan tertentu. Lebih dari itu, karena filsafat ini merupakan filsafat yang khas Amerika, ia dikenal sebagaimana suatu model pengambilan keputusan, model bertindak, dan model praktis Amerika.
Bagi kaum pragmatis, untuk mengambil tindakan tertentu, ada dua hal penting. Pertama, ide atau keyakinan yang mendasari keputusan yang harus diambil untuk melakukan tindakan tertentu. Dan yang kedua, tujuan dari tindakan itu sendiri. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan suatu paket tunggal dari metode bertindak yang pragmatis. Pertama-tama manusia memiliki ide atau keyakinan itu yang ingin direalisasikan.
Untuk merealisasikan ide atau keyakinan itu, manusia mengambil keputusan yang berisi: akan dilakukan tindakan tertentu sebagai realisasi ide atau keyakinan tadi. Dalam hal ini, sebagaimana diketahui oleh Peirce, tindakan tersebut tidak dapat diambil lepas dari tujuan tertentu. Dan tujuan itu tidak lain adalah hasil yang akan diperoleh dari tindakan itu sendiri, atau konsekwensi praktis dari adanya tindakan itu.
Apa yang dikatakan oleh Peirce tersebut merupakan prinsip pragmatis dalam arti yang sebenarnya. Pragmatisme dalam hal ini tidak lain adalah suatu metode untuk menentukan konsekwensi praktis dari suatu ide atau tindakan. Karena itulah pragmatisme diartikan sebagal suatu filsafat tentang tindakan. Itu berarti bahwa pragmatisme bukan merupakan suatu sistem filosofis yang siap pakai yang sekaligus memberikan jawaban terakhir atas masalah-masa1ah filosofis.[2]
B.   Latar Belakang Munculnya Pragmatisme
Kendati pragmatisme merupakan filsafat Amerika, metodenya bukanlah sesuatu yang sama sekali baru, Socrates sebenarnya ahli dalam hal ini, dan Aristoteles telah menggunakannya secara metodis John Locke (1632 - 1704), George Berkeley (1685 - 1753), dan Dayid Hume (1711 - 1776) mempunyai sumbangan yang sangat berarti dalam pemikiran pragmatis ini (Copleston, 1966: 342).
Dari segi historis, abad ke-19 di tandai dengan skeptisisme yang di tiupkan oleh teori evolusi Darwin. Nilai religius dan spiritual menjadi, dipertanyakan. Filsafat Unitarian, suatu aliran pemikiran yang hanya menerima ke Esaan, Tuhan yang bergantung pada argumen-argumen tentang teologi kodrati dan perwahyuan, lemah dalam membela diri terhadap evolusi onisme. Karena kaum ilmuan menerima teori evolusi Darwin, filosof-filosof Unitarian menjadi tenggelam. Lebih lagi karena keyakinan bahwa pemikiran mengenai proses seleksi dan evolusi alamiah berakhir dengan atheisme dan bahwa manusia hanya bisa membenarkan eksistensinya dengan agama, mereka tidak dapat mengintegrasikan hipotesis evolusi ke dalam keyakinan mereka (Bukhart, 1978: xiii).
Pada saat yang sama, suatu kelompok pemikir dari Harvard menemukan suatu jalan untuk menghadapi krisis teologi ini tanpa mengorbankan ajaran agama yang essensial. Kelompok ini melihat bahwa suatu interpretasi yang mekanistis tentang teori Darwin dapat menghancurkan agama dan dapat mengarah ke aliran ateisme yang fatalistis. Mereka khawatir bahwa interpretasi ini dapat berakhir dengan sikap yang pasif, apatis, bunuh diri dan semacamnya. Karena itu mereka menganjurkan agar evolusi Darwin dipahami secara lain. Dan karena filsafat Unitarian sendiri hampir mati, kelompok ini yang dikenal dengan "Perkumpulan Metafisika", menyusun prinsip-prinsip pragmatisme baik secara bersama maupun secara individual dalam menghadapi evolusi Darwin (Kuck-lick, 1979: xix).
Istilah pragamatisme sebenarnya diambil oleh C.S. Peirce dari Immanuel Kant. Kant sendiri memberi nama "keyakinan-keyakinan hipotesa tertentu yang mencakup penggunaan suatu sarana yang merupakan suatu kemungkinan real untuk mencapai tujuan tertentu”. Manusia memiliki keyakinan-keyakinan yang berguna tetapi hanya bersifat kemungkinan belaka, sebagaimana dimiliki oleh seorang dokter yang memberi resep untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Tetapi Kant baru melihat bahwa keyakinan-keyakinan pragmatis atau berguna seperti itu dapat di terapkan misalnya dalam penggunaan obat atau semacamnya.
la belum menyadari bahwa keyakinan seperti itu juga cocok untuk filsafat. Karen Peirce sangat tertarik untuk membuat filsafat dapat diuji secara ilmiah atau eksperiemntal, ia mengambil alih istilah pragmatisme untuk merancang suatu filsafat yang mau berpeling kepada konsekwensi praktis atau hasil eksperimental sebagai ujian bagi arti dan validitas idenya.
C.  Era Tokoh Pragmatisme
Perlu dijelaskan disini bahwa ada dua era pragmatisme. Era pertama adalah era positivistik dengan tokoh-tokohnya : Pierce 9105 (pragmatisme praktis), William james-1909 (pragmatisme fungsional) dan John Dewey (pragmatisme manfaat). Pragmatisme era pertama mati dengan banyak kritik antara lain dari Bertrand Russel 91939) dan Rudolph Carnap (1949).

