Headlines News :
Home » , » MAKALAH OLAHRAGA ANAK USIA DINI

MAKALAH OLAHRAGA ANAK USIA DINI

Written By Ahmad Multazam on Thursday, December 20, 2012 | 9:57 PM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


       I.            I. PENDAHULUAN
Usia dini merupakan kesempatan emas bagi anak untuk belajar, sehingga disebut usia emas (golden age). Pada usia ini anak memiliki kemampuan untuk belajar yang luar biasa khususnya pada masa kanak-kanak awal. Mengingat usia dini merupakan usia emas maka pada masa itu perkembangan anak harus dioptimalkan. Perkembangan anak usia dini sifatnya holistik, yaitu dapat berkembang optimal apabila sehat badannya, cukup gizinya dan didik secara baik dan benar. Anak berkembang dari berbagai aspek yaitu berkembang fisiknya, baik motorik kasar maupun halus, berkembang aspek kognitif, aspek sosial dan emosional.
Perkembangan motorik kasar merupakan hal yang sangat penting bagi anak usia dini khususnya anak kelompok bermain/KB dan taman kanakkanak/ TK. Sebenarnya anggapan bahwa perkembangan motorik kasar akan berkembang dengan secara otomatis dengan bertambahnya usia anak, merupakan anggapan yang keliru. Perkembangan motorik kasar pada anak perlu adanya bantuan dari para pendidik di lembaga pendidikan usia dini yaitu dari sisi apa yang dibantu, bagaimana membantu yang tepat/appropriate, bagaimana jenis latihan yang aman bagi anak sesuai dengan tahapan usia dan bagaimana kegiatan fisik motorik kasar yang menyenangkan anak.[1]
Kemampuan melakukan gerakan dan tindakan fisik untuk seorang anak terkait dengan rasa percaya diri dan pembentukan konsep diri. Oleh karena itu perkembangan motorik kasar sama pentingnya dengan aspek perkembangan yang lain untuk anak usia dini. Kurikulum Pendidikan Taman Kanak-kanak meliputi enam aspek perkembangan yakni moral dan nilai-nilai agama, sosial - emosional dan kemandirian, kemampuan berbahasa, kognitif, fisik/motorik dan seni. Taman kanak-kanak merupakan salah satu bentuk program pendidikan anak usia dini. TK bukanlah jenjang pendidikan wajib diikuti, namun memberikan manfaat bagi penyiapan anak untuk masuk SD.
 Pada umumnya pembelajaran di TK untuk aspek perkembangan fisik/motoriknya lebih banyak difokuskan ke perkembangan motorik halus, sedangkan motorik kasar kurang diperhatikan. Padahal pengembangan motorik kasar anak usia dini juga memerlukan bimbingan dari pendidik. Perkembangan motorik kasar untuk anak usia TK antara lain melempar dan menangkap bola,  berjalan di atas papan titian (keseimbangan tubuh), berjalan dengan berbagai variasi (maju mundur di atas satu garis), memanjat dan bergelantungan (berayun), melompati parit atau guling, dan sebagainya. Seyogyanya gerakan-gerakan motorik kasar ini dipraktekkan oleh anak-anak TK di bawah bimbingan dan pengawasan pendidik/guru, sehingga diharapkan semua aspek perkembangan dapat berkembang secara optimal.
Pengembangan motorik kasar sama pentingnya dengan aspek-aspek perkembangan lainnya, karena ketidakmampuan anak melakukan kegiatan fisik akan membuat anak kurang percaya diri, bahkan menimbulkan konsep diri negatif dalam kegiatan fisik. Padahal jika anak dibantu oleh pendidik, besar peluangnya dapat mengatasi ketidakmampuan tersebut dan menjadi lebih percaya diri.
