Headlines News :
Home » » Program Kegiatan PAUD Terintegrasi

Program Kegiatan PAUD Terintegrasi

Written By Ahmad Multazam on Saturday, January 19, 2013 | 9:55 AM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

I.                   PENDAHULUAN
Anak dalam perspektif islam merupakan amanah dari Allah SWT. Dengan demikian, semua orangtua berkewajiban untuk mendidik anaknya agar menjadi insan yang saleh, berilmu dan bertaqwa. Hal ini merupakan wujud pertanggung jawaban dari setiap orang tua anak kepada Khaliqnya.
Disadari bahwa terdapat banyak buku tentang manhaj didalam mendidik anak, akan tetapi bagaimana manhaj tarbiyah anak atau metode mendidik anak secara islami masih langka. Padahal untuk mewujudkan generasi ummat islam yang islami pada masa depa, dibutuhkan pembinaan atau pendidikan anak sejak usia kecil.
II.                PERUMUSN MASALAH
A.  Pengertian, visi, misi dan fungsi program PAUD
B.  Kegiatan-kegiatan pada program pembelajaran dan program bimbingan PAUD
C.  Kegiatan pada bentuk-bentuk PAUD terintegrasi
     III. PEMBAHASAN 
A.  Pengertian Anak usia dini
Ada beragam pendapat dalam hal ini. Batasan tentang anak usia dini antara lain disampaikan oleh NAEYC (Ntional Association for the Education of Young Children), yang mengatakan bahwa anak usia dini adalah anak yang berada pada reentang usia 0-8 tahun, yang tercakup dalam program pendidikan ditaman pendidikan anak, penitipan anak pada keluarga (family child care home), pendidikan pra sekolah baik swasta maupun negeri, TK, dan SD (NAEYC, 1992). Sedangkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 1 ayat 14 menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki keiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut [1](Depdiknas, 2003). Sementara itu, UNESCO dengan persetujuan Negara anggotanya membagi jenjang pendidikan menjadi 7 jenjang yang disebut International Standart Clasifikation of Education (ISDEC). Pada jenjang yang ditetapkan UNESCO tersebut, yaitu anak usia 3-5 tahun. Dalam implementasinya di beberapa negara, pendidikan usia dini menurut UNESCO ini tidak selalu dilaksanakan sama, seperti jenjang usianya. Dibeberapa negara dikemukakan ada yang memulai pendidikan pra sekolah ini lebih awal, yaitu pada usia 2 tahun, dan beberapa negara lain mengakhirinya pada usia 6 tahun. Bahkan beberapa negara lainnya lagi memasukkan pendidikan dasar dalam jenjang peendidikan anak usia dini (Siskandar, 2003).
Pada buku materi pokok ini, fokus pembahasan kita adalah anak usia dini yang berada pada rentang usia dibawah 4 tahun saja.
2. fungsi prrogram PAUD adalah untuk memperkenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak, mengenalkan anak dengan dunia sekitar, menumbuhkan sikap dan prilaku yang baik, mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi, mengembangkan ketrampilan, kreatifitas dan kemampuan yang dimiliki anak, menyiapkan anak untuk memasuki pendidikan dasar. Adapun tujuannya untuk membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional, kognitif, bahasa, fisik atau motorik, kemandirian dan seni untuk memasuki pendidikan dasar.
