Headlines News :
Home » » MAKALAH METODOLOGI PENGEMBANGAN MOTORIK HALUS

MAKALAH METODOLOGI PENGEMBANGAN MOTORIK HALUS

Written By Ahmad Multazam on Thursday, December 20, 2012 | 9:17 PM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


I.     Pendahuluan
Pendidikan pada usia dini pada dasarnya meliputi seluruh upaya dan tindakan yang dilakukan oleh pendidik dan orang tua dalam proses perawatan, pengasuhan dan pendidikan pada anak dengan menciptakan aura dan lingkungan dimana anak dapat mengeksplorasi pengalaman yang memberikan kesempatan kepadanya untuk mengetahui pengalaman belajar yang diperolehnya dari lingkungan, melalui cara mengamati, meniru dan bereksperimen yang berlangsung secara berulang-ulang dan melibatkan seluruh potensi dan kecerdasan anak.
Salah satu cara anak agar proses belajar mereka memperoleh pengetahuan adalah melalui kegiatan bermain sambil belajar. Dengan bermain dan belajar, seorang anak dapat memperoleh kesempatan untuk mempelajari berbagai hal baru.Bemain dan belajar bagi mereka juga merupakan sarana dalam mengembangkan berbagai ketrampilan sosialnya. Kegiatan bermain dan belajar akan mengembangkan otot dan melatih gerakan motorik mereka di dalam menyalurkan energi mereka yang berlebih. Dengan demikian seorang anak akan menemukan bahwa merancang suatu hal baru dan berbeda dapat menimbulkan kepuasan dan pada akhirnya anak akan menjadi lebih kreatif dan inovatif.
Untuk mengetahui bagaimana peran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dalam membantu pertumbuhan dan Perkembangan anak, tentunya setiap orang tua atau pendidik PAUD harus mengetahui cara atau metode yang dipakai. Meskipun secara umum metode yang digunakan adalah bermain sambil belajar. Sehingga tidak salah jika dalam hal ini bermain adalah bertujuan untuk mengarahkan fungsi motorik anak agar mampu dioptimalkan dengan baik. Oleh karena itu, dalam makalah ini kami akan membahas tentang metodologi pengembangan motorik halus dan lain sebagainya.
II.  Rumusan Masalah
Adapun pokok permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1.    Bagaimana perkembangan motorik halus pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)?
2.    Bagaimana metode pengembangan motorik halus pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)?
III.   Pembahasan
A.    Perkembangan Motorik Halus
Perkembangan motorik halus merupakan perkembangan otot halus dan fungsinya. Otot ini berfungsi untuk melakukan gerakan-gerakan bagian tubuh yang lebih spesifik; seperti menulis, melipat, merangkai, mengancingkan baju, menggunting dan sebagainya.[1]
Adapun perkembangan motorik pada anak menurut Gesell dan Ames (1940) serta Illingworth (1983), mengikuti delapan pola sebagai berikut:
a.       Continuity (bersifat kontinu), yaitu dimulai dari sederhana ke yang lebih kompleks sejalan dengan bertambahnya usia anak.
b.      Uniform sequence (memiliki tahapan yang sama), memiliki pola tahapan yang sama untuk semua anak, meskipun kecepatan tiap anak untuk mencapai tahapan tersebutberbeda.
c.       Maturity (kematangan), yaitu dipengaruhi oleh perkembangan sel saraf.
d.      Umum ke khusus, yaitu dimulai dari gerak yang bersifat umum ke gerak yang bersifat khusus.
e.       Dimulai dari gerak refleks bawaan ke arah gerak yang terkoordinasi.
f.       Bersifat chepalo-caudal direction, artinya bagian yang mendekati kepala berkembang lebih dahulu dari bagian yang mendekati ekor.
g.      Bersifat proximo-distal, artinya bahwa bagian yang mendekati sumbuh tubuh (tulang belakang) berkembang lebih dulu dari yang lebih jauh.
h.      Koordinasi bilateral menuju crosslateral, artinya bahwa koordinasi organ yang sama berkembang lebih dulu sebelum bisa melakukan koordinasi organ bersilangan.[2]
Cara-cara untuk mengembangkan keterampilan dilakukan dengan melalui pembuatan berbagai jenis latihan motorik halus, antara lain:
  1. Menggunting kertas
Kegiatan memegang dan menggerakkan gunting melatih otot-otot yang sama yang akan digunakan untuk menulis. Anda perlu mencermati cara si kecil memegang gunting. Posisi gunting yang benar adalah, ibu jari dan jari tengah berada di dalam lubang gunting, jari telunjuk berada di bagian luar lubang gunting untuk menstabilkan gerak gunting. Sementara, jari keempat dan kelima menekuk ke arah telapak tangan. Beri si kecil keleluasaan melakukan kegiatan ini.
