Headlines News :
Home » » INTEGRASI ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI (IPTEK) DENGAN ISLAM

INTEGRASI ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI (IPTEK) DENGAN ISLAM

Written By Ahmad Multazam on Tuesday, June 4, 2013 | 1:50 PM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

I.                   PENDAHULUAN

Seiring dengan berkembangnya zaman dan semakin majunya peradaban, maka semakin banyak munculnya teknologi yang memberi kemudahan kepada manusia. Kemudahan inilah yang sering memberi makna yang beragam sehingga kadang kala banyak penafsiran yang salah. Sebagian dari kaum muslim ada yang sangat antipati terhadap kemajuan teknologi yang berkembang karena alasan agama tidak menyukai adanya teknologi yang berkembang sehingga menyebabkan lunturnya iman.

Pemahaman yang beragam inilah yang perlu dibenarkan. Sejatinya agama apapun termasuk islam tidak pernah melarang adanya perkembangan ilmu pengetahuan sehingga menjadikan teknologi yang semakin berkembang. Berkembangnya teknologi justru memberikan manfaat yang banyak dan sebagai sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Pandangan yang antipati terhadap kemajuan ilmu pengetahuan perlu diluruskan kembali dengan pemahaman yang lebih kemprehensif.

Untuk itulah maka dalam makalah ini diberikan penjelasan mengenai integrasi ilmu pengetahuan dan teknologi dengan islam. Diharapkan dengan adanya pemahaman ini maka tidak ada kesalah pahaman dalam memaknai islam sebagai agama yang mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan.

II.                RUMUSAN MASALAH

A.      Apa Pengertian Integrasi ?

B.       Bagaimana Pentingnya Integrasi IPTEK dan Islam ?

C.       Bagaimana Pandangan Islam Tentang IPTEK ?

D.      Apa Manfaat IPTEK untuk Islam ?

III.             PEMBAHASAN

A.    Pengertian Integrasi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Kata “integrasi” berasal dari bahasa latin integer, yang berarti utuh atau menyeluruh. Berdasarkan arti etimologisnya itu, integrasi dapat diartikan sebagai pembauran hingga menjadi kesatuan yang utuh atau bulat.

Integrasi juga berasal dari bahasa inggris “Integration” yang berarti kesempurnaan keseluruhan. Definisi lain dari integrasi ialah suatu keadaan dimana kelompok-kelompok etnik beradaptasi terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing.[1]

Dari dua pengertian diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Integrasi mempunyai dua pengertian, yaitu :
1)      Pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan dalam suatu sistem tertentu

2)      Membuat keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu.

Pengertian integrasi sains dengan islam dalam konteks sains modern bisa dikatakan sebagai profesionalismeatau kompetensi dalm satu keilmuan yang bersifat duniawi di bidang tertentu disertai atau dibangun dengan pondasi kesadaran ketuhanan.adaran tersebut akn muncul dengan adanya pengetahuan dasar tentang ilmu-ilmu keislaman.oleh sebab itu, ilmu-ilmu islam dan kepribadian merupakn dua aspek yang saling menopang satu sama lain dan secara bersama-sama menjadi sebuah pondasi bagi pengembangan sains dan teknologi.[2]

B.     Pentingnya Integrasi IPTEK dan Islam

Sepanjang yang diketahui, belum ada agama apapun yang mampu melampaui dalamnya paandangan terhadap ilmu pengetahuan sebagaimana pandangan yang diberikan islam. Islam sangat gigih dalam mendorong umat manusia untuk mencari ilmu dan mendudukannya sebagai sesuatu yang mulia.[3]

Dalam agama islam, imu pengetahuan, teknologi terdapat hubungan yang harmonis dan dinamis yang terintegrasi ke dalam suatu sistem yang disebut Dinul Islam. Didalmnya ada tiga unsur pokok yaitu iman, islam, dan amal sholeh. Allah berfirman :

Artinya : “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah Telah membuat perumpamaan kalimat yang baik  seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.  Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Al-Ibrahim : 24-25)