B.  Kegiatan-kegiatan pada program pembelajaran dan program bimbingan PAUD.
Program pembelajaran PAUD
1.    Keteladanan dalam kehidupan anak
2.    Kegiatan memotivasi anak
Ø Keteladanan dalam kehidupan anak, dalam hal ini pemberi teladan kepada anak-anak adalah guru-guru dan orang tua. Keteladanan memberikan pengaruh yang lebih besar daripada omelan atau nasihat. Jika prilaku orang tua atau guru berbeda atau ertolak belakang dengan nasihat-nasihatnya, [2]niscaya kegiatan belajar-mengajar itu gagal. Diantara berbagai hal yang perlu diperhatikan seorang guru dalam mencerminkan keteladanan kepada anak didiknya adalah:
1.    Seorang guru harus menjauhkan diri dri sikap dusta agar anak-anak tidak belajar berdusta
2.    Seorang guru tidak boleh memanjangkan kukunya, agar anak-anak tidak meniru memanjangkan kukunya
3.    Seorang guru harus menjaga bersih giginya, agar anak-anak pun senantiasa mementingkan kebersihan giginya
4.    Seorang guru tidak boleh membuang sampah semmbarangan
5.    Bagaimanapun marahnya, seorang guru tidak boleh mengeluarkan kata-kata kasar dan umpatan agar anak-anak tidak menirunya
6.    Seorang guru harus berusaha menghindarkan diri dari berdandan yang berlebihan atau mengecat kukunya agar tidak menghilangkan kemurnian anak-anak
7.    Guru-guru harus berusaha menghindari obrolan-obrolan berlebihan terhadap mereka agar anak-anak tidak terlantarkan
8.    Seorang guru harus memilki sikap toleran terhadap anak yang melakukan kesalahan dan menasihatinya dengan bahasa yang lembut tanpa bermaksud memanjakan, agar anak-anak terbiasa memafkan kesalahan dan berlaku santun terhadap orang lain.
Dari gambaran diatas jelaslah bahwa pengendalian diri seorang guru didepan anak-anak lebih penting daripada kemampuannya mengajarkan aritmetika atau bahasa asing
Ø Kegiatan memotivasi anak
1.    Kegiatan harian awal
a.    Seorang ibu guru harus berupaya menyambut dan menghadapi anak-anak setiap hari dengan wajah cerah serta berusaha menyebarkan suasana kasih dan bahagia walaupun berbagai masalah rumah menumpuk
b.    Dengan rasa cinta, seorang ibu guru harus mampu membiasakan salam kehormatan islam “ Assalaamualaikum warohmatullahi wabarokatuh” sebagai pengganti “selamat pagi” kepada anak-anak, dan lebih baik lagi sambil mencium mereka.[3]
c.    Ketika akan memulai pelajaran harian, seorang ibu guru harus memeriksa sirkulasi udara (Eventilasi), pencahayaan, kebersihan lantai, kursi, papan tulis, dan sarana ruang kelas lainnya.
d.   Jika ada anak yang belum sarapan pagi, seorang ibu guru harus memperbolehkan dia makan dahulu sambil tetap menekankan bahwa sarapan pagi sangat perlu, terutama untuk konsentrasi belajar
e.    Seorang ibu guru harus senantiasa memeriksa daftar hadir dn jika ada anak yang sakit dia harus berinisiatif menengoknya
f.     Seorang ibu guru harus menyempatkan memeriksa penampilan anak-anak, misalnya saja dalam hal rambut, terutama anak perempuan, kuku, gigi, hidung, telinga, pakaian, sepatu, kaos kaki dan sapu tangan.demikian juga dengan kesehatan badan, anak yang sakit harus dipisahkan dengan anak yang sehat. Kesehatan mata pun harus diperhatikan agar kerusakan mata anak-anak dapat diobati sejak dini. Penggunaan pakaian seragam pun diperlukan, dan bagi anak yang kurang mampu, bisa saja pihak TK memberikan bantuan.
2.    Olah raga pagi
Melalui olah raga pagi kita dapat memupuk kegesitan, kegembiraan, dan keceriaan anak sehingga mereka merasa bahwa kegiatan sekolah bukan kegiatan yang mengungkung kebebasan mereka. Olah raga cukup dilakukan seperempat jam. Bisa saja anak-anak diajak mniru burung-burung terbang, berjalan teratur, atau olahraga lain yang menggunakan alat.
