Headlines News :
Home » » MAKALAH EVALUASI PENDIDIKAN

MAKALAH EVALUASI PENDIDIKAN

Written By Ahmad Multazam on Tuesday, March 19, 2013 | 9:48 PM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

I.                   PENDAHULUAN
Dewasa ini, pendidikan dijadikan ujung tombak kemajuan suatu negara. Pendidikan dipandang mampu jadi pemecah atas masalah-masalah sosial yang ada. Sejauh ini, pendidikan di negara kita masih semrawut, terutama soal pengaturan kurikulum. Kritik terhadap kurikulum kita saat ini ialah kurang tepatnya kurikulum dengan mata pelajaran yang terlalu banyak, dan tidak berfokus pada hal-hal yang seharusnya diberikan. Dan yang paling parah pada setiap sistem pendidikan kita yaitu kurangnya evaluasi yang efektif.
Untuk mengetahui proses pendidikan telah berjalan sesuai program, serta telah mencapai tujuan secara efisien dan efektif, atau proses pendidikan tersebut tidak berjalan sesuai program dan tidak mencapai tujuan yang diharapkan, maka untuk mengetahui hal tersebut diperlukan kegiatan yang disebut evaluasi.
Evaluasi adalah pengambilan keputusan berdasarkan hasil pengukuran dan standar kriteria yang merupakan kegiatan berkesinambungan.[1] Mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan evaluasi pendidikan, untuk lebih jelasnya akan dibahas pada pembahasan di dalam makalah Evaluasi Pendidikan ini.

II.                RUMUSAN MASALAH
A.  Apa pengertian, tujuan dan fungsi evaluasi pendidikan?
B.  Apa saja metode yang digunakan dalam evaluasi?
C.  Model-model apa saja yang ada dalam kegiatan evaluasi?