Salah satu tujuan islam ialah untuk memberi tuntunan sehingga manusia dapat meningkatkan taraf hidup yang modern dan lebih maju. Islam tidak melarang untuk memikirkan masalah teknologi modern atau ilmu pengetahuan yang sifatnya menuju modernisasi pemikiran manusia genius, profesional, dan konstruktif, serta aspiratif terhadap permasalahan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari.[4]

Peradaban modern adalah hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang gemilang telah dicapai oleh manusia setelah diadakan penelitian yang tekun dan eksperimen yang mahal yang telah dilakukan selama berabad-abad. Maka sudah sepantasnya kalau kemudian manusia menggunakan penemuan-penemuannya itu guna meningkatkan taraf hidupnya. Kemajuan teknologi secara umum telah banyak dinikmati oleh masyarakat luas dengan cara yang belum pernah dirasakan bahkan oleh para raja dahulu kala. Tampaknya manusia di masa depan akan mencapai taraf kemakmuran yang lebih tinggi dan memperoleh kemudahan-kemudahan yang lebih banyak lagi.

Agama Islam tidak menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga tidak anti terhadap barang-barang produk teknologi baik di zaman lampau, di masa sekarang maupun di waktu-waktu yang akan datang. Demikian pula ajaran Islam tidak akan bertentangan dengan teori-teori pemikiran modern yang teratur dan lurus dan analisa-analisa yang teliti dan obyektif.

Ayat diatas menggambarkan keutuhan iman, ilmu, dan amal dengan sebuah pohon yang akarnya menghujam ke bumi, batangnya menjulang tinggi, mengeluarkan buah ditiap musimnya atas izin Allah. Disini diungkapkan iman sebagai akarnya, imu sebagai batang  yang pada akhirnya akhlak yang diumpamakan sebagai buahnya.

Berkaitan dengan hai ini, disini akan dikemukakan beberapa contoh saja, yang memperlihatkan bahwa antara agama dan ilmu pengetahuan saling membutuhkan, dan tidak bertantangan. 
Diantaranya ialah sebagai berikut :
Pertama, agama menyuruh manusia berpikir, menggunakan akal pikiran dan segenap potensi lainnya yang dimiliki.

Kedua, di dalam wahyu terdapat perintah Allah untuk melaksanakan ibadah, mengolah alam dalam rangka pelaksanaan fungsi sebagai khalifah di bumi dan lain sebagainya. Untuk melaksanakan semua itu jelas sekali memerlukan agama. Dengan kata lain  perintah mengembangkan ilmu pengetahuan dalam islam terintegrasi dengan perintah melaksanakan ibadah dan lainnya.

Ketiga, agama berisikan tentang moralitas akhlak mulia. Agama juga menjelaskan bagaimana seharusnya berusaha dan berbuat baik di dunia ini. Semuanya hanya bisa dijawab oleh agama. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang menawarkan barbagai kemudahan tidak tahu tujuan apa yang harus dicapai. Agamalah yang memberika landasan dan arah bagi penggunaan dan pemanfaatan ilu pengetahuan dan teknologi tersebut.

 Keempat, agama berfungsi membenarkan, melengkapidan mengoreksi terhadap berbagai temuan dalam bidang ilmu pengetahuan. Denganm demikian antara agama dan ilmu pengetahuan dalam pandangan islam bukan untuk dipertentangkan melainkan untuk saling melengkapi dengan catatan harus bertolak dari keyakinan dan realitas yang objektif bahwa imu pengetahuan sifatnya terbatas.

Kelima, agama berbicara tentang kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Kehidupan di dunia harus menjadi media untuk menuju kebahagiaan di akhirat. Karena itu kehidupan duniawi yang memerlukan dukungan ilmu pengetahuan agama itu membuthkan bimbingan agama.[5]

C.     Pandangan Islam Tentang IPTEK

Negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, saat ini pada umumnya adalah negara-negara berkembang atau negara terkebelakang, yang lemah secara ekonomi dan juga lemah atau tidak menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan sains-teknologi. Karena nyatanya kaum Muslim banyak yang masih bodoh dan lemah, maka mereka kehilangan harga diri dan kepercayaan dirinya. Beberapa di antara mereka kemudian menjadi hamba dan pengikut buta kepentingan negara-negara Barat. Mereka menyerap begitu saja nilai-nilai, ideologi dan budaya materialis (’matre’) dan sekular (anti Tuhan) yang dicekokkan melalui kemajuan teknologi informasi dan media komunikasi Barat. Akibatnya krisis-krisis sosial-moral dan kejiwaan pun menular kepada sebagian besar bangsa-bangsa Muslim.