3.    Menghapal Al;Qur’an Karim
Setelah memotivasi kegesitan dan keceriaan kepada anak-anak, sebaiknya seorang guru mengajak anak didiknya membaca dan meghapal Al-Qur’an melalui langkah-langkah berikut  ini:
a.    Membiasakan melalui pelajaran dengan membaca Al-Qur’an karena pada awal waktu anak-anak lebih responsif terhadap pelajaran dan siap untuk menghapal Al-Qur’an
b.    Pada awal kegiatan, seorang guru dianjurkan mengajarkan wudhu kepada anak-[4]anak. Guru pun harus memperhatikan beberapa adab membaca Al-Qur’an, termasuk diantaranya menghadap qiblat, membaca ta’awudz, [5]serta perbuatan terpuji seperti menyedekapkan tangan diatas meja, tegak, dan melepaskan apa
c.    Seorang guru dianjurkan mempelajari metode praktis dan efesien dalam menghapal Al-Qur’an, diantaranya, memulai dengan menghapalkan surat-surat pendidk yang disertai dengan peneritaan kisah dan hikmah yang terkandung dalam surat tersebut melalui gaya naratif yang memesonakan anak-anak; atau juga bisa melalui kisah-kisah dalam cerita bergambar. Dengan begitu, makna surat itu akan terpatri dalam jiwa anak-anak. Sebagian surat-surat pendek memilki kisah-kisah yang menarik. Misalnya saja surat Al-Alaq mengisahkan turunnya wahyu digua hira’, Al-Fiil mengisahkan tentara gajah, Quraisy mengisahkan kehidupan kaum Quraisy, dan sebagainya.
d.   Seorang guru dianjurkan membaca A;-qur’an dengan jelas dan berulang-ulang agar anak-anak segera menghapal dan memahami maknanya secara umum atau bisa saja menjelaskan setiap kata dan setiap ayat secara terbatas
e.    Ada sejumlah pihak yang meragukan kemampuan menghapal Al-Qur’an bagi anak-anak usia balita. Mereka pun sangat terheran-heran jika ada anak yang seusia itu sudah hapal beberapa patah kata bahasa prancis dan inggris
f.     Surat-surat pendek sebaiknya dimulai dari surat al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq, an-Nas, al-Kafirun, dan seterusnya
g.    Jika TK itu memiliki beberapa kelas, sebaiknya disediakan kelas khusus untuk anak-anak berbakat dan cerdas. Cara seperti itu sangat mendukung penggalian potensi dalam menghapal Al-Qur’an, hadist atau nyanyian islami
h.    Guru yang akan mengajarkan surat-surat pendek harus memilki kemampuan hapalan dan membaca al-Qur’an dengan baik dan benar agar pada gilirannya anak-anak akan membaca dan menghapal dengan baik dan benar pula
i.      Sebaiknya, waktu pelajaran Al-Qur’an tidak lebih satu jam setiap harinya
j.      Agar anak-anak termotivasi untuk menghapal Al-Qur’an, seorang guru dianjurkan memberikan hadiah seperti tepuk tangan, coklat, atau mainan. Seorang guru pun mampu mengingatkan atau menasihati anak yang mempermainkan Al-Qur’an.
4.    Bermain dan berekreasi
Bagi anak-anak, bermain merupakan kebutuhan yang sangat penting dan berpegaruh pada aspek fisik dan psikologis sehingga berpengaruh juga pada tinggi rendahnya prestasi anak-anak. Karena itu,[6] setiap TK harus menyediakan waktu dan sarana yang memadai untuk bermain dan berkreasi. Bisa saja, dalam sehari, seperempat dari seluruh pelajaran TK dikesediakan untuk kegiatan tersebut.
1.    Manfaat bermain bagi anak-anak
a.    Masa kanak-kanak merupakan masa perkembangan sarat potensi dan dinamika. Lewat bermain, tensi dan dinamika itu dapat disempurnakan lewat berlari, misalnya, otot dan tulang menjalin hubungan yang harmonis sehingga mereka tumbuh gesit dan ceria. Dengan demikian bermain merupakan sarana mencurahkan potensi.
b.    Ketika bermain, langsung atau tidak, anak-anak dapat mengungkapkan masalah atau merefleksikan suasana emosional kepada seluruh anggota keluarga sehingga anak-anak terbuka dan mudah dipahami. Hal itu dapat memudahkan pembentukan psikologis dan kepribadian.
c.    Bagi anak yang menderita gangguan psikologis atau bermasalah, bermain salah satu obat penyembuh penyakit tersebut. Bermain pun dapat memberikan bekal dan persiapan kepada anak-anak agar jika besar nanti, mereka siap memikul tanggung jawab.
2.    Anjuran untuk orang tua dan pendidik
a.    Orang tua atau pendidik dianjurkan menyediakan berbagai bentuk dan warna sarana bermain untuk anak-anak yang tentu saja disesuaikan dengan kemampuan orang tua atau TK.
b.    Orang tua atau pendidik dianjurkan memotivasi anak untuk bermain, bahkkan sewaktu-waktu menemani anak-anak bermain.