III.             PEMBAHASAN
A.  Pengertian, Tujuan dan Fungsi Evaluasi Pendidikan
A.1 Pengertian Evaluasi Pendidikan
Dilihat dari segi bahasa, evaluasi berasal dari kata Bahasa Inggris; evaluation. Sedang dalam Bahasa Arab; al-Tqdir (التقدير), dan dalam Bahasa Indonesia; penilaian[2], yang akar katanya adalah value (inggris), al-Qimah (arab), nilai (Indonesia).[3] Sementara pendidikan merupakan sebuah program. Program yang melibatkan sejumlah komponen yang bekerja sama dalam sebuah proses untuk mencapai tujuan yang telah diprogramkan.[4]
Dengan demikian, secara harfiah evaluasi dapat diartikan sebagai penilaian dalam bidang pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan pendidikan.
Sedangkan secara istilah menurut Edwin Wand dan Gerald W. Brown, evaluation refer to the act or process to determining the value of something, yaitu suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.[5]
Evaluasi pendidikan juga diartikan dengan proses untuk memberikan kualitas yaitu nilai dari kegiatan pendidikan yang telah dilaksanakan, yang mana proses tersebut berlangsung secara sistematis, berkelanjutan, terencana, dan dilaksanakan sesuai dengan prosedur.[6]
Dari beberapa pendapat di atas, pendapat Robert O. Brinkerhoff & Cs (1983) perlu diketahui. Ada sepuluh pertanyaan untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan evaluasi.
1.    Apa Arti Evaluasi?
2.    Untuk Apa Evaluasi?
Sriven (1967) membedakan antara evaluasi formatif dan evaluasi sumatif sebagai fungsi evaluasi yang utama. Fungsi formatif, dimana evaluasi dipakai untuk perbaikan dan pengembangan kegiatan yang sedang berjalan (program, orang, produk, dan sebagainya). Sedangkan fungsi sumatif menyangkut evaluasi yang dipakai untuk pertanggungjawaban, keterangan, seleksi atau lanjutan. Jadi, evaluasi hendaknya membantu pengembangan, implementasi, kebutuhan suatu program, perbaikan program, pertanggungjawaban, seleksi, motivasi, menambah pengetahuan dan dukungan dari mereka yang terlibat.
3.    Apa Objek Evaluasi?
Hampir semua unit training dapat dijadikan objek suatu evaluasi. Siswa atau mahasiswa sudah merupakan objek yang populer bagi evaluasi pendidikan. Yang lain-lainnya seperti proyek atau program institusi pendidikan yang sekarang menjadi obyek evaluasi yang semakin populer[7].
4.    Aspek dan Dimensi Objek Apa yang Akan Dievaluasi?
Akhir-akhir ini, usaha evaluasi ditujukan untuk memperbanyak variabel evaluasi dalam bermacam-macam model evaluasi. Model CIPP dari Stufflebeam mengemukakan evaluasi yang berfokus pada empat aspek, yaitu: konteks, input, proses, implementasi, dan produk.
Evaluasi lengkap terhadap evaluasi pendidikan akan menilai misalnya manfaat tujuannya, mutu rencana, sampai sejauh mana tujuan dijalankan, dan mutu hasilnya. Jadi, evaluasi hendaknya berfokus pada tujuan dan kebutuhan, desain training, implementasi, transaksi, dan hasil training[8].
5.    Kriteria Apa yang Dipakai untuk Menilai Suatu Objek?
Tampaknya ada persetujuan di antara ahli evaluasi bahwa kriteria yang dipakai untuk menilai suatu objek tertentu hendaknya ditentukan  dalam konteks tertentu dan fungsi evaluasinya. Jadi hal-hal yang harus diperhatikan  dalam menentukan kriteria penilaian suatu objek ialah:
a)    Kebutuhan, ideal, dan nilai-nilai
b)   Penggunaan yang optimal dari sumber-sumber dan kesempatan
c)    Ketepatan efektivitas training
d)   Pencapaian tujuan yang telah dirumuskan dan tujuan penting lainnya. Kriteria yang ganda hendaknya sering dipakai.
6.    Siapa yang Harus Dilayani oleh Evaluasi?
Supaya evaluasi betul-betul bermanfaat, maka evaluasi itu harus berguna untuk audiensi khusus. Kebanyakan literatur evaluasi tidak menyarankan siapa audiensi yang tepat. Namun ada tiga hal yang diusulkan Farida Yusuf Tayibnapis, yaitu:
1)   Evaluasi dapat mempunyai lebih dari seorang audiensi
2)   Masing-masing audiensi mungkin punya kebutuhan yang berbeda
3)   Audiensi khusus kebutuhannya harus dirumuskan dengan jelas pada waktu memulai rencana evaluasi[9]
7.    Apa Langkah-Langkah dan Prosedur yang dalam Evaluasi?
Proses melakukan evaluasi mungkin saja berbeda sesuai persepsi teori yang dianut, ada bermacam-macam cara. Namun evaluasi harus memasukkan ketentuan dan tindakan sejalan dengan fungsi evaluasi, yaitu:
1)   Memfokuskan evaluasi
2)   Mendesain evaluasi
3)   Mengumpulkan informasi
4)   Menganalisis informasi
5)   Melaporkan hasil evaluasi
6)   Mengelola evaluasi
7)   Mengevaluasi evaluasi
8.    Metode Apa yang Akan Digunakan dalam Evaluasi?
9.    Siapa yang Akan Melakukan Evaluasi?
Untuk menjadi evaluator yang kompeten dan dapat diandalkan, ia harus mempunyai kombinasi berbagai ciri, antara lain: mengetahui dan mengerti teknik pengukuran dan metode penelitian, mengerti tentang kondisi sosial dan hakikat objek evaluasi, mempunyai kemampuan human relation, serta bertanggung jawab. Karena sulit mencari orang yang mempunyai begitu banyak kemampuan, maka sering evaluasi dilakukan oleh suatu tim.