  1. Melipat kertas
Keterampilan membuat origami baru akan dikuasai sungguh-sungguh saat anak berusia enam tahun. Tetapi latihan dapat dimulai sejak anak berusia tiga tahun.
Untuk anak-anak usia prasekolah, Anda bisa melatihnya membentuk persegi panjang atau segitiga dari selembar kertas berbentuk bujur sangkar.
Bila si kecil sudah mahir membuat lipatan sederhana, Anda bisa melatihnya melipat bentuk amplop.
Jari-jari anak usia prasekolah masih kerap ‘terpeleset’, sehingga lipatannya pun kerap melenceng. Jadi, jangan terlalu menuntutnya membuat lipatan yang rapi.
Latihan melipat kertas akan memperkuat otot-otot telapak dan jari tangan anak, yaitu saat anak melipat dan menekan lipatan itu. Kekuatan bagian telapak dan jari dibutuhkan untuk memegang dan menggerakkan pensil.
  1. Memutar koin
Memegang uang logam pada posisi berdiri, kemudian memutarnya hingga menghasilkan putaran yang baik sangat disukai anak. Anak usia kira-kira empat tahun mulai dapat melakukannya, meski kadangkala jarinya masih terpeleset. Kegiatan ini melatih kelenturan otot kecil pada jari tangan, seperti digunakan saat membuat huruf-huruf menggunakan pensil.
  1. Menulis dan Menyambung titik-titik
Ajak anak melatih keterampilan motoriknya dengan menyambung titik-titik kecil membentuk sebuah gambar. Keterampilan ini dibutuhkannya untuk menulis. Anak-anak usia prasekolah gemar melakukan kegiatan ini. Tapi jangan paksa dia menyelesaikan seluruh latihannya bila mereka mengatakan, “Udah akh, capek, pegal.” Ini karena kekuatan otot lengan bagian atas mereka memang masih terbatas.
  1. Melukis karton
Buatlah beberapa pola gambar pada karton, kemudian minta si kecil membuat gambar serupa dengan gambar yang Anda buat. Bisa juga Anda membuat pola gambar dengan titik-titik yang besar. Usahakan titik-titik itu arahnya bervariasi, dari samping kiri ke arah atas, dari atas ke bawah dan dari bawah ke arah samping. Mintalah anak menyambung titik-titik itu.
Kegiatan ini untuk mengembangkan keterampilan visual-motor anak yang akan digunakannya bila ia perlu membuat sebuah gambar besar. Misalnya, disain ruang atau taman.
  1. Meronce
Untuk bisa meronce sedotan warna warni menjadi seuntai kalung, dibutuhkan kelenturan otot pada jari tangan. Seperti pada kegiatan menjahit, kegiatan ini mengandalkan kekuatan otot ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah. Cara anak memegang benang untuk dimasukkan ke dalam lubang sedotan sama dengan ketika ia memegang pensil untuk menulis.
  1. Gambar tempel
Menempel stiker dapat dilakukan anak sejak ia berusia satu tahun. Pada usia ini, anak cenderung menempelkan stiker di tempat kosong. Ajak anak menempel stiker di atas sebuah pola yang berbentuk sama dengan bentuk stiker. Kegiatan ini lebih rumit karena anak harus mengerahkan kemampuan visual, imajinasi dan motorik halusnya. Kegiatan merekatkan gambar tempel ini melatih aspek visual-motor dan melibatkan imajinasi yang diperlukan anak dalam kegiatan menggambar.
  1. Mie lilin
Permainan ini diminati sepanjang zaman. Dari lilin aneka warna, si kecil dapat menciptakan berbagai bentuk. Awalnya, Anda dapat menunjukkan bagaimana memperlakukan lilin itu menjadi bentuk-bentuk yang punya makna.
