Headlines News :
Home » » MENGEMBANGKAN RENCANA KERJA MANAJEMEN KELAS

MENGEMBANGKAN RENCANA KERJA MANAJEMEN KELAS

Written By Ahmad Multazam on Wednesday, January 23, 2013 | 3:11 AM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم



       I.            PENDAHULUAN
Dalam kegiatan pembelajaran, peranan guru dan siswa harus saling berpartisipasi demi mewujudkan iklim pembelajaran yang hidup dan aktif. Kaitannya dengan manajemen kelas, gaya personal guru dituntut untuk bergaya  fasilitatif. Membentuk dukungan spesifik yang disajikan dalam tujuan pembelajaran terakhir, yaitu dalam kerangka kerja pengembangan rencana manajemen kelas. Namun, rencana kerja ini tidak hanya bertujuan untuk mengendalikan perilaku, melainkan juga mengelola dan menstrukturkan kelas untuk meningkatkan pembelajaran yang lebih efektif.

    II.            RUMUSAN MASALAH
a.       Apa Struktur Partisipasi dan Peranannya dalam Manajemen kelas ?
b.      Bagaimanakah Perilaku Konvensional dan Perilaku yang Layak ?
c.       Bagaimanakah Manajemen Perilaku Proaktif dan Perilaku yang berdasarkan Intervensi ?
d.      Bagaimanakah Pengembangan Rencana Kerja Manajemen Kelas ?

 III.            PEMBAHASAN
A.       Struktur Partisipasi dan Peranannya di dalam Manajemen Kelas
Pembelajaran merupakan kegiatan yang bukan hanya sekedar memberikan ceramah ataupun membuat siswa belajar. Pembelajaran meliputi negosiasi hubungan interpersonal. Partisipasi siswa di dalam kelas merupakan bagian dari negosiasi hubungan interpersonal tersebut. Hubungan interpersonal yang dimaksud disini adalah gaya personal guru terhadap perilaku interpersonal siswa. Walaupun gaya personal memberikan kerangka penting atau mengarahkan guru di dalam menciptakan lingkungan belajar yang menarik, namun penting pula memandang kompleksitas lingkungan kelas.
Doyle (1980) mendeskripsikan beberapa karakteristik kelas yang menonjol yang memberikan kontribusi terhadap kompleksitas kelas.
1)        Kelas bersifat Multidimensional, karena di dalamnya terdapat sejumlah peristiwa dan tugas-tugas belajar.
2)        Kelas bersifat Simultan, karena banyak peristiwa yang terjadi secara bersama-sama. Tindakan segera biasanya diperlukan oleh guru dan siswa.
3)        Kelas bersifat tidak dapat diperkirakan (Unpredictable), karena di dalam peristiwa itu sering kali memunculkan berbagai pandangan yang tidak diharapkan.
4)        Kelas bersifat Publik, karena peristiwa itu disaksikan oleh banyak orang.
5)        Kelas membuat sejarahnya sendiri, karena kelas semakin banyak mengumpulkan pengalaman, routines, dan praktik-praktik yang bertindak sebagai landasan kegiatan kelas.
Cara lain untuk mengkaji kompleksitas kelas adalah dengan memperhatikan dua karakteristik lingkungan belajar yang spesifik, yaitu: (a) struktur tugas akademik, dan (b) struktur partisipasi sosial. Erickson (1982) mendeskripsikan karakteristik tersebut  dalam konteks keterkaitan guru dengan siswa di dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran bersama.
Struktur tugas akademik kadang-kadang menjadi kendala terhadap pelajaran yang berhubungan dengan jenis tugas akademik itu sendiri. Sedangkan, struktur partisipasi sosial berhubungan secara lebih spesifik dengan lingkungan sosial dan proses pembelajaran. Penciptaan lingkungan sosial di kelas dilakukan melalui interaksi tatap muka antara guru dan siswa. Kelas merupakan peristiwa sosial yang terjadi di dalam lingkungan belajar.
Lingkungan sosial kelas dirumitkan oleh tuntutan perilaku dan komunikasi pada diri siswa. Tuntutan tersebut berupa struktur partisipasi siswa, yang mencakup kegiatan berbicara, mendengarkan, memprakarsai dan mempertahankan interaksi, memimpin dan melanjutkan diskusi.
Jadi, Struktur Partisipasi  merupakan pola-pola pengembalian percakapan dan alokasi hak dan kewajiban interaksi siswa. Di dalam mengikuti struktur partisipasi tersebut siswa dituntut untuk mengetahui hak dan kewajiban interaksi di dalam kegiatan pembelajaran.[1]
Tingkah laku anak didik bervariasi. Variasi perilaku anak merupakan permasalahn bagi guru dalam upaya pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas merupakan upaya dalam mendayagunakan potensi kelas. Karena itu, kelas mempunyai peranan dan fungsi tertentu dalam menunjang keberhasilan proses interaksi edukatif. Maka agar memberikan dorongan  dan rangsangan terhadap anak didik untuk belajar, kelas harus dikelola sebaik-baiknya oleh guru.[2]