10.                     Apa Standar untuk Menilai Evaluasi?
Akhir-akhir ini telah dicoba pengembangan standar untuk kegiatan evaluasi pendidikan. Standar yang paling komprehensip dan rinci dikembangkan oleh Committee on Standard for Educational Evaluation (Joint Committee, 1981) dengan ketuanya Daniel Stufflebeam, yaitu:
a)   Utility (bermanfaat dan praktis)
b)   Accuracy (secara teknik tepat)
c)   Feasibility (realistik dan teliti)
d)   Proppriety (dilakukan dengan legal dan etik)
Tidak ada satu evaluasi pun dapat diharapkan mencapai standar tersebut,  dan sampai sejauh mana kesepakatan evaluator akan kepentingan standar tersebut masih perlu ditentukan. Lee J. Cronbach (1980) mengatakan bahwa standar yang digunakan untuk melakukan evaluasi mungkin tak sepenting konsekuensinya. Ia mengatakan evaluasi yang baik ialah yang memberikan dampak positif pada perkembangan program.
Dari beragam pendapat di atas, penulis menangkap bahwa yang dimaksud dengan evaluasi pendidikan adalah suatu kegiatan (proses) yang dilaksanakan oleh lembaga pendidikan, dan tenaga ajar untuk menilai kegiatan pendidikan secara berkesinambungan dan sistematis.
A.2 Tujuan Evaluasi Pendidikan
Menurut Anas Sudijonno, tujuan evaluasi pendidikan terbagi menjadi dua yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.[10]
a.         Tujuan umum adalah evaluasi pendidikan bertujuan untuk memperoleh data pembuktian, yang akan menjadi petunjuk sampai di mana tingkat kemampuan dan tingkat keberhasilan peserta didik dalam pencapaian tujuan kurikuler serta bertujuan untuk mengukur, menilai tingkat efektifitas mengajar dan metode yang telah diterapkan oleh pendidik dalam proses pendidikan.
b.         Tujuan khusus adalah evaluasi pendidikan bertujuan untuk memberikan rangsangan kepada peserta didik dalam menempuh program pendidikan (memunculkan sikap untuk memperbaiki dan menigkatkan prestasi), serta bertujuan untuk mencari dan menemukan faktor-faktor penyebab keberhasilan atau ketidakberhasilan peserta didik dalam melaksanakan proses pendidikan.
Lebih singkatnya, Worten, Blaine R, dan James R, Sanders (1987) merumuskan tujuan evaluasi pendidikan sebagai berikut[11]:
1.    Membuat kebijaksanaan dan keputusan.
2.    Menilai hasil belajar yang dicapai para pelajar.
3.    Menilai kurikulum.
4.    Memberi kepercayaan kepada sekolah.
5.    Memonitor dana yang telah diberikan.
6.    Memperbaiki materi dan program pendidikan.
A.3 Fungsi Evaluasi Pendidikan
              Evaluasi mempunyai fungsi yang bervariasi di dalam proses belajar mengajar, yaitu sebagai berikut:
1)   Sebagai alat guna mengetahui apakah peserta didik telah menguasai pengetahua, nilai-nilai, dan keterampilan yang telah diberikan oleh seorang guru.
2)   Untuk mengetahui aspek-aspek kelemahan peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar.
3)   Mengetahui tingkat ketercapaian siswa dalam kegiatan belajar.
4)   Sebagai sarana umpan balik seorang guru, yang bersumber dari siswa.
5)   Sebagai alat untuk mengetahui perkembangan belajar siswa.
6)   Sebagai materi utama laporan hasil belajar kepada para orang tua siswa.
B.  Metode Evaluasi Pendidikan
          Secara garis besar, metode evaluasi dalam pendidikan dibedakan dalam dua bentuk, yaitu tes dan nontes. Tipe evaluasi yang pertama adalah tes yang biasanya direalisasikan dengan tes tertulis. Tes tertulis juga dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1)   Tes objektif
               Tes ini disebut juga alat evaluasi guna mengungkap atau menghafal kembali dan mengenal materi yang telah diberikan. Tes ini biasanya diberikan dengan item pertanyaan menghafal yang di antaranya sebagai jawaban bebas, melengkapi, dan identifikasi (Cross 1973: 19). Pertanyaan pengenalan (recognizing question) dibedakan menjadi tiga macam bentuk tampilan, yaitu soal benar-salah, pilihan ganda, dan menjodohkan.
              Tes objektif ini ada dua macam, yaitu jenis isian (supply type) dan jenis pilihan ganda (selection type). Tes objektif jenis isian juga mencakup tiga macam tes, yaitu tes jawaban bebas atau jawaban terbatas, tes melengkapi, dan tes asosiasi.
              Tes objektif jenis pilihan ganda dikatakan lebih efektif oleh sebagian ahli penilaian, terutama untuk mengukur beberapa hasil belajar peserta didik. Tes ini bervariasi dari yang sederhana misalnya jawaban dua alternatif betul-salah, item tes menjodohkan, sampai pada item tes pilihan ganda yang dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar kompleks[12].
2). Tes Esai
               Pertanyaan esai pada umumnya dapat dibedakan dalam dua jawaban berbeda, yaitu jawaban terbatas dan jawaban luas. Evaluasi yang dibuat dengan menggunakan pertanyaan esai biasanya digunakan untuk menerangkan, mengontraskan, menunjukkan hubungan, memberikan pembuktian, menganalisis perbedaan, menarik kesimpulan, dan menggeneralisasi pengetahuan peserta didik.