1. Pragmatisme Era Pertama
a.  Idee Utama dan Keragaman Pragmatisme
Filsafat idealisme dan realisme sulit untuk bertemu. Pragmatisme mempertemukannya; bukan sebagai sintesa, dan bukan sebagai pendekatan baru, melainkan sekedar sebagai suatu core idee untuk mengaplikasikan pemikiran pragmatik. Meskipun demikian ada keragaman.
b. Teori Kebenaran Pragmatik
Teori kebenaran pragmatik akan lebih mudah difahami bila digunakan pernyataan Pierce berikut ini “Tidak ada beda makna dari sesuatu yang lebih daripada kemungkinan perbedaan praktik”. Itu bertentangan dengan pendapat Descartes yang rasionalis subyektif yang menyatakan bahwa sesuatu substansi itujelas karena subyek dapat melihat jelas tanpa harus obyek itu benar-benar jelas, adalah tuntutan para realist.
c.  Pragmatisme Sebagai Filsafat
Filsafat pragmatisme merupakan suatu metoda memfilosofikan makna teori. Selalu saja ada perbedaan dalam memberi makna pragmatisme antara Pierce, James, dan Dewey. Tetapi James mengakui Pierce sebagai penemu pragmatisme.
d. Instrumentalisme
Dalam sosiologi kaum instrumentalist mendudukkan hukum bukan sebagai sesuatu yang normatif, melainkan sebagai instrumen untuk mencapai sesuatu, mirip dengan Dewey, ends menjadi means pada tahap berikutnya.
George Berkeley adalah instrumentalist dalam hukum mekanika. Berkeley mengkritik konsep : daya tarik, daya kohesi, dan daya campur sebagai konsep yang menyesatkan, dan Berkeley menggantinya dengan hukum sesuatu benda akan bergerak dengan cara dan dalam kondisi tertentu.
e.  Praxis dalam Komparasi
Muara pragmatisme adalah Praxis, Filsofik dapat dibandingkan tiga konsep : pertama, teori terapan, kedua, rekayasa dan tekhnologi, dan ketiga, praxis.
1)      Teori Terapan
2)      Rekayasa dan teknologi
3)      Paxis
2.      Pragmatisme Era Kedua
Pragmatisme era kedua juga disebut pragmatisme metaethik. Para profesional seperti dokter, hakim dan lainnya memerlukan acuan etika profesional untuk membuat keputusan bertindak. Tuntutan ini dirasakan perlunya sejak tahun 1970an.
a.       Pragmatisme Richard Rorty
Rorty mendapat pengaruh Thomas Kuhn dalam pendekatan sosial politik. Quine mendapat pengaruh Kuhn untuk mengembangkan natural science, sedangkan Rorty mendapat pengaruh Kuhn untuk mengembangkan social sciences. Pragmatisme Rorty tidak melandaskan pada pragmatisme positivistik yang Platonik, melainkan melandaskan pada Hegelian.
b.       Applied Ethics
Applied ethics merupakan aplikasi teori moral untuk membuat keputusan moral tentang tindakan praktis tertentu yang menyangkut kebijakan profesional dan membuat keputusan teknologik.
c.       Etika Pragmatik
Tentang etika bagi tekhnologi, baik dalam makna etika rekayasa tekhnologi maupun rekayasa sosial, serta etika pengembangan ilmu pengetahuan, tekhnologi, dan eksperimentasi.


[1] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati sejak Thales Sampai Capra,( Bandung : PT. Remaja Rosdakarya Offset), hlm.190-191
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

About Me

My Photo

Knowledge is being aware of what you can do. Wisdom is knowing when not to do it.
 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template