Headlines News :
Home » » STUDI KAWASAN ISLAM DI INDONESIA

STUDI KAWASAN ISLAM DI INDONESIA

Written By Ahmad Multazam on Saturday, August 16, 2014 | 8:28 PM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

I. PENDAHULUAN
Salah satu cara untuk mengamati perilaku Islam di dunia adalah dengan bercermin pada Islam di Indonesia. Dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, Islam di Indonesia telah memperlihatkan suatu ciri khas tertentu, yang mungkin berbeda dari tempat asal Islam itu sendiri, Mekkah.
Sebagai agama rahmatan lil alamin, Islam telah membuktikan kebenarannya.
Kebenaran Islam telah terbukti di berbagai belahan dunia. Setidaknya itulah hasil perjuangan Rasulullah SAW yang menyebarkan Islam mati-matian sampai-sampai harus menghadapi berbagai cobaan yang datang silih berganti. Ketika beliau masih hidup, setidaknya, beliau telah melihat orang secara berbondong-bondong masuk Islam pada masa Fathu Mekah. Jauh setelah itu, Islam kini berada di setiap jengkal negeri di seluruh dunia.
Di Indonesia Islam merupakan agama resmi dan menjadi mayoritas. Oleh karena itu, umat Islam perlu bangga akan tingginya umat Islam di indonesia. Mengapa Islam di Indonesia dapat menjadi besar dan terhormat? Itu tidak terlepas dari usaha para pendahulu kita yang dengan tekun dan gigih menyebarkan dan mempertahankan Islam di Indonesia.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Bagaimana Letak Geografis Indonesia?
B. Bagaimana Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia?
C. Bagaiamana Karakteristik Islam di Indonesia?

III. PEMBAHASAN
A. Letak Geografis Indonesia
Seacara geografis, negara dan bangsa Indonesia berada dan berdomisisli di lingkungan wilayah yang meiliki garis-garis pantai dan hutan-hutan tropis, yang tersebar di kawasan seluas hampir 3.000 mil. Dari faktor wilayah, Indonesia memiliki lebih dari 13.000 pulau yang bertebaran di sepanjang garis katulistiwa. Sehingga pada gilirannya, kedua faktor tersebut, secara tidak langsung telah membentuk kemajemukan bangsa ini dalam pelbagai hal, baik dalam trsadisi-sosial, suku-ras, maupun agama kepercayaan.[1]
Dalam buku Indonesia karya Mahmud Syakir disebutkan bahwa Indonesia terdiri dari kumpulan pulau yang jumlahnya terbanyak di dunia dihubungkan dengan 2 samudera, yaitu samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Luas wilayah Indonesia mencapai 1.919.440 km2, letaknya di Asia tenggara. Pulau-pulau terbesar adalah Sumatera, Jawa, Irian, Kalimantan, dan sulawesi.[2] Indonesia berbatasan langsung dengan Malaysia disebelah utara, Benua Australia disebelah selatan, Samudera Hindia disebelah barat, dan Samudera Pasifik disebelah timur.[3]
Dari segi jumlah penduduk, negeri ini menempati urutan keempat terbanyak di dunia, setelah China, india, dan Amerika, tapi urutan pertama pada tingkat dunia Islam. Jumlah penduduk berdasarkan data statistik tahun 1419 H/1998 M berjumlah 206 juta jiwa. Presentase kaum muslimin di Indonesia ini mencpai 89%, juga terdapat sedikit orang-orang Nasrani, Hindu, dan Budha.
Aktifitas ekonomi juga pesat di Indonesia. Hal ini karena besarnya jumlah kekayaan alam. Indonesia menghasilkan 40% dari produksi karet di dunia, dan 20% dari logam. Juga terdapat gula, teh, dan minyak. Pertanian merupakan mata pencaharian utama di Indonesia.[4]