              Grounlund (1990) membedakan tes esai menjadi dua macam, yaitu tes esai dengan jawaban panjang, dan tes esai dengan jawaban singkat. Tes esai dengan jawaban panjang dirancang oleh para evaluator untuk melihat kemampuan siswa dalam menuangkan ide dalam satu kesatuan yang komprehensip, koherensi, dan sistematis sehingga memberikan kejelasan jawaban. Jawaban tes esai yang tidak membatasi ide-ide yang dituangkan oleh siswa untuk menjawab pertanyaan item merupakan tes yang disusun untuk tujuan tertentu. Contohnya, tes tertulis ujian tahap akhir, yakni ujian skripsi, tesis, dan disertasi, di mana siswa dituntut untuk menjawab pertanyaan secara komprehensip dan mendalam.
              Tes esai dikatakan sebagai jawaban terbatas, apabila dalam menjawab para siswa hanya diminta menguraikan ide-idenya secara singkat dan tepat sesuai dengan spasi atau ruang yang disediakan oleh para evaluator. Jawaban pertanyaan esai terbatas ini biasanya mengarah kepada jawaban yang lebih spesifik dan lebih pasti seperti kunci jawaban yang telah dibuat evaluator.
              Item tes esai dapat dikontruksi dengan menggunakan kata bantu pertanyaan tertentu yang mengandung unsur 4W + 1H. Di samping itu, pertanyaan esai harus direncanakan secara sistematis untuk mendorong para siswa agar memiliki kemampuan mengekspresikan ide-ide mereka[13]. 
Bentuk kedua evaluasi ialah nontes. Alat nontes ini digunakan untuk mengevaluasi penampilan dan aspek-aspek belajar efektif dari siswa. Alat nontes kadang ada yang menggunakan pengukuran, tetapi ada pula yang tidak menggunakan pengukuran, sebagai contoh observasi, bentuk laporan, teknik audio visual, dan teknik sosiometri.
Alat evaluasi lain yang termasuk nontes adalah angket dan kuesioner. Dalam bidang evaluasi, angket sering digunakan untuk menentukan kondisi tertentu dan fakta tentang siswa[14].
C.  Model-Model Evaluasi Pendidikan
        Dengan memperlajari secara intensif tentang model, seorang evaluator dapat lebih mudah memahami dan kemudian mengembangkan evaluasi dalam konteks yang lebih luas yaitu bidang pendidikan. Minimal, ada lima macam model yang dapat dikembangkan sebagai acuan perkembangan model evaluasi saat ini. Kelima model tersebut adalah model Tyler, sumatif-formatif, countenance, CIIP, dan Connaisance. Namun di sini hanya akan diuraikan tiga model saja, yaitu:
1.      Model Tyler
Pendekatan Tyle pada prinsipnya menekankan perlunya suatu tujuan dalam proses belajar mengajar. Pendekatan ini merupakan pendekatan sistematis, elegan, akurat, dan secara internal memiliki rasional yang logis.
Dalam bidang kurikulum, fokus model Tyler pada prinsipnya lebih menekankan perhatian pada sebelum dan sesudah perencanaan kurikulum. Di samping itu, model Tyler juga menekankan bahwa perilaku yang diperlukan diukur dua kali, yaitu sebelum dan sesudah perlakuan (treatment) dicapai oleh pengembang kurikulum.
2.      Model Evaluasi Sumatif – Formatif
Model evaluasi ini berpijak pada prinsip evaluasi model Tyler. Aplikasi evaluasi sumatif-formatif sudah banyak dipahami oleh para guru dan sangat populer, karena model ini dianjurkan oleh pemerintah melalui menteri pendidikan dan termasuk dalam lingkup evaluasi pembelajaran di kelas.
a)      Evaluasi Sumatif
Evaluasi ini dilakukan oleh para guru setelah siswa mengikuti proses pembelajaran dengan waktu tertentu, misalnya pada akhir proses belajar mengajar, termasuk juga akhir semester. Tujuannya untuk menentukan posisi siswa dalam penguasaan materi pembelajaran yang telah diikuti selama satu proses pembelajaran. Adapun fungsi evaluasi sumatif ini adalah sebagai laporan pertanggungjawaban pelaksanaan proses pembelajaran, di samping itu juga untuk menentukan pencapaian hasil belajar yang telah diikuti oleh para siswa.
b)      Evaluasi Formatif
Evaluasi ini bertujuan untuk memperoleh informasi yang diperlukan evaluator tentang siswa guna menentukan tingkat perkembangan siswa dalam satuan unit  proses belajar mengajar. Evaluasi ini dilakukan secara periodik atau kontinu. Fungsinya, agar proses pembelajaran maupun strategi pembelajaran yang telah diterapkan dapat diperbaiki.
3.      Model CIIP
Model context input process product (CIIP) merupakan hasil kerja para peneliti USA. Model ini tidak terlalu menekankan pada tujuan suatu program. Pada model CIIP ini, para evaluator mulai mengambil perhatian pada bentuk pemikiran lain dengan cara menganalisis guna menentukan keputusan apa yang hendak dibuat, siapa yang membuat, bagaimana jadwalnya, dan menggunakan kriteria apa? Hal yang menjadi pokok pertimbangan mencakup empat macam keputusan, yaitu Context, Input, Process, dan Product.
Dari sekian banyak model evaluasi pendidikan yang ada, semuanya tetap memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri. Hak evaluator hendak menggunakan model yang mana, selama itu dipandang relevan dan akurat.