B.       Perilaku Konvensional dan Perilaku yang Layak
sebagai seorang fasilitator, guru berupaya membantu siswa mengembangkan perilaku yang lebih bersifat konvensional, yaitu perilaku yang mengikuti struktur partisipasi di kelas. Dalam derajat tertentu  perilaku konvensional diartikan sebagai simbol-simbol yang dibagi atau didipahami oleh komunitas sosial. Perilaku konvensional juga menunjuk pada kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan cara tertentu secara efektif dan layak. Tuntutan perilaku yang layak merupakan keputusan tentang nilai, sehingga jika terdapat kesenjangan antara nilai yang dimiliki oleh guru dan yang dimiliki oleh siswa dapat menimbulkan perilaku yang tidak diinginkan.
Untuk mengarahkan pada perilaku konvensional, guru hendaknya membantu siswa di dalam mengembangkan seluruh potensinya sambil menghindari gangguan ketertiban yang tidak diinginkan secara kultural. Disamping itu, guru hendaknya berupaya menilai partisipasi siswa dengan cara tertentu secara efektif dan layak.[3]
Bagaiman cara para guru merespon gangguan? Wolfgang mengidentifikasi tujuh strategi khusus yang bisa dilakukan para guru dalam merespon gangguan. Meskipun, tentu saja, tidak satupun dari tujuh tersebut yang bisa berhasil dalam semua keadaan atau sama-sama menarik bagi para guru. Rangkaian respon ini berbaris dari strategi yang mengaplikasikan sedikit kekuasaan terhadap para siswa, hingga strategi yang mengharuskan penggunaan yang jelas:



1.      Pengawasan visual
2.      Pernyataan bukan perintah
3.      Pertanyaan
4.      Pertanyaan perintah
5.      Mencontohkan perilaku yang baik
6.      Pujian dan pengabaian
7.      Intervensi fisik dan isolasi.
Fakta bahwa para guru betul-betul menggunakan respon-respon tersebut terhadap gangguan, pada akhirnya tidak membuat respon-respon tersebut sama efektifnya dalam semua kasus. Strategi mana yang sebaiknya dilakukan sangat bergantung pada keadaan saat terjadinya gangguan : sifat dasar dari siswa yang terlibat, harapan sekolah dan masyarakat sekitar terhadap disiplin, tingkat keseriusan dari sebuah gangguan dan frekuensinya, serta bagaiman guru memandang perannya sebagai seorang yang profesional.[4]
Jadi, perilaku konvensional yang dicontohkan guru kepada siswa yaitu menjelaskan peraturan siswa yang terbaik dengan memberitahu tentang perilaku manakah yang dipandang baik. Misalnya, jika makan permen tidaklah diperbolehkan. Ini lebih baik daripada menunggu sampai ada yang makan dengan tidak mengetahuinya lalu dilarang. Selanjutnya beritahu kepada siswa batas-batas yang ditentukan guru. Kadang-kadang secara tidak terduga siswa mau mematuhinya.[5]

C.       Manajemen Perilaku Proaktif dan Perilaku yang berdasarkan Intervensi
Doyle (1986) menyatakan bahwa adanya kebutuhan untuk melakukan intervensi di kelas memberikan indikasi bahwa mekanisme yang digunakan oleh guru untuk menciptakan ketertiban kelas tidak dapat berjalan dengan baik. Dinyatakan pula bahwa proses intervensi itu adalah bersifat kompleks dan penuh resiko.
Di dalam pandangan manajemen kelas yang efektif menyiratkan bahwa guru harus memiliki metode yang mendasari kegiatan melalui komunikasi verbal dan non-verbal.
Gaya personal guru hendaknya mengkomunikasikan rencana kerja yang menjadi landasan manajemen kelas. Sebagai manajer yang efektif, setiap guru di dalam berinteraksi dapat dipahami menurut gaya personalnya. Leinhardt dan Geeno (1986) menyatakan bahwa kegiatan kelas itu didasarkan pada perencanaan operasional yang disebut sebagai “rencana kerja”. Rencana kerja itu mencakup aspek-aspek struktur kegiatan, routine, dan semua unsur yang memberikan  peluang interaksi secara terus menerus di dalam kelas.
Rencana kerja manajemen kelas terpancar dari gaya personal guru. Namun demikian, pengembangan dan implementasi gaya personal tersebut dan landasan pemikiran tentang pandangan kelas atau siswa secara individual merupakan proses yang kompleks.[6]

D.       Pengembangan Rencana Kerja Manajemen Kelas
a.      Mendeskripsikan Masalah Perilaku atau Pertanyaan Pembelajaran
Strahan (1983) menyarankan bahwa, guru hendaknya melakukan pelbagai penelitian ethnografi dikelasnya. Ethnografi merupakan upaya memperhitungkan perilaku sekelompok orang dalam berhubungan dengan orang lain disekitarnya dalam pelbagai situasi. Lane (1986) menyatakan bahwa, tidak ada tindakan guru yang ditetapkan sebelum menganalisis situasi dan menyusun formulasi yang mampu menjelaskan latar belakang terjadinya perilaku dalam lingkungan tertentu.[7]
Strategi untuk memperoleh persepsi terhadap masalah perilaku dan pertanyaan pembelajaran adalah dengan cara duduk dan mencatat:
a)      Mengapa masalah atau pertanyaan itu menarik perhatian guru,
b)      Kapan pertanyaan pembelajaran atau masalah perilaku tersebut merusak lingkungan belajar di kelas,
c)      Mengapa siswa berinteraksi dengan cara tertentu, dan
d)     Apa yang menjadi masalah perilaku dan pertanyaan pembelajaran yang aktual.

