Headlines News :
Home » » Peran Abu Bakar Ashiddiq sebagai Khalifah dalam Lintasan Sejarah Umat Islam

Peran Abu Bakar Ashiddiq sebagai Khalifah dalam Lintasan Sejarah Umat Islam

Written By Ahmad Multazam on Saturday, May 12, 2012 | 11:37 AM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


A.           Terpilihnya Abu Bakar sebagai Khalifah
Rasulullah wafat tidak menentukan penggantinya, ini menyebabkan munculnya perselisihan di kalangan umat muslim untuk menentukan pengganti beliau. Oleh karena itu, musyawarah dalam menentukan pengganti Rasul di saqifah bani Sa’idah. Muhajirin dan anshar yang pada awalnya merupakan varian dalam proses pembentukan masyarakat madinah berubah menjadi faksi politik dalam rangka menentukan pengganti Nabi.
Muhajirin dan Anshar yang dipersatukan oleh Rasul dalam ikatan keyakinan agama, dihadapkan pada situsi krisis dan cenderung kembali pada situasi sebelum mereka dipersatukan, yaitu bertikai dan saling bermusuhan.
Sahabat nabi terpencar-pencar; pertama, kalanagn Anshar bergabung dengan Sa’ad Ibn Ubadah di pertemuan saqifah bani Sa’idah. Kedua, kalanagan Muhajirin, Ali Ibn Abi Thalib, Zubair Ibn Al Awam, dan Talhah Ibn ‘Ubaidillah tinggal di rumah Fatimah ra; dan  ketiga, kalangan muhajirin selain ketiga tokoh tersebut bergabung dngan abu bakar.
Kalanagn Anshar telah berkumpul untuk mengangkat pemimpim politik yaitu Sa’ad Ibn Ubaidah tanpa dihadiri kalangan muhajirin, padahal jenazah Rasulullah belum dimakamkan.
Abu bakar dan umar akhirnya datang ke Saqifah Bani Sa’idah dan memberi tawaran berupa pembagian wewenang, agar umat islam tidak terpecah. Setelah keadaan mulai mereda, Abu Bakar menawarkan Umar dan Abu Ubaidah (keduanya muhajirin) dan mempersilahkan para sahabat dari kalangan Anshar untuk membai’at salah satu dari mereka. Akan tetapi keduanya menolak dan berkata “Engkau (Abu Bakar) adalah muhajirin yang paling utama, Engkaulah yang menyertai Nabi selama di gua Tsur, dan menggantikan Nabi sebagai Imam shalat ketika beliau berhalangan”. Akirnya Abu Bakar diangkat sebagai khalifah pertama melaluimusyawarah di Saqifah Bani Sa’idah.[1]
B.             Ekspansi ke Syiria
Sebelum wafatnya Rasulullah, beliau mengirimkan ekspedisi  ke Syiria di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, putera dari Zaid bin Harits. Namun Usamah mengurungkannya ketika  dalam perjalanan mendengar berita wafatnya Nabi.  Maka melanjutkan ekspedisi ke Syiria merupakan prioritas  utama kebijakan Abu Bakar, keputusan tersebut ditempuh oleh beliau justru ketika situasi dalam negeri sedang dilanda krisis stabilitas, sehingga pengiriman ekspedisi ini sempat diusulkan para sahabat untuk ditarik kembali ke Madinah untuk membantu mengatasi masalah dalam negeri seperti memerangi orang-orang murtad, orang yang enggan membayar zakat serta pemberontakan lainnya. Namun usulan itu ditolak oleh Abu Bakar karena pengiriman tersebut merupakan amanah Rasulullah. Setelah 40 hari berperang melawan orang-orang Romawi di Syiria, akhirnya ekspedisi Usamah meraih kemenangan, keberhasilan ini menimbulkan opini positif bahwa Islam tetap jaya, tidak akan hilang seiring dengan wafatnya Rasulullah.[2]
C.            Pemberantasan Nabi Palsu dan Penolak Zakat
Orang yang mengaku dirinya nabi tersebut mempunyai keinginan agar di belakangnya berdiri pula manusia seperti yang berdiri di belakang Nabi Muhammad SAW. Keinginan semacam ini mulai lahir dikala hari-hari terakhir Rasulullah. Keinginan ini semakin bertambah kuat sesudah wafatnya Nabi, dan di waktu kerusuhan-kerusuhan telah menjalar di seluruh tanah arab.
Di antara orang-orang yang mengaku dirinya nabi yang paling berbahaya ialah Musailimatul Kazzab dari bani hanifah di al yamamah. Dia pernah menulis surat kepada Rasulullah, di dalamnya disebutkan, “Dari Musailimah Rasulullah kepada Muhammad Rasulullah. Kemudian dari pada itu, separuh dari bumi ini, dan separuh buat Quraisy” surat itu dibalas oleh nabi yang berisi, “Bismillahir Rahmanir Rahim. Dari Muhammad Rasulullah kepada Musailimah Kazzab, kemudian daripada itu, bumi adalah kepunyaan Tuhan, yang dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-Nya”. [3]Nabi palsu yang lain yaitu Al-Aswad  al ‘Ansi di Yaman dan Thulaihah Ibn Khuwailid dari Bani Asad.
Sedangkan setelah Nabi wafat, munculah suku atau kabilah yang menolak untuk membayar zakat. Penolakan mereka tersebut didasarkan pada dua alasan :
1.      Mereka menganggap bahwa zakat serupa pajak yang dipaksakan dan penyerahannya ke perbendaharaan pusat di Madinah. [4]
2.      Salah memahami ayat Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 103
           