    II.            II. RUMUSAN MASALAH
A.    Konsep Dasar,Nilai-Nilai, dan Falsafah Olahraga Bagi Anak Usia Dini
B.      Aspek Pertumbuhan dan Perkembangan
C.     Keterampilan Dasar Atletik, Senam, Permainan, dan Renang
D.    Aplikasi Model-Model Pembelajaran Pendidikan Jasmani
E.     Evaluasi Kuantitatif dan Kualitatif
F.      Pengembangan Cabang Olahraga Sesuai Minat dan Bakat Anak Usia Dini
                      III. PEMBAHASAN
A.    Konsep Dasar, Nilai-Nilai dan Dasar Falsafah  Olahraga  Bagi Anak Usia Dini
Dalam olahraga usia dini, target yang harus dicapai anak adalah menerapkan sebaik mungkin keterampilan dan kemampuan yang sudah dilatih ke dalam pertandingan. Adalah besarnya usaha dan peningkatan pribadi yang seharusnya dihargai dan menjadi target bagi setiap anak, bukannya semata-mata mencapai kemenangan dalam pertandingan. Tujuan melibatkan anak dalam aktivitas olahraga adalah sebagai pengenalan pengalaman berolahraga, meningkatkan ketrampilan fisik, membangun kepercayaan diri.[2]
Dalam masa ini, yang diperlukan anak adalah kegembiraan dalam melakukan latihan olahraga. Oleh karena itu pelatihnya tidak perlu menekankan pada penguasaan teknik atau peraturan pertandingan. Pujian atau hadiah diberikan kepada usaha yang dilakukan anak, bukan terhadap hasil akhir. Disini perlu ditanamkan perasaan “mencapai sukses” bukan hanya sebagai juara, tetapi juga sebagai partisipan. Oleh karena itu, penting sekali di masa awal ini setiap partisipan dalam suatu kejuaraan bisa mendapatkan penghargaan. Persiapan mental dalam menghadapi pertandingan juga merupakan hal yang perlu diperhatikan. Utamanya anak perlu dibiasakan berfikir positif, diberi keyakinan bahwa dalam pertandingan nanti dirinya mampu menampilkan keterampilan yang telah dilatihnya.
Idealnya, sesuai dengan pandangan hidup (filsafat) dan konsep pendidikan jasmani yang kita anut, pembinaan olahraga usia dini itu diarahkan pada pengenalan dan penguasaan keterampilan dasar suatu cabang olahraga yang dilengkapi dengan pengembangan keterampilan serta kemampuan fisik yang bersifat umum. Sementara itu, dalam konteks pendidikan jasmani, seperti pada kelas-kelas awal, penekanannya pada pengembangan keterampilan gerak secara menyeluruh.
Dari naluri mendidiknya Ki Hajar Dewantara, mengatakan beliau sangat menyakini bahwa suasana pendidikan yang baik dan tepat adalah dalam suasana kekeluargaan dan dengan prinsip asih(mengasihi), asah(memahirkan), dan asuh(membimbing). Tiga aspek tersebut akan memberi corak bagi seorang anak terhadap prilaku (behavior), sikap (attitude) dan nilai (velue). Seperti halnya teori Karl Groos, Yang teorinya bernama teori biologis mengatakan “ Anak-anak bermain oleh karena anak-anak harus mempersiapkan diri dengan tenaga dan pikirannya untuk masa depanya. Seperti halnya dengan anak-anak binatang, yang bermain sebagai latihan mencari nafkah, maka anak manusia pun bermain untuk melatih organ-organ jasmani dan rohaninya untuk menghadapi masa depanya
Dilihat dari aspek biologis, olahraga anak usia dini masih dalam taraf mengembangkan aspek-aspek kebugaran jasmani ( menguatkan jantung, tulang dan otot ) serta merangsang tumbuh kembang anak secara optimal. Olahraga anak usia dini selayaknya dikemas menjadi suatu permainan olahraga yang selain mengembangkan aspek-aspek tersebut juga mengembangkan aspek psikososial, yaitu mengembangkan nilai-nilai diri anak secara positif, menuju pembangunan karakter yang sportif, dinamis, kreatif, penuh  toleransi, jujur, dan bertanggung jawab.[3]
Konsep “Nation and Character Building” melalui Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan sebagai konsep dasar pembentukan karakter anak bertumpu pada pemberdayaan anak melalui jalur pendidikan atau kegiatan olahraga disekolah.