Kenyataan memprihatikan ini sangat ironis. Umat Islam yang mewarisi ajaran suci Ilahiah dan peradaban dan Ipteks Islam yang jaya di masa lalu, justru kini terpuruk di negerinya sendiri, yang sebenarnya kaya sumber daya alamnya, namun miskin kualitas sumberdaya manusianya (pendidikan dan Ipteknya).[6]

Bila ada pemahaman atau tafsiran ajaran agama Islam yang menentang fakta-fakta ilmiah, maka kemungkinan yang salah adalah pemahaman dan tafsiran terhadap ajaran agama tersebut. Bila ada ’ilmu pengetahuan’ yang menentang prinsip-prinsip pokok ajaran agama Islam maka yang salah adalah tafsiran filosofis atau paradigma materialisme-sekular yang berada di balik wajah ilmu pengetahuan modern tersebut.

Islam sangat memotivasi umatnya untuk memfungsikan akal dan rasa secara seimbang. Sesungguhnya tidak ada dikotomi iman dan ilmu pengetahuan dalam Islam karena keduanya merupakan dua materi yang saling mendukung satu sama lain. Menuntut dan mengembangkan ilmu pengetahuan dalam Islam merupakan kewajiban bagi setiap muslim, dan muslim yang beriman akan menjalankan kewajiban yang diperintahkan Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itulah antara iman dan ilmu tidak dapat dipisahkan dalam Islam.Bahkan perintah Allah SWT yang pertama kepada umat Islam melalui rasul-Nya adalah perintah untuk menuntut ilmu.[7]

Ketika Al-Quran diturunkan ilmu pengetahuan telah berkembang diberbagai belahan dunia. Pada saat islam datang fisafat Yunani sudah tidak berkembang lagi di Athena, melainkan di negara Timur Tengah. Selain itu filsafat Yunani juga dipengaruhi oleh pandangan mitologi Yunani yang bersifat spekulatif. Islam mencoba menganalisis faktor penyebab utama terjadinya keadaan tersebut. Pilihannya ialah bahwa faktor penyebab utama terjadinya keadaan yang demikian adalah karena tidak berkembangnya ilmu pengetahuan sebagai akibat kurangnya perhatian terhadap pendidikan.[8]

Pandangan Al-Quran tentang ilmu dan teknologi dapat diketahui prinsip-prinsipnya dari analisis wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad saw .
Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq : 1-5)

Iqra’ terambil dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca baik teks tertulis maupun tidak. Wahyu pertama itu tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena Al-Quran menghendaki umatnya membaca apa saja selama bacaan tersebut bismi Rabbik, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu; bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun yang tidak. Alhasil, objek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya.

Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama ini bukan sekadar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak akan diperoleh kecuali mengulang-ulang bacaan atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan. Tetapi hal itu untuk mengisyaratkan bahwa mengulang-ulang bacaan bismi Rabbik (demi Allah] akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru, walaupun yang dibaca masih itu-itu juga. Demikian pesan yang dikandung Iqra’ wa rabbukal akram (Bacalah dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah).

Selanjutnya, dari wahyu pertama Al-Quran diperoleh isyarat bahwa ada dua cara perolehan dan pengembangan ilmu, yaitu Allah mengajar dengan pena yang telah diketahui manusia lain sebelumnya, dan mengajar manusia (tanpa pena) yang belum diketahuinya. Cara pertama adalah mengajar dengan alat atau atas dasar usaha manusia. Cara kedua dengan mengajar tanpa alat dan tanpa usaha manusia. Walaupun berbeda, keduanya berasal dari satu sumber, yaitu Allah SWT.