Artinya : Ambilah sedekah daripada harta mereka buat membersihkannya dan meenghapuskan kesalahannya[5]
Disamping itu, mereka juga menunnjukkan siap politik pembangkangan yaitu, mereka menyatakan tidak tunduk lagi kepada Abu Bakar. Jadi, penolakan pembayaran zakat merupakan simbol ketidaktundukan secara politik. Abu Bakar dihadapkan pada situasi yang sangat sulit. Maka Abu Bakar bermusyawarah dengan para sahabat dan kaum muslimin untuk menentukan tindakan apa yang harus diambil untuk mengatasi masalah ini.
Dalam musyawarah tersebut muncul dua pendapat, Pertama, membiarkan mereka dan diharapkan dapat membantu umat muslim dalam menghadapi musuh lain yang berarti mentolelir pembangkangan. Kedua, memerangi mereka berarti tidak mentolelir pembangkangan, namun disisi lain itu justru menambah musuh umat islam. Umar cenderung tidak memerangi mereka;[6]
Di dalam kesulitan yang memuncak inilah kelihatan kebesaran jiwa dan ketabahan hati Abu Bakar. Dengan tegas dinyatakannya seraya bersumpah, bahwa beliau akan memerangi semua golongan yang menyeleweng dari kebenaran , biar yang murtad maupun yang mangaku jadi nabi, ataupun yang tidak mau membayar zakat, sehingga semuanya kembali kepada kebenaran, atau beliau gugur sebagai syahid  dalam memperjuangkan kemuliaan agama Allah SWT.
Sebelum Abu Bakar mengirim bala tentara, beliau mengirim surat pada orang yang telah menyeleweng dari kebenaran tersebut. Nasehat dan peringatan tersebut ada yang mematuhi ada pula yang tetap pada kesesatannya. Pada golongan yang masih menyeleweng tersebut Abu Bakar bala tentara untuk menyerang mereka. Dan hasilnya sangat gemilang, Musailimah pu akhirta tewas terbunuh.[7]
D.            Memerangi kaum murtad
            Akibat  lain dari wafatnya Rasulullah adalah hengkangnya beberapa orang arab dari ikatan islam. Mereka melepaskan kesetiaan dengan menolak memberikan baiat kepada khalifah yang baru dan bahkan menentang agama islam. Karena mereka menganggap bahwa perjanjian-perjanjian yang dibuat bersama Rasulullah ketika masih hidup dengan sendirinya akan batal disebabkan Rasulullah wafat.
            Sesungguhya tidak mengherankan dengan banyaknya suku arab yang melepaskan diri dari ikatan agama islam. Mereka adalah orang-orang yang baru masuk islam. Belum cukup waktu bagi Nabi dan para sahabat untuk mengajari mereka prinsip-prinsip keimanan dan ajaran islam. Memang, suku-suku arab dari padang pasir yang jauh itu telah datang kepada Rasul dan mendapat kesan mendalam tentang islam. Di dalam waktu beberapa bulan tidaklah mungkin untuk mengatur pendidikan dan latihan efektif untuk masyarakat yang terpencar di wilayah-wilayah yang amat luas dengan sarana komunikasi yang sangat minim.[8]