Pembentukan karakter dalam pembelajaran penjasorkes ini antara lain :
    · Pembentukan fisik yang sehat, bugar, tangguh, unggul dan berdaya saing
    · Pembentukan mental berupa sportifitas, demokratis, toleran dan disiplin
    · Pembentukan moral menjadi lebih tanggap, peka, jujur dan tulus
    · Pembentukan kemampuan social, yaitu mampu bersaing, bekerjasama, berdisiplin, bersahabat, dan berkebangsaan[4]
Ahli kesehatan sepakat bahwa olahraga dapat meningkatkan kebugaran jasmani yang ditandai dengan meningkatnya fungsi jantung, pembuluh darah, sirkulasi darah, sistem pernafasan dan proses metabolisme, serta kemampuan tubuh untuk menangkal bermacam- macam penyakit baik yang disebabkan oleh infeksi maupun bukan karena infeksi. Olahraga juga dapat mengurangi gejala gangguan psikis, misalnya tekanan jiwa (stress) dan ketegangan jiwa (anxiety). Dengan melakukan aktivitas olahraga yang menantang, apabila seseorang mampu mengatasi tantangan tersebut, akan muncul suatu kepuasan, dan rasa puas ini akan mengurangi ketegangan jiwa.
Anak usia dini sebagai warga negara dan calon generasi penerus bangsa juga berhak mendapatkan pelayanan olahraga yang memadai sebagai sarana tumbuh kembang demi kesempurnaan perkembangan dan pertumbuhannya. Pemenuhan kebutuhan akan kegiatan olahraga bagi anak prasekolah maupun saat sekolah melalui pemberian Pelajaran Penjasorkes. Hal ini berguna demi pertumbuhan dan perkembangan organ- organ tubuh tersebut secara baik dan optimal. Kondisi jasmani yang baik merupakan modal utama untuk me ngembangkan potensi diri yang lain. Dapat dibayangkan apa jadinya apabila seorang anak mengalami gangguan fungsi organ tubuh misalnya jantung, paru-paru, atau organ tubuh yang lain, tentu saja anak-anak tersebut akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan otak. Penjasorkes (physical education) memberikan kebutuhan gerak bagi anak prasekolah dan saat sekolah. Aktivitas olahraga sangat penting bagi anak-anak karena mempunyai banyak manfaat di antaranya adalah untuk memacu pertumbuhan dan perkembangan organorgan tubuh termasuk juga otak, meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit (imun), mempunyai fungsi rehabilitasi atau menormalkan kecacatan.
Anak-anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan otak, maka organ tubuh ini tidak akan dapat berfungsi secara baik. Otak berfungsi sebagai pusat segala koordinasi organ tubuh, dan juga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan organ tubuh manusia lainnya, sehingga apabila terjadi gangguan pada otak, maka kecerdasan menjadi lemah, bahkan dapat mengalami keterlambatan mental.
Berikut ini  kajian tentang kepelatihan anak usia dini yang diperlukan oleh para pelatih untuk menangani atlet usia dini, yaitu mengenai:
1. Mempersiapkan untuk melatih anak usia dini secara efektif;
2. Pemahaman pelatih bahwa pelatihan untuk anak usia dini bertujuan untuk:
     (a) memperoleh kesenangan;
     (b) persahabatan atau memperoleh teman baru;
     (c) perasaan nyaman; dan
     (d) belajar keterampilan baru.
     Tujuan tersebut dapat dicapai, jika aktivitas olahraga sesuai dan disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan anak.
3. Memberi gambaran tentang macam olahraga untuk anak-anak
4. Memodifikasi olahraga.[5]
B.     Aspek Pertumbuhan dan Perkembangan Jasmani
Pertumbuhan dan perkembangan memiliki pengertian yang berbeda. Pertumbuhan mempunyai pengertian bertambahnya volume/ukuran organ tubuh, sedang perkembangan adalah semakin meningkatnya fungsi organ-organ tubuh. Pengalaman yang diperoleh masa kanak-kanak tidak akan hilang dan akan berpengaruh terhadap tingkah laku saat usia telah dewasa. Sebagai contoh, anak yang dilatih belajar keras sejak kecil, gigih meraih
cita-cita, nanti setelah dewasa akan menjadi orang yang gigih, ulet, dan menjadi pekerja keras. Demikian juga sebaliknya, masa anak-anak dididik dengan kemanjaan, segalanya serba mudah dan enak, maka setelah dewasa sulit menjadi orang yang mandiri dan selalu bergantung pada orang lain. Menurut Eliyawati (2005:18), karakteristik anak usia dini yang menonjol dalam kaitannya dengan aktifitas belajar di antaranya adalah bersifat unik, egosentris, aktif dan energik, eksploratif dan berjiwa bertualang, ekspresi perilakunya relatif spontan, kaya dan senang dengan fantasi/daya kayal, mudah frustasi, kurang pertimbangan, daya perhatiannya pendek, gairah untuk belajar dan banyak belajar dari pengalaman dan semakin menunjukkan minat terhadap teman.[6]
Usia terbaik untuk melakukan stimulasi pada anak adalah sedini mungkin. Hasil yang optimal akan didapat bila anak sudah diberikan rangsangan tumbuh kembang saat ia masih di dalam kandungan usia 4 bulan dan setelah lahir hingga ia berusia 6 tahun. Namun pemberian rangsangan tumbuh kembang perlu dilanjutkan setelah anak berusia 6 tahun hingga usia 8 tahun. Tumbuh kembang menekankan pada 4 aspek kemampuan dasar anak yang perlu mendapatkan rangsangan yaitu: kemampuan gerak kasar, kemampuan gerak halus, kemampuan bicara dan berbahasa, serta kemampuan bersosialisasi (berinteraksi) dan kemandirian.