B. Sejarah perkembangan Islam di Indonesia
Masuknya Islam ke Indonesia agak unik bila dibandingkan dengan masuknya Islam ke daerah-daerah lain. Keunikannya terlihat kepada proses masuknya Islam ke Indonesia yang relatif berbeda dengan daerah lain. Islam masuk ke Indonesia secara damai dibawa oleh para pedagang dan mubaligh. Sedangkan Islam yang masuk ke negara lain pada umumnya banyak lewat penaklukan, seperti masuknya Islam ke Irak, Iran, Mesir, Afrika Utara sampai ke Andalusia.[5]
Islam masuk ke Indonesia akibat adanya perdagangan di pelayaran internasional. Pada saat itu, jalur perdagangan internasional Timur Tengah – India – Malaka – Cina merupakan satu-satunya jalur perdagangan Asia yang sangat ramai. Bersamaan dengan kesibukan perdagangan antar bangsa melewati Indonesia itulah islam mulai masuk ke Indonesia.[6]
Setidaknya ada tiga versi yang sering menjadi rujukan utama penulisan tentang perkembangan Islam di Indonesia. Versi pertama, bahwa islam dibawa ke Indonesia oleh para pedagang dari Persia sekitar abad ke-13 M. Wialayah Samudra Pasai diyakini sebagai tempat pijakan pertama. Versi kedua, Islam datang ke Indonesia pada abad ke-12 atau permulaan abad ke-13 M. Pada masa ini Islam dibawa oleh para pedagang anak benua India yang berasal dari Gujarat, Malabar, dan Bengli. Versi ketiga menyebutkan bahwa Islam datang ke Indonesia pada awal abad ke-7 M. Penyebaranya pun bukan dilakukan oleh para pedagang dari Persia atau India, melainkan langsung dari Arab.[7]
Proses masuk dan berkembangnya agama Islam di indonesia menurut Prof. Hamka, yang mengadakan “Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia” di medan pada tahun 1963. Beliau berpendapat bahwa Islam sudah datang ke Indonesia pada abad pertama hijriyah (kurang lebih abad 7-8 M) langsung dari Arab dengan bukti jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional sudah dimulai jauh sebelum abad ke-13 melalui selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat.[8]
Menurut J.C. Van Leur, berdasarkan berbagai cerita perjalanan dapat diperkirakan bahwa sejak 674 M ada koloni-koloni Arab dibarat laut Sumatera, yaitu Barus. Dari berita Cina bisa diketahui bahwa di masa dinasti Tang (abad 9-10 M) orang-orang Ta-Shih sudah ada di Kanton dan Sumatera.
Baru pada zaman-zaman berikutnya, penduduk kepulauan ini masuk Islam, bermula pada penduduk pribumi di koloni-koloni pedagang Muslim itu. Menjelang abad ke-13 M, masyarakat muslim sudah ada di Samudera Pasai, Perlak, dan Palembang di Sumatera.
Sampai berdirinya kerajaan-kerajaan Islam itu, perkembangan agama Islam di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga fase. Pertama, singgahnya pedagang-pedagang Islam di pelabuhan-pelabuhan Nusantara. Kedua, adanya komunitas-komunitas Islam di beberapa daerah kepulauan Indonesia. Ketiga, berdirinya kerajaan-kerajaan Islam.[9]

Metode penyebaran Islam ke Indonesia adalah saluran-saluran sebagai berikut:
1. Perdagangan
Pada taraf permulaan, saluran Islamisasi adalah perdagangan, pedagang-pedagang yang menjadi pembawadan penyebar Islam di Indonesia. Mungkin pula dalam perdagangannya itu, mereka disertai oleh bebrapa orang mubaligh yang pekerjaannya lebih khusus untuk mengajarkan agama.[10]
2. Perkawinan
Yaitu perkawinan antara pedagang Muslim atau mubaligh dengan anak bangsawan Indonesia. Hal ini akan mempercepat terbentuknya inti sosial yaitu keluarga muslim dan masyarakat muslim.
3. Pendidikan
Setelah kedudukan mereka menguasai kekuatan ekonomi di bandar-bandar seperti gresik. Pusat-pusat perekonomian berkembang menjadi pusat pendidikan dan penyebaran Islam. Puast-pusat dan penyebaran dakwah Islam di kerajaan Samudera Pasai berperan sebagai dakwah Islam pertama yang didatangi pelajar-pelajar dan mengirim mubaligh lokal.
4. Taswauf
Bersamaan dengan pedagang datang pula para ulama, da’i dan sufi pengembara. Para ulama atau sufi itu ada yang diangkat menjadi penasehat atau pejabat agama di kerajaan.
5. Keseinian
Saluran yang banyak sekali dipakai untuk penyebaran Islam terutama di Jawa adalah seni. Walisongo terutama Sunan Kalijaga, mempergunakan banyak cabang seni untuk islamisasi.[11]