 Setiap pengetahuan memiliki subjek dan objek. Secara umum subjek dituntut peranannya untuk memahami objek. Namun pengalaman ilmiah menunjukkan bahwa objek terkadang memperkenalkan diri kepada subjek tanpa usaha sang subjek. Misalnya komet Halley yang memasuki cakrawala hanya sejenak setiap 76 tahun. Pada kasus ini, walaupun para astronom menyiapkan diri dengan peralatan mutakhirnya untuk mengamati dan mengenalnya, sesungguhnya yang lebih berperan adalah kehadiran komet itu dalam memperkenalkan diri.

Wahyu, ilham, intuisi, firasat yang diperoleh manusia yang siap dan suci jiwanya, atau apa yang diduga sebagai “kebetulan” yang dialami oleh ilmuwan yang tekun, semuanya tidak lain kecuali bentuk-bentuk pengajaran Allah yang dapat dianalogikan dengan kasus komet di atas. Itulah pengajaran tanpa qalam yang ditegaskan oleh wahyu pertama Al-Quran tersebut.[9]

D.    Manfaat IPTEK bagi Islam

Sudah seharusnya kita sebagai Umat Islam senantiasa men-taddaburi ayata-ayat-Nya, baik yang qouliyah maupun kauniyah. Karena di sana terdapat lautan ilmu-Nya,serta dorongan/ motivasi untuk mengkaji maupun mengimplementasikannya.

Artinya : “Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (QS. Ar-Rahman :33)

Dengan ayat ini manusia akan mengerti jika ingin menembus langit diperlukan energi yang besar. Maka dengan segala bahan-bahan yang ada di alam ini manusia harus mampu mengkonversi energi tersebut. Masih banyak ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan cabang-cabangnya. Allah SWT telah menciptakan alam beserta isi dan sistemnya  dan juga telah mengajarkannya kepada manusia. Dengan mencermati Al Qur’an, akan melahirkan kajian-kajian yang lebih detail tentang keberadaan ciptaan-Nya.[10]

Penerapan sains yang benar dan tepat sasaran yang dilandasi oleh nilai Islam sebagai agama “Rahmatan lil alamin” sudah pasti memberikan kemakmuran dan kesejahteraan serta mengangkat harkat dan martabat manusia lebih baik dan tinggi disisi Allah. Karena dalam Islam orang yang berilmu dan menggunakan ilmunya di jalan Allah untuk kemaslahatan umat manusia oleh Allah akan diangkat derajatnya lebih tinggi dari mereka yang tidak berilmu, karena dapat memberikan manfaat bagi orang lain.[11]

Tetapi sebaliknya penguasaan dan penerapan yang salah dan tidak dilandasi oleh nilai nilai agama, kata Allah tunggulah giliran kehancuran.
Al-Quran menjebut gejala-gejala alam sebagai tanda-tanda Tuhan dan menganjurkan kajian atas berbagai gejala alam sebagai jalan untuk menyembah Allah. Arti secara mendalam sebenarnya tafakur sesungguhnya adalah bukan sekedar mengagumi dan berdiam diri seperti orang menyaksikan suatu pemandangan yang sangat indah dan cantik, tetapi dibalik itu terkadung makna tindakan selanjutnya mempelajari sampai menemukan suatu bentuk sains maupun teknologi. Hal yang sama di sampaikan Allah dalam surat al-‘Alaq manusia diperintahkan membaca dan meneliti dan menulis (mengembangkan sains dan teknologi).

Dalam pandangan Al Qur’an umat manusia harus memiliki ilmu (sains) untuk memaknai penciptaan Allah. Panca indera tidak cukup untuk memperoleh informasi yang ditulis dalam Al Qur’an atau yang dimaksud Allah SWT kalau tidak memiliki kompetensi khusus. Oleh sebab itu dalam Islam menuntut ilmu adalah kewajiban manusia untuk mengisi kehidupan duniawi dan akhirat. Iman tanpa sains akan buta, karena sains itu adalah matanya iman yang dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah, sebaliknya sains tanpa iman akan biadap, karena iman akan menuntun manusia kepada hal-hal yang baik yang diridhoi Allah SWT.