Perkembangan kemampuan fisik pada anak kecil bisa diidentifikasikan dalam beberapa hal. Sifat-sifat perkembangan fisik yang dapat diamati adalah sebagai berikut:
1. Terjadi perkembangan otot-otot besar cukup cepat pada 2 tahun terakhir masa anak kecil. Hal ini memungkinkan anak melakukan berbagai gerakan yang lebih leluasa yang kemudian bisa dilakukannya bermacam-macam ketrampilan gerak dasar. Beberapa macam gerak dasar misalnya: berlari, meloncat, berjengket, melempar, menangkap, dan memukul berkembang secara bersamaan tetapi dengan irama perkembangan yang berlainan. Ada yang lebih cepat dikuasai dan ada yang baru dikuasai kemudian.
2. Dengan berkembangnya otot-otot besar, terjadi pulalah perkembangan kekuatan yang cukup cepat, baik pada anak laki-laki maupun perempuan. Antara usia 3 sampai 6 tahun terjadi peningkatan kekuatan sampai mencapai lebih kurang 65%.
3. Pertumbuhan kaki dan tangan secara proporsional lebih cepat dibanding pertumbuhan bagian tubuh yang lain, menghasilkan peningkatan daya ungkit yang lebih besar di dalam melakukan gerakan yang melibatkan tangan dan kaki. Daya ungkit yang makin besar akan meningkatkan kecepatan dalam bergerak. Hal ini sangat menunjang terbentuknya bermacam-macam ketrampilan gerak dasar.
4. Terjadi peningkatan koordinasi gerak dan keseimbangan tubuh yang cukup cepat. Koordinasi gerak yang meningkat dan disertai dengan daya ungkit kaki dan tangan yang makin besar, menjadikan anak makin mampu menggunakan kekuatannya di dalam melakukan aktivitas fisik. Sedangkan meningkatnya keseimbangan tubuh meningkatkan pula keleluasaan rentangan gerak dalam melakukan gerakan ketrampilan.
5. Meningkatnya kemungkinan dan kesempatan melakukan berbagai macam aktivitas gerak fisik bisa merangsang perkembangan pengenalan konsepkonsep dasar objek, ruang, gaya, waktu dan sebab-akibat. Melalui gerakan fisik anak kecil mulai mengenali konsep dasar objek yang berada di luar dirinya.[7]
C.     Keterampilan Dasar Atletik, Permainan, Senam , dan Renang
Atletik adalah suatu cabang olah raga yang meliputi nomor-nomor jalan, lari, lompat dan lempar. Anak-anak didalam kehidupannya hampir dari sebagian waktunya dihabiskan untuk bermain, dengan melakukan berbagai bentuk gerakan berjalan, berlari, melompat, dan melempar. Anak dikelas permulaan Sekolah Dasar (SD) akan merasa senang bila mendapatkan pelajaran yang telah diketahui sebelumnya seperti lari dan bermain, mereka akan lebih tertarik dan terampil di dalam melakukannya. Oleh karena itu bentuk-bentuk gerakan dasar atletik perlu ditanamkan kepada anak-anak kelas permulaan SD. Anak-anak dapat mengembangkan dan meningkatkan kemampuan keterampilan gerakan dasar atletik tersebut. Karena itu kepada anak-anak perlu ditanamkan, berbagai cara melakukan gerakan dasar atletik yang benar seperti gerakan jalan, lari dan lompat. 