“Cacing”, mungkin bentuk pertama yang dibuat anak. Setelah berhasil membuat satu “cacing”, ia akan membuat lagi, lagi dan lagi. Dengan banyaknya “cacing” yang dibuatnya, muncul ide baru, dan ia menyebut bentuk itu “mie”. Bentuk ini memang paling dikuasai si kecil, karena ‘hanya’ mengandalkan telapak tangan yang dibantu kekuatan lengan untuk menekan dan menggulirkan lilin di atas meja. Begitu anak bosan dengan satu bentuk yang dikuasainya, ia akan mencoba bentuk lain. Permainan ini menguatkan seluruh otot tangannya, mulai dari lengan bagian atas, telapak dan jari tangan.[3]
Kemampuan motorik halus bisa dikembangkan dengan cara lain, yaitu; anak-anak menggali pasir dan tanah, menuangkan air, mengambil dan mengumpulkan batu-batu, dedaunan atau benda-benda kecil lainnya dan bermain permainan di luar ruangan seperti kelereng. Pengembangan motorik halus ini merupakan modal dasar untuk menulis.[4] Seperti halnya halnya pada kegiatan motorik kasar yang dilkaukan anak usia dini, kegiatan motorik haluspun mengandung resiko kecelakaan tertentu. Tetapi karena untuk dapat melakukannya anak dituntut untuk lebih tenang dan lebih memusatkan perhatian dan mengendalikan geraknya, maka resiko tersebut diharapkan lebih kecil.
B.    Metode Pengembangan Motorik Halus
Bermain dalam masa kanak-kanak adalah kegiatan yang sangat serius dan merupakan sarana untuk  mengembangkan daya imajinasinya. Dalam hal ini, yang paling menunjang untuk itu yakni melatih dan mengembangkan motorik halus. Karena motorik halus sangat menentukan kepekaan dan daya kreativitas anak. Untuk mengasah motorik halus agar motorik anak dapat berkembang dengan baik dan sempurna, perlu dilakukan stimulasi yang terarah dan terpadu.
Metode berikut mudah diterapkan dengan sarana dan fasilitas yang ada di sekitar kita yang dapat diberikan sesuai umurnya yaitu:
  1. Kelompok Umur 0-3 Bulan
Menggantungkan mainan yang dapat berputar/ berbunyi dan berwarna cerah sehingga membuat bayi tertarik dan melihat, menggapai/ menendang mainan tersebut. Letakkan/ sentuhkan sebuah mainan kecil, berbunyi dan berwarna cerah pada tangan bayi atau punggung jari-jarinya.
Ajak bayi meraba dan merasakan berbagai bentuk permukaan seperti mainan binatang, mainan plastik, kain-kain perca, dan lain-lain.
  1. Kelompok Umur 3-6 Bulan
-        Stimulasi sebelumnya tetap dilanjutkan.
-        Letakkan mainan sejenis rattle lalu coba tarik pelan-pelan untuk melatih bayi memegang dengan kuat.
-        Letakkan sebuah mainan di tangan bayi dan perhatikan apakah ia memindahkannya ke tangan yang lain. Lain waktu berikan mainan pada kedua tangannya.
  1. Kelompok Umur 6-9 Bulan
-        Mengambil benda-benda kecil, seperti remahan roti.
-        Memasukkan benda ke dalam wadah.
-        Bermain genderang dengan menggunakan kaleng kosong bekas dan tunjukkan cara memukulnya.
-        Membuat bunyi-bunyian dengan membenturkan 2 kubus/ balok yang tidak dapat pecah.
  1. Kelompok Umur 9-12 Bulan[5]
-        Bermain dengan maian yang mengapung di air.
-        Menyusun balok/ kotak.
-        Menggambar dengan menggunakan krayon/ pensil berwarna.
-        Bermain dengan menggunakan peralatan memasak, tentunya yang aman dan berbahan plastik khusus buat si kecil.
  1. Kelompok Umur 1 Tahun ke atas (Balita)
-        Diajarkan untuk menggambar sesuatu, missal manusia
-        Diarahkan untuk membuka kancing baju sendiri
-        Bermain menyusun puzzle sederhana
-        Mencuci tangan sendiri
-        Bermain membentuk sesuatu dari plastisin
-        Belajar membaca dan menulis.