[1] Purwanto, Ibid, hlm. 1.
[2] Lihat KBBI, hlm. 400.
[3] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rajagrafindo, 2011), cet. 10, hlm. 1.
[4] Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), cet. 3, hlm. 1.
[5] Ibid, hl. 1.
[6] Zaenal Arifin, evaluasi pembelajaran, (Bandung : Rosda, 2010), cet. 2, hl. 5 – 6.
[7] Farida Yusuf Tayibnapis, Evaluasi Pendidikan dan Instrumen Evaluasi, 2008, Jakarta: Rineka Cipta, hlm.4
[8] Farida Yusuf Tayibnapis, Evaluasi Pendidikan dan Instrumen Evaluasi, 2008, Jakarta: Rineka Cipta, hlm.5
[9] Farida Yusuf Tayibnapis, Evaluasi Pendidikan dan Instrumen Evaluasi, 2008, Jakarta: Rineka Cipta, hlm.6
[10] Anas sudijono, Op.Cit, hl. 16 – 17.
[11] Farida Yusuf Tayibnapis, Evaluasi Pendidikan dan Instrumen Evaluasi, 2008, Jakarta: Rineka Cipta, hlm. 3
[12]H.M Sukardi, Evaluasi Pendidikan; Prinsip & Operasionalnya, Jakarta: Bumi Aksara,2009, hlm. 117.
[13] H.M Sukardi, Evaluasi Pendidikan; Prinsip & Operasionalnya, Jakarta: Bumi Aksara,2009, hlm. 94-95.
[14] H.M Sukardi, Evaluasi Pendidikan; Prinsip & Operasionalnya, Jakarta: Bumi Aksara,2009, hlm. 11-12.
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

About Me

My Photo

Knowledge is being aware of what you can do. Wisdom is knowing when not to do it.
 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template