Setiap anak menyukai air. Mereka umumnya gemar bermain air saat dimandikan di kamar mandi, di kolam renang, di tepian air terjun, bahkan di pantai. Oleh sebab itu, penting mengajari anak untuk lebih mengenal air sejak dini agar terhindar dari bencana.
Secara alamiah anak memang tertarik pada air, terutama dalam hamparan yang luas seperti kolam renang dan laut. Namun, menurut seorang instruktur renang, reaksi anak terhadap air sangatlah berbeda-beda, bergantung pada usianya.
Saat mereka masih kecil, mereka masih takut membenamkan diri lebih dalam di air. Mereka umumnya lebih senang bermain di air hanya sebatas mata kaki saja. Sebenarnya, ketika anak telah berusia dua tahun, orangtua dapat mulai melatih mereka berenang. Caranya, bawa mereka ke kolam dan pegang badannya sehingga mereka bisa menendang atau memukul-mukul air dengan tangan dan kakinya.
Dan ketika anak tersebut telah memasuki usia empat tahun dan telah cukup familiar dengan air, mereka bisa belajar menahan dan mengatur napas serta mengambang, misalnya olahraga air maupun belajar menyelam. Dengan demikian, ketika memasuki usia enam tahun, sudah siap untuk belajar berenang/kursus menyelam secara formal, semisal scuba diving, atau teknik menyelam yang benar
Kolam renang merupakan tempat yang paling baik bagi pemula yang ingin belajar renang. Sebab, di tempat itu tidak ditemui elemen yang bisa membahayakan seperti lubang yang dalam, arus air yang deras, atau batu-batuan yang tajam.
Alasan utama terjadinya kecelakaan di air adalah panik. Situasi seperti ini pasti dialami siapa pun yang tidak menguasai ilmu renang atau minim belajar diving, kurang mengenal olahraga air. Menit-menit pertama menyadari kakinya tidak menyentuh permukaan, mereka langsung lupa bahwa tubuh manusia itu dapat mengambang dengan sendirinya di atas air dalam keadaan santai.
Berenang adalah satu keahlian yang paling penting yang dapat ditanamkan pada anak sejak kecil. Orangtua yang tidak bisa renang atau takut terhadap air harus dapat mengatasi emosinya saat mendampingi anak belajar berenang maupun kursus menyelam. Jika tidak, hal tersebut dapat berpengaruh negatif terhadap anak sehingga mereka pun merasa cemas pula saat belajar menyelam.[8]
Seifert, Hoffnung (1987:322) menyatakan bahwa bermain adalah dunia anak-anak yang berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang. Pada usia enam tahun, kemampuan motoriknya sudah mulai berkembang lebih kompleks, yaitu dapat berjalan dengan berbagai variasi kecepatan, loncat, menggeser, memanjat, memindahkan sesuatu dengan tepat, berdiri satu kaki, menangkap bola, dan menggambar sesuatu, maka latihan yang sesuai dengan
ketrampilan tersebut dapat dilakukan.
Senam merupakan salah satu kegiatan yang dapat merangsang perkembangan fisik motorik anak usia dini. Senam dengan diiringi musik dan lagu menjadikan kecerdasan musik anak pun turut terbina.
Disisi lain, melalui kegiatan senam PAUD ceria diharapkan kecerdasan majemuk yang dimiliki anak dapat berkembang pula, dengan demikian anak-anak yang sehat, cerdas, ceria dan berakhlak mulia dapat diwujudkan. Disamping untuk mengembangkan potensi anak, dengan membiasakan anak-anak untuk berolah raga (senam) sejak dini, diharapkan nantinya anak-anak gemar berolah raga, mengingat olah raga merupakan salah hal yang sangat penting untuk menjaga kebugaran tubuh.