Oleh karena itu pemikir dan intelektual Islam harus berani dan terus menerus menyampaikan bahwa keserasian islam dengan sains dan teknologi bukan hanya sekedar pertukaran bebas ide ide (dialog intelektual) dan memperjuangkan untuk menyebarkan Islam dan mempertahankan tuduhan-tuduhan barat sebagai fundamentalisme yang tidak mengenal kompromi dan keterbelakangan. Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia, memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktivitas manusia.[12]

Khusus dalam bidang teknologi, masyarakat sudah menikmati banyak manfaat yang telah dihasilkan dalam dekade terakhir ini.Contoh termudah adalah dampak positif dari berkembangnya iptek di bidang teknologi komunikasi dan informasi.

Perkembangan teknologi akhir-akhir ini, menjadikan dunia yang amat luas di era globalisasi ini menjadi sempit, mengecil, dan terbatas. Perubahan ini tentu saja berdampak positif dan negatif bagi kelangsungan hidup seorang muslim. Dampak negatif dari perubahan dan pergeseran zaman mampu mengguncang, menggeser, dan mengikis habis nilai-nilai moral dan iman. Bahkan, lebih jauh dari itu dapat menghancurkan masa depan dan peradaban manusia.

Oleh karena itu, seorang muslim harus membentengi diri dengan keimanan dan keislaman yang kuat. Tanpa iman yang kokoh kehidupan seorang muslim akan terombang-ambing dan bisa berujung pada kehancuran. Iman adalah pelita, yang menjadi penerang dan petunjuk pada jalan yang lurus.[13]

Di antara manfaat‑manfaat teknologi tersebut adalah :

1)                  Memperoleh Kemudahan

Kemampuan fisik manusia untuk meraih berbagai kebutuhan hidup sangat terbatas. Pandangan mata, pendengaran telinga manusia terbatas, begitu pula kekuatan dan keterampilan tangan dan kakinya. Kemampuan fisik manusia itu tidak sebanding dengan kebutuhan yang diinginkan. Tetapi manusia sebagai khalifah Allah diberikan kemampuan akal‑pikiran untuk memanfaatkannya menemukan cara‑cara yang tepat dan efektif guna meraih kebutuhan hidup yang tidak mungkin dicapai melalui kemampuan fisik semata. Akal‑pikiran manusia mampu mendayagunakan segala yang Allah ciptakan di bumi ini. Kemampuan itu memang telah ditentukan oleh Allah Swt sebagaimana Allah nyatakan dalam firman‑Nya

Artinya : “Dan dia Telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al- Jaziyah  : 13)

2)                  Mengenal dan Mengagungkan Allah.

Apabila manusia mampu menghayati akan makna sains dan teknologi yang dikembangkannya, bahwa sernua itu bukan semata‑mata karena faktor diri pribadi manusia, tetapi ada faktor lain di luar dirinya, maka manusia akan memperoleh jalan untuk mengenal sesuatu yang lain di luar dirinya itu, yaitu Yang Maha Agung, Yang Maha Kuasa, dan Yang Maha Bijaksana, yaitu Allah SWT.

Kesempurnaan alam dengan struktur dan sistemnya tidak bisa dibayangkan akan terbentuk dengan sempurna apabila tidak ada kesengajaan pihak lain, yaitu Yang Maka Kuasa dan Maha Sempurna. Semakin luas dan dalam pengetahuan manusia akan rahasia alam ini, maka semakin dekat manusia untuk mengenal Pencipta alam ini, yaitu Allah, Sang Khalik. Ketika pertama manusia mengembangkan teknologi bangunan, manusia telah diberikan contoh langit yang tinggi, yang luas dan kokoh, yang tidak takut akan runtuh.

Begitu pula ketika manusia mengembangkan teknologi pesawat udara, Allah telah memberikan contoh bagaimana burung bisa terbang di angkasa dengan stabil, mampu mempertahankan keseimbangan tanpa takut jatuh, dan lain sebagainya.