3.    Jenis-jenis permainannya
a.    Permainan bebas
b.    Permainan imajinatif
c.    Permainan konstruktif
d.   Permainan kolektif
3.     Program pelajaran bulanan
Dalam proses ini setiap TK harus memiliki program pelajaran bulanan yang disiapkan oleh bagian administrasi TK kemudian diberikan guru yang bersangkutan, jika para guru mengadakan ujian bulanan, [7]bagian administrasi harus menagih laporan dagi guru yang brsangkutan. Misalnya saja, jika kurikulum TK menetapkan bahwa dalam program bulanan masa menghapal sebuah surat pendek atau mengajarkan huruf dan angka tidak lebih dari tiga hari.
·      Program bimbingan PAUD
Berikut bimbingan yang berkenaan dengan pembinaan kesehatan anak,
1.    Panggilah anak dengan nama-nama yang baik. Jika ada yang namanya buruk dan tidak islami, panggilah dia dengan nama yang bagus dan islami. Janganlah orang dewasa menghina nama anak yang buruk sehingga anak-anak lain akan mniru dan mengolok-olok serta menimbulkan kedengkian dan berbagai penyakit hati. Dewasa ini banyak yang memanggil anak-anak dengan sebutan yang mencerminkan kepandiran dan kehinaan, misalnya memanggil anak-anak dengan sebutan “jangkrik” atau “tikus”. Padahal dari abi darda, Rasulullah SAW, pernah bersabda: sesungguhnya pada hari kiamat kamu akan dipanggil dengan namamu dan nama bapakmu. Maka, baguskanlah namamu.
2.    Aturlah jadwal kegiatan anak, misalnya, dalam hal makan, tidur, buang air, atau kegiatan lainnya, terutama untuk anak usia tiga tahun pertama. Jika anak cepat merasa lapar, misalnya kurang dari tiga jam sekali, si anak perlu dibawa ke dokter, siapa tahu anak kita menderita cacingan.
3.    Aturlah jadwal makan anak-anak sesuai dengan perbedaan usia misalnya saja, anak-anak yang berusia 3-6 tahun memerlukan sekitar empat kali makan dalam seharinya dengan jarak setiap makan minimal empat jam.
4.    Jumlah jam tidur pun berbeda sejalan dengan perbedaan usia. Anak-anak yang baru lahir, misalnya, dia memerlukan waktu sekitar 15 jam untuk tidur. Jumlah tersebut berkurang hingga menjadi 12 jam ketika usia anak menginjak 2 tahun, dan menjadi sekitar 10 jam keika anaka-anak menginjak usia 3 hingga 6 tahun.
C.  Kegiatan pada bentuk-bentuk PAUD terintegrasi
Dalam kurikulum ini anak mendapatkan pengalaman luas, karena antara satu mata pelajaran yang satu dengan yang lain saling berkaitan. Dengan demikian seluruh mata pelajaran merupakan [8]satu-kesatuan yang utuh atau bulat. Untuk guru sendiri, kurikulum model ini lebih sulit dirancang.
Adapun pokok-pokok pendidikan yang harus diberikan kepada anak (kurikulumnya) tiada lain adalah ajaran islam itu sendiri. Ajaran islam secara garis besar dapat dikelompkan menjadi tiga, yakni akidah, ibadah, dan akhlak. Maka pokok-pokok yang harus diberikan kepada pun sedikitnya harus meliputi pendidikan ajidah, pendidikan ibadah, dan pendidikan akhlak.
a.    Pendidikan akidah
Islam menempatkan pendidikan akidah pada posisi yang paling mendasar, yakni terposisikan dalam rukun yang pertama dari rukun islam yang lima, sekaligus sebagai kunci yang membedakan antara orang islam dengan non islam. Lamanya waktu dakwah Rasulullah dalam rangka mengajak ummat agar bersedia mentauhidkan Allah menunujukkan betapa penting dan mendasarnya pendidikan akidah islamiah bagi setiap ummat muslim pada umumnya. Terlebih pada kehidupan anak, maka dasar-dasar akidah harus terus menerus ditanamkan pada diri anak agar setiap perkembangan dan pertumbuhannya senantiasa dilandasi leh akidah yang benar.