Aktivitas olahraga yang baik untuk anak usia dini mempunyai karakteristik (1) memberi bermacam-macam pengalaman gerak (multilateral training) dalam bentuk permainan dan perlombaan; (2) merangsang perkembangan seluruh panca indra; (3) mengembangkan imajinasi/fantasi; dan (4) bergerak mengikuti irama/lagu atau cerita. Namun demikian, dari karakteristik olahraga untuk anak usia dini tersebut diusahakan dikemas dalam bentuk permainan/perlombaan agar anak marasa tertarik dan mendapatkan kesenangan. [9]
D.     Aplikasi Model-Model Pembelajaran Pendidikan Jasmani
Dengan aktif bergerak mengikuti permainan itu kebugaran jasmani akan meningkat. Pengertian dari memberikan pengalaman gerak yang bermacam-macam (multilateral training) adalah anak-anak diberi kesempatan mengalami berbagai macam pengalaman gerak yang berbeda- beda, misalnya: memanjat, merangkak, merayap, mengguling, meluncur, melompat, menggantung, bermain di air, menarik, mendorong, berjalan dengan tangan, dan sebagainya. Pengalaman gerak yang bermacam-macan ini dapat menggunakan alat maupun di alam terbuka.
Contoh latihan keseimbangan di alam terbuka adalah dengan cara melakukan gerak berjalan/berlari di pematang sawah, berjalan di atas jembatan bambu , latihan berjalan di ketinggian tertentu, dan sebagainya. Latihan memanjat dilakukan dengan cara memanjat pohon mangga, memanjat pohon jambu, memanjat tangga, memanjat tali, memanjat pagar, memanjat dinding/tebing, dan sebagainya.
Demikian juga keterampilan gerak yang lain, seperti tersebut di atas dapat dilatih dengan menggunakan alat maupun di alam terbuka. Penting untuk diperhatikan bagi pendidik/orang tua jangan terlalu banyak melarang kebebasan bermain anak-anak ini karena alasan kasih sayang atau perlindungan terhadap anak. Apabila larangan ini sering dilakukan maka anak-anak akan mengalami kekurangan pengalaman gerak, padahal pengalaman gerak pada masa anakanak (childhood) akan sangat besar pengaruhnya terhadap keterampilan gerak pada masa dewasa (adulthood). Dalam kehidupan orang dewasa kadang- kadang manusia dihadapkan pada tuntutan gerak yang bermacam-macam dengan tingkat kesulitan yang berbeda- beda. Anak-anak yang mempunyai pengalaman gerak yang banyak akan lebih cepat menyesuaikan diri dengan tuntutan gerak baru yang harus dilakukan.
 Aktivitas olahraga untuk mengembangkan fungsi panca indera di antaranya adalah: [10]
(1) indera penglihatan, dengan permainan hijau-hitam, permainan pengemudi jenius menggunakan alat bantu berbagai macam bendera yang berbeda-beda warna, permainan pengemudi jenius dengan alat bantu bermacam- macam benda yang berbeda-beda bentuk, dan sebagainya, dan setiap warna/bentuk mempunyai tugas gerak yang berbeda pula;
(2) indera pendengaran, dengan permainan Si Buta mencari anak, bermain sepak bola dengan bola dapat berbunyi dengan mata tertutup, permainan informasi bersambung/ estafet, dan sebagainya;
(3) indera penciuman, dengan permainan Penciuman Ajaib mempergunakan alat bantu berupa berbagai macam benda dengan aroma yang berbeda-beda, dan setiap aroma mempunyai tugas gerak
yang berbeda;
         (4) indera peraba, dengan permainan pembebasan sandera yakni dengan berbagai macam jenis sentuhan pada bagian tubuh yang berbeda- beda, dan setiap jenis sentuhan mempunyai tugas gerak yang berbeda pula;
         (5) indera perasa, dengan permainan Lidah Sakti, yakni dengan mempergunakan alat bantu bermacam-macam makanan yang memiliki rasa yang berbeda-beda, dan setiap rasa mempunyai tugas gerak yang berbeda pula.
Guru Penjasorkes harus pandai berkreasi membuat permainan untuk tujuan mengembangkan panca indera. Hal ini penting karena indera adalah ujung tobak seseorang dalam menerima rangsang (stimulus), kesalahan memahami rangsangan maka akan salah juga dalam memberi tanggapan (respon). Aktivitas olahraga untuk mengembangkan fantasi/imajinasi, misalnya dengan lomba lari estafet membentuk gambar tertentu dengan puzzel, menggambar dengan cara estafet, lomba lari estafet dengan membentuk bentuk tertentu, misalnya rumah, meja, sandaran papan tulis dengan alat bantu potongan pipa atau potongan balok, dan sebagainya.
Aktivitas olahraga untuk mengembangkan imajinasi dapat juga berupa menirukan gerak hewan, alam, dan benda mati lainnya misalnya: permainan menjadi patung, musang memburu anak ayam, menjala ikan, perubahan wujud benda, permainan tanggap bencana, dan lain-lain.