Karena itu ketika menerangkan berbagai struktur di alam ini, Allah menyatakan bahwa semua itu menjadi pelajaran bagi manusia untuk lebih mengenal dan mengangungkan Allah penciptanya. Hal itu dapat kita pahami dari berbagai ayat Al-Qur’an, diantaranya :

Artinya : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan.  Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?.  Maka berilah peringatan, Karena Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.” (QS. Al-Gashiyah : 17-21)

3)                  Meningkatkan Kualitas Pengabdian Kepada Allah

Manusia diciptakan oleh Allah hanyalah untuk mengabdi kepada‑Nya. Demikian dinyatakan oleh Allah dalam firman­-Nya:

Artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”(QS. Al-Dzariyat : 56)

Seluruh aktivitas hidup manusia hendaknya diwujudkan sebagai pelaksanaan pengabdian kepada Allah tersebut. Pengabdian manusia kepada Allah di sini adalah pengabdian dalam arti luas, yaitu seluruh aktivitas, yang memenuhi kriteria (1) diniatkan untuk menaati aturan Allah; (2) dilakukan dengan mengikuti ketentuan yang diberikan alah, baik dalam bentuk kegiatan yang telah ditentukan tata caranya maupun dalam bentuk penggalian jenis kegiatan yang bermanfaat yang sejalan dengan nilai-nilai kebenaran yang ditunjukkan Allah; dan (3) dimaksudkan untuk memperoleh ridha Allah.

Teknologi apabila dirancang dan dimanfaatkan secara benar dalam konteks tugas pengabdian manusia tersebut, maka teknologi diyakini akan mampu meningkatkan kualitas pengabdiannya kepada Allah. Jam misalnya, adalah produk teknologi yang dimanfaatkan oleh umat Islam setiap hari untukl mengetahui waktu-waktu shalat sehingga umat Islam dapat menunaikan ibadah shalat tepat pada waktunya, begitu pula kompas dimanfaatkan untuk mengetahui arah kiblat sehingga tidak terjadi salah arah dalam shalat. Dalam hal produk teknologi pangan, dengan banyaknya produk makanan yang beredar di masyarakat, kita mampu mengetahui komponen‑komponen yang dipergunakan sebagai bahan, proses pembuatannya, sehingga kita dapat mengetahui apakah makanan yang kita konsumsi itu halal atau haram, begitu pula dengan produk‑produk teknologi lainnya.

4)                  Memperoleh Kesenangan dan Kebahagiaan Hidup

Kemudahan‑kemudahan yang diperoleh manusia melalui pemanfaatan teknologi membuat manusia dapat memperoleh kesenangan dan kebahagiaan hidup serta tetap dalam koridor kesenangan dan kebahagiaan yang halal, yang diridhai Allah. Allah tidak menghendaki manusia hidup susah, tetapi sebaliknya Allah menghendaki manusia hidup senang, hidup bahagia. Ketika Allah menempatkan Adam dan istrinya di bumi, Allah berfirman:

Artinya: “ …. dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan” (Qs. Al-Baqarah : 36).

Untuk memperoleh kesenangan dan kebahagiaan hidup yang disediakan oleh Allah itu, manusia diberikan sarana kebutuhan yang serba lengkap di bumi, sebagaimana Allah nyatakan:

Artinya: “Dia-lah Alah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu sekalian dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Baqarah : 29)

5)                  Meningkatkan Kemampuan Memanfaatkan Kekayaan Alam

Teknologi meningkatkan kemampuan manusia melakukan eksplorasi kekayaan alam tersebut secara optimal. Banyak negara, bangsa yang tidak memiliki kekayaan alam memadai tetapi karena memiliki kemampuan teknologi canggih hidup lebih sejahtera dibandingkan dengan negara, bangsa yang memiliki kekayaan alam melimpah tetapi teknologinya tertinggal. Jepang umpamanya, adalah sebuah negara kecil, yang miskin akan kekayaan alam, tetapi kemajuan teknologinya tinggi, ia lebih kaya dibandingkan dengan Indonesia yang kekayaannya melimpah tetapi tertinggal kemajuan teknologinya dibandingkan dengan Jepang. Masih banyak negara di dunia ini yang kaya seperti Jepang dan yang tertinggal seperti Indonesia.