 Ketika anak mampu melakukan suatu gerakan motorik, maka akan termotivasi untuk bergerak kepada motorik yang lebih luas lagi. Aktivitas fisiologis meningkat dengan tajam. Anak seakan-akan tidak mau berhenti melakukan aktivitas fisik, baik yang melibatkan motorik kasar maupun motorik halus. Pada saat mencapai kematangan untuk terlibat secara aktif dalam aktivitas fisik yang ditandai dengan kesiapan dan motivasi yang tinggi, yang memungkinkan anak akan berlaku liar dan nakal serta tidak terarah, seiring dengan hal tersebut, orang tua dan guru perlu memberikan semacam stimulasi seperti yang telah dipaparkan di atas dengan berbagai kesempatan dan pengalaman yang dapat meningkatkan keterampilan motorik anak secara optimal. Peluang-peluang ini tidak saja berbentuk membiarkan anak melakukan kegiatan fisik akan tetapi perlu di dukung dengan berbagai fasilitas yang berguna bagi pengembangan keterampilan motorik kasar dan motorik halus. Sehingga si kecil dapat melalui tahapan-tahapan perkembangannya dengan baik dan terarah.
Stimulasi yang bisa diberikan untuk mengoptimalkan perkembangan motorik anak adalah sebagai berikut:
a)      Dasar-dasar keterampilan untuk menulis (huruf arab dan latin) dan menggambar.
b)      Keterampilan berolahraga (seperti senam) atau menggunakan alat-alat olahraga.
c)      Gerakan-gerakan permainan, seperti meloncat, memanjat dan berlari.
d)     Baris-berbaris secara sederhana untuk menanamkan kebiasaan kedisiplinan dan ketertiban
e)      Gerakan-gerakan ibadah shalat.[6]
Beberapa pengaruh perkembangan motorik terhadap konstelasi perkembangan individu dipaparkan oleh Hurlock (1996) sebagai berikut:
1)      Melalui keterampilan motorik, anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan senang. Seperti anak merasa senang dengan memiliki keterampilan memainkan boneka, melempar dan menangkap bola atau memainkan alat-alat mainan.
2)      Melalui keterampilan motorik, anak dapat beranjak dari kondisi tidak berdaya pada bulan-bulan pertama dalam kehidupannya, ke kondisi yang independent. Anak dapat bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya dan dapat berbuat sendiri untuk dirinya. Kondisi ini akan menunjang perkembangan rasa percaya diri.
3)      Melalui perkembangan motorik, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekolah. Pada usia pra sekolah atau usia kelas-kelas awal Sekolah Dasar, anak sudah dapat dilatih menulis, menggambar, melukis, dan baris-berbaris.
4)      Melalui perkembangan motorik, yang normal memungkinkan anak dapat bermain atau bergaul dengan teman sebayanya, sedangkan yang tidak normal akan menghambat anak untuk dapat bergaul dengan teman sebayanya bahkan dia akan terkucilkan atau menjadi anak yang fringer (terpinggirkan).
5)      Melalui perkembangan motorik, sangat penting bagi perkembangan self-concept atau kepribadian anak.
Untuk keberhasilan dalam kegiatan pengembangan motorik peran pendidik perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a)      Pendidik dianjurkan mengenakan pakaian yang sesuai dengan situasi yang dihadapi. Sikap perwujudan dan pakaian merupakan salah satu syarat menanamkan kewibawaan pendidik.
b)      Fasilitas dan alat-alat pengembangan keterampilan mororik; dalam arti luas, fasilitas pengembangan keterampilan motorik adalah kelengkapan yang harus dipenuhi sekolah untuk melaksanakan kegiatan pengembangan keterampilan motorik.
c)      Susunan pengaturan dan tempat pendidik.
Agar poses pengembangan keterampilan motorik dapat berjalan dengan lancar dan tertib, perlu diperhatikan susunan anak dan tempat pendidik, diantaranya; Susunan barisan anak tidak menghadap sinar matahari, dan juga ke arah yang mudah menarik perhatiannya misalnya ke arah jalan raya, tempat keramaian. Susunan barisan mudah diawasi, seperti barisan tidak terlalu panjang. Berdiri di tempat yang dapat melihat semua anak dan anak-anak dapat melihat guru. Ketika memberikan contoh suatu gerakan, tidak membelakangi anak. Hal yang diperlihatkan harus jelas kelihatan dari tempat berdiri anak. Perubahan susunan barisan lain harus dapat berjalan dengan cepat karena anak usia dini belum mampu mengatur sendiri maka dalam kegiatan di luar kelas diperlukan adanya guru bantu lain. Dalam penyusunan dan pengaturan tempat anak juga perlu diperhatikan jumlah anak, jumlah alat yang tersedia, macam kegiatan, keadaan halaman (luas atau sempit). 