b.    Pendidikan ibadah
Tata peribadatan menyeluruh sebagaimana termaktub dalam fiqih islam itu hendaklah diperkenalkan sedini mungkin dan sedikit dibiasakan dalam diri anak. Hal itu dilakukan agar kelak mereka menjadi insan yang benar-benar taqwa, yakni insan yang taat melaksanakan perintah agama dan taat pula dalam menjauhi segala larangannya. Ibadah sebagai realisasi dari akhlak islamiyyah harus tetap terpancar dan teramalkan dengan baik oleh anak.
c.    Pendidikan akhlak
Dalam rangka menyelamatkan dan memperkokoh akidah islamiah anak, pendidikan anak harus dilengkapi dengan pendidikan akhlak yang memadai. Dalam al-Qur’an sendiri banyak sekali ayat yang menyindir, memerintahkan atau menekankan pentingnya akhlak bagi setiap hamba Allah yang beriman.maka dalam rangka mendidik akhlak anak-anak, selain diberikan keteladanan yang tepat, juga harus ditunjukkan tentang bagaimana menghormati dan seterusnya. Karena pendidikan akhlak sangat penting sekali, [9]bahkan Rasul sendiri diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak, maka agar lebih jelas dibahas dalam bab sendiri.
Dengan demikian dalam rangka mengoptimalkan perkembangan anak dan memenuhi karakteristik anak merupakan individu unik, yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang berbeda, maka perlu dilakukan usaha yaitu dengan memberikan rangsangan-rangsangan, dorongan-dorongan, dan dukungan-dukungan kepada anak. Agar para pendidik dapat melakukan dengan optimal maka perlu disiapkan untuk kurikulum yang sistematis.
v Pengertian TK
Taman kanak-kanak adalah salah satu bentuk satuan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak usia empat tahunsampai enam tahun. Raudhotul Atfal (RA), Bustanul Athfal (BA) adalah salah satu bentuk satuan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan umum dan jalur pendidikan keagamaan islam bagi anak berusia empat sampai enam tahun. TK,RA,BA untuk selanjutnya ditulis TK merupakan pendidikan anak usia dini dan didalamnya terdapat garis-garis besar program kegiatan belajar (GBPKB), yakni usaha untuk mengetahui secara mendalam tentang perangkat kegiatan yang direncanakan untuk dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu, dalam rangka meletakkan dasar-dasar bagi pengembangan diri anak usia TK.
Adapun program kegiatan TK, didasarkan pada tugas perkembangan anak sesuai dengan tahap perkembangannya. Program kegiatan belajar TK merupakan salah satu kesatuan program kegiatan belajar yang utuh. Program kegiatan belajar ini berisi bahan-bahan pembelajaran yang dicapai melalui tema yang sesuai dengan tema lingkungan anak dan lain yang menunjang kemampuan yang hendak dikembangkan. Dengan demikian, bahan itu dapat dikembangkan lebih lanjut oleh guru menjadi program kegiatan pembelajaran yang operasional[10]


[1] SITI Aisyah, dkk, Perkembangan dan Konsep Kasar Pengembangan Anak Usia Dini, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2010. hlm. 3-5.
[2] Jaudah Muhammad Awwad, Mendidik Anak Secara Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995).  hlm. 13
[3] Jaudah Muhammad Awwad, Mendidik Anak Secara Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995).  hlm. 14
[4] Jaudah Muhammad Awwad, Mendidik Anak Secara Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995).  Hlm. 15.
[5] Jaudah Muhammad Awwad, Mendidik Anak Secara Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995).  hlm. 15
[6] Jaudah Muhammad Awwad, Mendidik Anak Secara Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995). hlm. 16-17
[7] Jaudah Muhammad Awwad, Mendidik Anak Secara Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995). hlm. 18
[8] Jaudah Muhammad Awwad, Mendidik Anak Secara Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995).  hlm. 55
[9] Jaudah Muhammad Awwad, Mendidik Anak Secara Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995).  hlm. 115-117
[10] Dr. Mansur, M.A., Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam, (Ypgyakarta: Pustaka Pelajar, 2009).  hlm. 127-128

Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

About Me

My Photo

Knowledge is being aware of what you can do. Wisdom is knowing when not to do it.
 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template