            Abu Bakar membentuk 11 kelompok untuk memerangi orang-orang murtad dari islam. Abu Bakar memilih sahabat-sahabat senior untuk memimpin pasukan itu. Misalnya, khalid bin walid, khalid berangkat dengan pasukannya untuk memerangi bani Asas, Ghathfan, dan Amir. Pihak musuh dipimpin oleh Thulaihah bin Khuwalid al-Asadi. Khalid menyambut mereka di sumur Buzakhah dan menghajar mereka hingga akhirnya mereka kalah dan bertaubat. Kemudian khalid berangkat ke tempat-tempat Bani Yarbu’ Bani Tamim. Disana terdapat Malik bin Nuwairah dan para pengikutnya, Khalid pun memerangi mereka dan akhirnya Malik tewas[9]
E.             Pengumpulan Al-Qur’an
Perang Yamamah merupakan perang dalam mengatasi orang-orang murtad yang menghawatirkan umar.Dalam perang Yamamah terdapat 1200 tentara islam yang gugur dan 39 diantaranya adalah sahabat besar yang hafal Al-Qur’an.  Kekhawatiran Umar mendorong beliau untuk usul kepada Khalifah Abu Bakar agar mengumpulkan Al-Qu’an. Perdebatan antara umar dengan Abu Bakar, Umar bertahan dengan argumennya; dan Abu Bakar pada awalnya menolak gaagasan tersebut dengan alasan pengumpulan Al-Qur’an tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.
Perdebatan antara Umar dan Abu Bakar diatasi oleh Zaid bin Tsabit dengan menyetujui gagasan Umar, yakni mengumpulkan Al-Qur’an. Pada waktu itu ditemukan ayat Al-Qur’an yang ada di tangan Khuzaimah Ibn Tsabit al-Anshari yang tidak terdapat dalam tulidan ulama’ lain yaitu , QS.at-Taubah ayat 128-129 dan QS. Al-Ahzab ayat 23 .
Lembaran-lembaran yang berisi tulisan Al-Qur’an  yang telah dikumpulkan, disimpan oleh Abu Bakar hingga beliau wafat; kemudian disimpan oleh umar hinnga beliau wafat; dan akhirnya disimpan di rumah Hafshah binti Umar ra. Pengumpulan Al-Qur’an pada zaman Abu Bakar  dilakukan dengan cara mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis di tulang, pelepah kayu, dan batu kemudian disalinoleh Zaid bin Tsabit di atas kulit hewan yang telah di samak.[10]


[1]Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam ( Bandung, Pustaka Bani Quraisyi, 204 ) hlm. 41-43
[2]http://pendekarnyasar.multiply.com/journal/item/35/MAKALAH_SEJARAH_PERADABAN_ISLAM?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
[3].A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam ( Jakarta: Pustaka Alhusna, 1983 ) hlm. 230
[4] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, ( Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1997 ), hlm. 49
[5] A. Syalabi, Op. Cit,  hlm 231
[6]  Jaih Mubarok, Op. Cit hlm. 45
[7]  ..A. Syalabi, Op. Cit,  hlm 233
[8]. Ali Mufrodi, Op. Cit , hlm. 48
[9] Ahmad al-Usairy, Sejarah Islam Sejak Nabi Adam Hingga Abad XX, ( Jakarta, Media Grafika, 2003 ), hlm. 146
[10]  Jaih Mubarok, Op, Cit, hlm. 47

Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

About Me

My Photo

Knowledge is being aware of what you can do. Wisdom is knowing when not to do it.
 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template