Kadang-kadang timbul masalah karena tindakan seorang atau sekelompok siswa. Masalah-masalah semacam itu dapat digolongkan ke dalam insiden sebab masalah-masalah itu mungkin secara relatif terpisah satu sama lain.[8]
Sedangkan, kegiatan pendeskripsian masalah perilaku dan pertanyaan pembelajaran adalah sebagai berikut:
§  Mengidentifikasi informasi tentang siswa; usia, prestasi belajar, perkembangan sosial, penempatan sekolah, status kesehatan dan perawatan kesehatan siswa.
§  Hendaknya menggambarkan interaksi guru dengan siswa.
§  Mengorganisir informasi dan mulai menganalisis masalah perilaku dan pembelajaran.

b.      Menganalisis Masalah Perilaku atau Pembelajaran
Hal-hal yang dilakukan oleh seorang guru dalam menganalisis masalah perilaku atau pembelajaran adalah: Pertama, membuat deskripsi perkembangan masalah perilaku atau pembelajaran. Kedua, menyusun deskripsi bagian-bagian masalah perilaku atau pembelajaran. Ketiga, menganalisis lingkungan yang mempengaruhi perilaku. Disinilah analisis lingkungan menjadi factor penting dalam menerapkan kerangka kerja. Dalam hal  ini, terdapat tiga variabel kontekstual yang perlu dikaji:
1.      Variable Guru; kajiannya adalah filsafat dan tujuan, kemampuan komunikasi, dan kerangka acuan individu.
2.      Variable Siswa; kajiannya adalah kemampuan berkomunikasi, tingkat perkembangan, dan perbedaan cultural siswa.
3.      Variable Tugas dan Lingkungan; kajiannya adalah jumlah siswa dan kendali guru terhadap pengetahuan.


c.       Merumuskan hipotesis dan rencana kerja untuk memperlancar perkembangan perilaku konvensional
Kegiatan selanjutnya adalah merumuskan hipotesis dan rencana kerja untuk memperlancar perkembangan perilaku konvensional. Dalam merumuskan hipotesis, sebagai seorang guru harus dapat mengelola perilaku sendiri, tugas dan kegiatan, serta lingkungan tempat ia berinteraksi dengan siswa. Guru dapat mengubah peristiwa yang terjadi segera sebelum dan setelah munculnya masalah perilaku. Alternative lain adalah “berbicara secara parallel”, memberikan penafsiran dan menyusun kembali masalah perilaku tersebut.[9]

d.      Mengevaluasi dan memodifikasi rencana kerja
Hasil evaluasi merupakan data penting yang dapat dijadikan sebagai dasar untuk merancang kegiatan belajar siswa yang lebih efektif. Ada beberapa pilihan bagi guru didalam mengevaluasi rencana kerja, diantaranya:
1.      Menggunakan format pretest-postest
2.      Menggunakan data dasar (baseline data) yaitu tingkat unjuk kerja siswa yang didokumentasikan sebelum rencana kerja rencana tersebut diimplementasikan.
3.      Mencatat produk yang bersifat permanen
4.      Mencatat jenis bantuan yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan secara berhasil.
Sedangkan, kaitannya dengan memodifikasi rencana kerja, yaitu mengubah penguat (reinforce), materi, atau pedoman (berkenaan dengan petunjuk , bahasa, dan saran-saran yang digunakan). Disamping itu, dengan mengecek pola-pola kesalahan, dapat memberikan pemahaman tambahan terhadap masalah perilaku atau pembelajaran.[10]


[1] Rasdi Ekosiswoyo dkk, Manajemen Kelas; Suatu Upaya Untuk Memperlancar Kegiatan Belajar, Semarang; IKIP Semarang Press, 1997, hlm.36-38
[2] Syaiful Bahri Djamarah, Guru & Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif; Suatu Pendekatan Teoritis Psikologis, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2010), hlm 172
[3] Rasdi Ekosiswoyo dkk, Op Cit, hlm 39
[4] Kelvin Seifetr, Manajemen pembelajaran dan instruksi pendidikan,(Jogjakarta: IRCiSod,2008),  hlm.237-241
[5] W. James Popham & Eva L. Baker, Teknik Mengajar Secara Sistematis, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005 ), hlm 105
[6] Rasdi Ekosiswoyo dkk, Op Cit, hlm 40-41
[7]  Ibid, hlm. 42-43.
[8] W. James Popham & Eva L. Baker, Op Cit, hlm 106
[9] Rasdi Ekosiswoyo, Op. cit. hlm. 54.
[10] Ibid. hlm. 59.
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

About Me

My Photo

Knowledge is being aware of what you can do. Wisdom is knowing when not to do it.
 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template