C. Karakteristik Islam di Indonesia
1. Majemuk / Plural
Kemajemukan merupakan ciri khas masyarakat Indonesia pada umumnya. Keragaman model-model beragama dapat ditemukan di dalam Islam. Seorang antropolog Amerika Serikat bernama Clifford Geertz pernah membagi perilaku keberagaman umat Islam Indonesia ke dalam tiga kelompok, yaitu abangan, santri dan priyai.
Abangan merupakan turunan dari kata abang (Jawa: merah). Istilah abangan dipakai bagi pemeluk Islam yang tidak begitu memperhatikan perintah-perintah agama Islam dan kurang teliti dalam memenuhi kewajiban-kewajiban agamanya. Santri merupakan penganut islam yang taat. Istilah ini seringkali kita dengar untuk menyebut orang-orang yang belajar di pesantren. Priyai adalah kelompok ketiga penganut Islam, yang menurut Greetz adalah kelompok Islam kelas elit. Biasanya adalah mereka yang disebut sebagai Muslim birokrat atau Muslim berdasi.
2. Toleran
Toleransi adalah salah satu semangat dari Islam. Semangat ini tumbuh seiring dengan “perkawinan” antara budaya Islam dan budaya lokal. Sehingga corak singkretisme (campuran faham) tidak isa dihindarkan.
Sifat toleransi Muslim Indonesia muncul karena bangsa Indonesia disatukan dalam rumpun budaya. Muslim Indonesia sudah terbiasa dengan ragam budaya dan agama sejak mula kedatangannya.
3. Moderat
Islam di Indonesia adalah Islam yang moderat. Moderat dalam hal ini dimaksudkan untuk menggambarkan kehidupan keagamaan yang berada di tengah-tengah, tidak ekstrim dan tidak liberal. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius, umat Islam adalah mayoritas di negeri ini, iini berarti bahwa religiusitas bangsa Indonesia adalah cerminan religiusitas umat Islam itu sendiri. Islam indonesia merupakanagama yang melindungi kehidupan agama dan kepercayaan lain. Agama dan kepercayaan lain dapat hidup aman dan damai di tengah-tengah mayoritas umat Islam. Hal ini tentu saja berbeda dengan keadaan umat Islam di beberapa negara yang hidup mayoritas di tengah-tengah mayoritas agama lain.
4. Singkretik
Singkretisme juga bisa dikatakan merupakan akibat dari akulturasi Islam dan budaya lokal. Makna singkretik di sini maksudnya adalah adanya campuran unsur Islam dan budaya lokal yang tidak bertentangan dengan semangat fundamental Islam itu sendiri. Singkretisme Islam dan budaya lokal inilah yang melahirkan Islam dalam bentuknya sekarang.
Sebagai contoh, tradisi menggunakan peci hitam sebenarnya adalah tradisi orang-orang Turki yang kemudian menjadi pakaian orang Indonesia, terutama oleh orang-orang Islam. Demikian pula dalam ritual-ritual Islam, unsur-unsur budaya lokal masih sangat jelas, termasuk pada sebagian bangunan masjid. Jadi meskipun berasal dari Timur Tengah, tampilan Islam di Indonesia tidak selalu bernuansa Arab.[12]

                        
[1] Ajid Thohir, Studi Kawasan Dunia Islam; Perspektif Etno-Linguistik dan Geo-Politik, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 384.
[2] Ahmad Al-‘usairy, Sejarah Islam, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2003), hlm. 509
[3] http://www.invonesia.com/letak-geografis-indonesia.html, diunduh pada 12 mei 2014 pukul 10.34
[4] Ahmad Al-‘usairy, Sejarah Islam..., hlm. 509.
[5] Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 11.
[6] A Hasyimi, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, (Bandung: Al Maarif, 1981), hlm.358.
[7] Ajid Thohir, Studi Kawasan Dunia..., hlm. 394-395.
[8] A Hasyimi, Sejarah Masuk dan..., hlm.358.
[9] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008), hlm. 192-193.
[10] Fatah Syukur, Sejarah Peradaban Islam, (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2008), hlm. 37.
[11] Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hlm.10-12
[12] https://www.google.com/search?q=A.+Karakteristik+Islam+di+Indonesia, diunduh pada 20 April 2014 pukul 16.13
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

About Me

My Photo

Knowledge is being aware of what you can do. Wisdom is knowing when not to do it.
 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template