Eksplorasi kekayaan alam diingatkan oleh Allah agar jangan sampai tak terkontrol sehingga berubah menjadi eksploitasi alam, yang mengakibatkan kerusakan alam, terganggunya keseimbangan lingkungan, karena justru akan mengakibatkan timbulnya malapetaka bagi manusia, seperti banjir,  pencemaran lingkungan, ,dan lain-lain. Dalam firman Allah:

Artinya:  “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Rum : 41).

6)                  Menumbuhkan Rasa Syukur Kepada Allah.

Bagi orang beriman, sekecil apapun nikmat yang ia dapatkan dari rezeki halal yang diberikan Allah kepadanya akan melahirkan rasa syukur kepada‑Nya sebagai pemberi nikmat. Apalagi dengan kemajuan teknologi yang mampu melipat‑gandakan nikmat itu kepadanya, maka rasa syukur kepada‑Nya pun juga akan berlipat ganda. Rasa syukur kepada Allah yang paling ringan adalah mengucapkan “alhamdulillahi rabbil ‘alamin “, namun hakikat syukur yang sebenarnya adalah memanfaatkan nikmat itu secara, benar untuk meningkatkan ketakwaannya kepada Allah. Karena itu diperlukan tekad, kesungguhan untuk mewujudkan rasa syukur dalam amal kehidupan secara riil. Allah mengingatkan:

Aritnya : “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim : 7)

Teknologi membuat manusia semakin mudah meraih keinginannya, semakin ringan beban hidup yang harus ditanggung, semakin besar hasil yang bisa diperoleh. Kemudahan, keringanan, dan kenikmatan itu tidak mustahil membuat manusia semakin lupa kepada Allah, semakin jauh dari-Nya, apabila tidak disikapi secara cermat dan diiringi dengan iman yang teguh. Karena itu ilmu pengetahuan dan teknologi harus dilandasi oleh iman agar pemanfaatannya terarah untuk meningkatkan kualitas takwanya kepada Allah SWT.[14]

                                        
[1] http:/www.scribd.com/doc/83019545/pengertian-integras, diakses pada tanggal 17 Maret 2013

[2] Turmudi, dkk, Islam, Sains dan Teknologi Menggagas Bangunan Keilmuan Fakultas Sains dan Teknologi Islami Masa Depan, (Malang : UIN Maliki Press, 2006), hlm. 15

[3] Drs. Kaelany HD, M.A., Islam dan Aspek-aspek Kemasyarakatan, (jakarta : PT Bumi Aksara, 2005),  hlm. 224

[4] Rohadi dan Suharsono, Ilmu dan Teknologi dalam Islam Cetakan ke-3, (Jakarta : Departemen Agama RI, 2005), hlm. 56

[5] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A., dkk, Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 72-74

[6] http://bhianrangga.wordpress.com/2011/01/04/peranan-iman-dalam-menghadapi-arus-globalisasi/, diakses pada tanggal 10 Maret 2013

[7] http://bhianrangga.wordpress.com/2011/01/04/peranan-iman-dalam-menghadapi-arus-globalisasi/, diakses pada tanggal 10 Maret 2013

[8] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, dkk., hlm. 51

[9] http://blog.re.or.id/persepsi-islam-terhadap-perkembangan-sains-dan-teknologi.htm, diakses pada tanggal 10 Maret 2013

[10] http://koesandi.wordpress.com/2009/08/13/hubungan-iptek-dengan-agama/, diakses pada tanggal 10 Maret 2013

[11] http://blog.re.or.id/persepsi-islam-terhadap-perkembangan-sains-dan-teknologi.htm, diakses pada tanggal 10 Maret 2013

[12] http://blog.re.or.id/persepsi-islam-terhadap-perkembangan-sains-dan-teknologi.htm, diakses pada tanggal 10 Maret 2013

[13]http://bhianrangga.wordpress.com/2011/01/04/peranan-iman-dalam-menghadapi-arus-globalisasi/, diakses pada tanggal 10 Maret 2013

[14] http://mischanz.wordpress.com/2009/12/16/manfaat-teknologi-dari-sudut-pandang-islam/, diakses padaa tanggal 10 Maret 2013
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !


Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template