Aktivitas olahraga dengan mengikuti irama/lagu, di antaranya adalah dengan menyanyikan lagu “Naik-naik kepuncak gunung” siswa melakukan gerak seperti yang terdapat dalam lirik lagu misalnya lirik ‘naik-naik’ siswa melangkah dengan angkatan paha tinggi, guru dapat membubuhi dengan cerita di depan ada parit mari melompat, jalan jinjit, dan sebagainya. Lagu ‘pergi ke hutan’ setelah menyebut nama hewan tertentu misalnya kera, setelah sampai lirik “beginilah jalannya, beginilah jalannya” maka siswa melakukan gerakan seperti gerak binatang kera, guru dapat menambah dengan cerita untuk menambah tugas gerak yang harus dilakukan siswa. [11]
Untuk pembelajaran aktivitas olahraga dengan metode ini guru dituntut untuk kaya akan imajinasi dan pandai membuat cerita menarik agar siswa mau melakukan tugas gerak tanpa keterpaksaan.
E.     Evaluasi Kuantitatif dan Kualitatif
             Evaluasi gerak  ini bertujuan untuk memberi makna dari hasil yang telah  diraih  oleh individu.  Dalam  mengevaluasi  keterampilan  individu, nampaknya  tidak harus selalu diberikan dalam bentuk kuantitatif  (angka) semata,  tetapi  dapat  juga  diberikan  dalam  bentuk  uraikan (kualitatif).  Hal  ini dilakukan  apabila  angka  yang muncul  dalam  penilaian  akan  berdampak psikologis  yang  dapat  membuat  individu  menjadi  tidak  menyukai perlakuan  yang  diberikan  oleh  evaluator  (orang  yang  mengevaluasi). Maka  dari  itu  pelaksanaan  evaluasi  harus  bersifat  fleksibel  dan  akan selalu  bergantung  pada  kebutuhan  pengambil  keputusan.  Khususnya untuk  mengevaluasi  anak  usia  dini,  pendekatan  kualitatif  lebih  tepat dilakukan agar hasilnya tidak mengganggu pada proses pertumbuhan dan perkembangannya  ke  depan.  Karena  disinyalir  kondisi  mereka  lebih sensitif  dalam  setiap  langkahnya,  untuk  itu  perlu  kehati-hatian  dalam mengambil sebuah keputusannya. Hal-hal  yang  perlu  diperhatikan  dalam melakukan  evaluasi  gerak adalah  proses  dan  hasil.  Proses  artinya  kegiatan  yang  berhubungan dengan upaya interaksi anak dengan guru, orang tua, atau lingkungannya. Sedangkan  hasil  adalah  sesuatu  yang  dicapai  anak  setelah  proses   6.5 pembelajaran berakhir. Jadi pada dasarnya  tujuan evaluasi adalah untuk menghasilkan  informasi  yang  diperlukan  dalam  menjawab  berbagai persoalan  yang  sedang  dihadapi  termasuk  dalam  hal  perkembangan motorik.
Prinsip-prinsip Evaluasi 
Pelaksanaan evaluasi pada anak usia dini berbeda dengan evaluasi yang  dilakukan  pada  ramaja,  orang  dewasa  maupun  orang  tua.  Ada beberapa  prinsip  dasar  yang  harus  diperhatikan  dalam  mengevaluasi perkembangan motorik pada anak usia dini, yaitu:[12]
a.  Menyeluruh  artinya  tidak  dilakukan  secara  terpisah  dengan  proses pelatihannya.  Mengingat  evaluasi  tersebut  lebih  banyak  menilai proses  perbuatan  anak  dan  hasil  perbuatan  anak  yang  pada umumnya  tidak dapat dilakukan dengan  tes  tertulis (paper and pencil test).
b.  Berkesinambungan  artinya  harus  dilakukan  secara  terencana, bertahap,  dan  terus-menerus.  Hal  ini  dilakukan  agar  informasi  yang diperoleh betul-betul berasal dari gambaran perkembangan hasil dari proses pembelajaran perkembangan gerak pada Anak usia dini. 
c.  Berorientasi  pada  tujuan  artinya  dalam  menetapkan  indikator  harus menggunakan  acuan  standar. Guru,  orang  tua,  atau  pembina  dapat menilai  hasil  kegiatan  anak  melalui  indikator  yang  terwujud  dalam perilaku dan kemampuan tersebut.