d)     Persiapan
Persiapan yang perlu dilakukan adalah : 1. Persiapan mental, menguasai bahan kegiatan pengembangan yang akan dilaksanakan, 2. Persiapan kegiatan tertulis: segala persiapan yang akan dikembangkan kepada anak-anak telah disusun secara tertulis. Kegiatan pengembangan yang akan dilaksanakan direncanakan dan diperhitungkan dengan cermat. Ini berbentuk program satuan kegiatan harian, 3. Persiapan lapangan dan alat-alat: halaman yang akan dipakai harus diatur dan dipersiapakan secukupnya. Untuk persiapan lapangan, perlengkapan dan alat-alat disiapakan dibantu oleh guru bantu.
e)      Teknik penyajian
Dalam memberikan penyajian kegiatan pengembangan ketermapilan motorik, pendidik bukan berdiri di muka kelas, tetapi beridiri di antara anak-anak. Karena dengan demikian maka kontak atau interaksi guru dengan anak-anak menjadi kekhususan tersendiri.
f)       Nada
Suara Nada suara guru merupakan alat kontak dengan anak. Suasana kegiatan pengembangan akan sangat dipengaruhi oleh nada guru. Kepandaian berbicara harus dapat menjelaskan apa yang dimaksudkan, dan dapat pula memberikan perintah yang tepat. hal ini berbeda dari sekolah satu dengan yang lain dan kelas ke kelas berikutnya. Adapun syarat-syaratnya adalah sebagai berikut: Nada suara harus memberi dorongan dan semangat, Ramah (Bukan berarti suatu sikap yang tidak pasti. Tidak pernah menghardik), Nada suara harus jelas, Bebicara tidak keras, Berbicara singkat dan jelas, Nada suara harus sesuai dengan ruang pembicaraan atau luas ruangan.
g)      Koreksi
Koreksi atau perbaikan dapat dilakukan dengan dua cara;  (1) koreksi serentak (klasikal) koreksi serentak dilakukan bila sebagian besar anak-anak membuat kesalahan, maka anak-anak dikumpulkan, selanjutnya guru menjelaskan kesalahan yang banyak dilakukan dan mengadakan perbaikan. Ini disebut koreksi tidak lansung. (2) koreksi perorangan. Koreksi perorangan dilakukan bila hanya satu dua anak melakukan keslahan dan guru lansung melakukan koreksi secara perorangan terhadap anak-anak yang masih membuat kesalahan itu.
h)      Keamanan dan keselamatan Selama kegiatan pengembangan keterampilan motorik berlansung, keamanan dan keselamatan anak-anak harus benar-benar terjamin, untuk itu beberapa hal yang mesti dilakukan:
·         Sebelum kegiatan pengembangan keteramilan motorik khsususnya motorik kasar dimulai, lapangan atau halaman bermain terlebih dahulu diperiksa kalau-kalau ada hal yang dapat menimbulkan bahaya bagi anak-anak, seperti halaman tidak rat, berlubang, banyak batu menonjol, licin dll.
·         Alat-alat bantu pengembangan yang dipakai diperiksa dengan teliti jangan sampai apabila dipergunakan dapat menimbulkan kecelakaan karena rusaknya alat-alat.
·         Susunan dan pengaturan anak tidak membahayakan anak yang satu dengan yang lain. Seperti pengaturan jarak (dalam kegiatan manipulatif atau melempar).



[1] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 24.
[2] Slamet Suyanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, (Yogyakarta: Hikayat Publishing, 2005), hlm. 50-51.
[3] http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2008/11/latihan-motorik-halus.html
[4] Iva Nur Laila, Panduan Lengkap Mengajar Paud, (Yogyakarta: Pinus Book Publisher, 2010), hlm. 52.
[5][5] Ibid., hlm. 64.
[6] Ibid., hlm. 51.
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

About Me

My Photo

Knowledge is being aware of what you can do. Wisdom is knowing when not to do it.
 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template