d.  Obyektif artinya penilaian dilakukan sesuai dengan kriteria yang  telah ditetapkan. Prasangka, keinginan, serta perasaan tertentu tidak boleh mempengaruhi penilaian yang dilakukan.
e.  Mendidik  artinya  penilaian  ini  dapat  digunakan  untuk  membina  dan memberikan dorongan kepada semua anak dalam meningkatkan hasil pertumbuhan dan perkembangannya.   6.6
f.  Kebermaknaan  artinya  hasil  penilaian  harus  memiliki  arti  baik  bagi orang  tua, guru, pembina, maupun anak sendiri atau pihak  lain yang memerlukannya.
F.      Pengembangan Cabang Olahraga Sesuai Bakat Minat Anak Usia Dini
Setelah anak berusia 5 tahun, mereka mulai dapat dikenalkan dengan jenis olahraga permainan yang lebih kompleks, yang melibatkan kerjasama dan kompetisi. Namun perlu diperhatikan disini, kompetisi dimaksud haruslah tetap berada dalam konteks bermain. Untuk mulai menerapkan olahraga yang memiliki aturan formal, sebaiknya tunggu sampai anak berusia 8 atau 9 tahun. Dalam olahraga kompetitif, pemain bukan hanya berusaha mencapai targetnya tapi juga berusaha mencegah lawan mencapai target mereka. Hal ini melibatkan konflik langsung yang seringkali diikuti dengan agresivitas dalam usahanya mencegah lawan mencapai sukses.[13]
Dalam olahraga usia dini, target yang harus dicapai anak adalah menerapkan sebaik mungkin keterampilan dan kemampuan yang sudah dilatih ke dalam pertandingan. Adalah besarnya usaha dan peningkatan pribadi yang seharusnya dihargai dan menjadi target bagi setiap anak, bukannya semata-mata mencapai kemenangan dalam pertandingan. Dalam masa ini, yang diperlukan anak adalah kegembiraan dalam melakukan latihan olahraga. Setelah mereka beranjak dewasa baru lah diberikan latihan-latihan sesuai dengan proporsinya. Peranan Olahraga usia dini sebagai pembentuk dasar dalam membina atlit usia lanjut, dan diharapkan dapat meningkatkan prestasi Olahraga Nasional maupun Internasional.


[1] Hibana S. Sahman, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini,( Yogyakarta: PGTKI Press, 2002), hlm. 10.
[2] Ibid. hlm. 21.
[3] Ma,mun, Amung dan Saputra, Yudha M. 2000. Perkembangan Gerak dan Belajar Gerak.( Jakarta: Ditjen Pendidikan dasar dan Menengah)
[4] Zulkifli, L,Psikologi Perkembangan,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 47.
[5] http://penjaskes-pendidikanjasmanikesehatan.blogspot.com/2010/12/peranan-olahraga-usia-dini.html
[6] Masitoh, dkk, Pendekatan Belajar Aktif di Taman Kanak-Kanak,( Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2005 ), hlm. 29.
[7] Zulkifli , Model Pengembangan Motorik Anak Prasekolah,( Jakarta: Ditjen Olahraga Depdiknas,2002)
[8] Hurlock, Elizabeth B, Perkembangan Anak Jilid I,(Jakarta: Erlangga, 1998), hlm. 68.
[9] Zulkifli. Model Pengembangan Motorik Anak Prasekolah, (Jakarta: Ditjen Olahraga Depdiknas, 2002)
[10] Soetjiningsih, Tumbuh Kembang Anak, (Jakarta: Penerbit Buku KedokteranEGC, 1995)hlm. 71.
[11] Sugiyanto dan Sudjarwo, Perkembangan dan Belajar Gerak (Jakarta:Departemen Pendidikan dan kebudayaan, 1992), hlm. 104.
[12] Sugiyanto,  Perkembangan  dan  Belajar  Motorik, ( Jakarta:  Universitas Terbuka, 2005), hlm. 98.
[13]  www.koni.or.id/.../2.%20Pembinaan%20Mental%20Atlit%20usia%20dini%20
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

About Me

My Photo

Knowledge is being aware of what you can do. Wisdom is knowing when not to do it.
 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template