Headlines News :
Home » » MEMILIH PEMIMPIN YAHUDI DAN NASRANI DALAM ISLAM

MEMILIH PEMIMPIN YAHUDI DAN NASRANI DALAM ISLAM

Written By Ahmad Multazam on Monday, January 21, 2013 | 3:07 PM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


       I.            PENDAHULUAN
Pemimpin merupakan salah satu figur bagi suatu kaum baik itu Negara, Bangsa, maupun Agama. Dengan Pemimpin yang jujur, amanah, serta bertanggung jawab maka rakyatpun akan menjadi makmur.
Diantara kaidah penting dalam ajaran Islam yang mulia ini adalah, menyerahkan urusan yang berhubungan dengan kemaslahatan umum, seperti masalah politik dan kemasyarakatan, kepada para ulama, yaitu orang-orang yang memiliki ilmu yang mendalam tentang agama. Adapun orang-orang bodoh maka tidak boleh berbicara. Jika mereka berani berbicara dan berkomentar maka akan muncul kerusakan-kerusakan dalam masyarakat.

    II.            LANDASAN HUKUM
A.    Al Qur’an
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al-Maidah:51)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Kafir sebagai pemimpin-pemimpinmu dengan meninggalkan orang-orang Mukmin / Muslim (An-Nisa : 144)[1]
B.     Hadits
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ     يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan mengangkatnya dari hati para hamba, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama, sampai ketika Allah tidak menyisakan seorang ‘alim pun maka manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin-pemimpin mereka. Maka orang-orang bodoh tersebut ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka pun sesat dan menyesatkan.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyalllahu’anhuma)

C.     Pandangan Ulama
أولياء بعض، ثم تهدد وتوعد من يتعاطى ذلك فقال: { وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ }
“Allah ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman dari bersikap loyal kepada Yahudi dan Nasrani, karena mereka itu adalah musuh-musuh Islam dan kaum muslimin. Kemudian Allah ta’ala mengabarkan bahwa sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain.
 III.            ANALISIS
Terlepas dari apakah kita setuju atau tidak setuju dengan fatwa di atas, akan dikaji lebih rinci di sini beberapa prinsip islam dalam hal memilih pemimpin. Dari beberapa ayat Al-Quran, dapat dijelaskan bahwa seorang muslim harus memilih pemimpin yang muslim. Dengan kriteria-kriteria dari al-Quran dan hadis di atas jelaslah bahwa memilih pemimpin yang baik itu tidaklah mudah, apalagi di negara kita yang terkadang yang menjadi calon pemimpin itu jauh dari kriteria tersebut. Jika demikian halnya, tentu yang harus kita lakukan adalah kita memilih yang terbaik dari yang ada (paling banyak kelebihannya), atau dengan patokan lain kita memilih yang paling minim kekurangannya. Karena itu, jika kita dihadapkan pada dua calon pemimpin, yang satu muslim tetapi jelek dan yang satu non-Muslim tetapi baik, maka kita harus lebih cermat lagi dalam melakukan pilihan.[2]
Perbedaan dua sisi pandang dalam menyikapi pemilihan pemimpin nonmuslim, yang pertama adalah produk manusia yang hanya berdasarkan hawa nafsu dan kemampuan akal yang sangat terbatas, sedang yang kedua berasal dari sang Pencipta, Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Orang yang berakal tentu mengerti dari sisi mana sebaiknya dia memandang memilih calon pemimpin yang muslim meskipun jelek lebih baik daripada memilih calon pemimpin yang baik tetapi non-Muslim. Dalam pandangan Islam kedua calon pemimpin itu sama-sama tidak baik (kurang), sehingga yang harus dipilih adalah yang paling minim kekurangannya. Argumen yang bisa dipegangi adalah membuat orang yang jelek menjadi baik lebih mudah ketimbang membuat orang yang non-Muslim menjadi Muslim. Seorang pemimpin terpilih tidak lagi bisa berbuat sekehendaknya lagi. Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya ia diikat oleh aturan (Undang-Undang). Jika ia masih melakukan kebiasaan-kebiasaan buruknya dan bertentangan dengan aturan, maka ia akan dikenaisanksi, bahkan bisa dihukum. Dengan argumen ini, maka calon pemimpin Muslim yangsemula tidak baik, ia “dipaksa” mengikuti ketentuan yang ada sehingga ia tidak bisa sekehendaknya berbuat sesuatu.[3]
Seorang calon pemimpin non-Muslim yang baik pasti memiliki kelebihan (kebaikan), namun dari sisi yang lain ia memiliki keyakinan yang bertentangan dengan yang ditetapkan oleh al quran. Meskipun sulit membuktikan bahwa ia akan berbuat tidak baik untuk bangsa dan negara, namun jika kita beriman kepada Allah dan Kitab Allah, maka sebagai umat Islam, kita harus mengikuti ketentuan al quran tersebut.
Jika semua calon pemimpin yang akan kita pilih non-Muslim, tentu kita harus menentukan pilihan yang terbaik, apakah harus mengikuti ketentuan di atas, memilih yang terbaik dari yang ada, ataukah harus memilih untuk tidak memilih (golput). Kalau patokannya adalah untuk kemaslahatan individu, barang kali alternatif terakhir yang terbaik, yakni golput. Namun, jika patokannya kemaslahatan bersama (bangsa atau negara), maka kita harus memilih salah satu dari mereka.[4]


[1]Farid Abdul Kholiq, Fikih Politik Islam,(Jakarta: CV. Sinar Grafika Offset,2005), hlm.175
[2] Farid Abdul Kholiq, Fikih Politik Islam, hlm.176
[3] Abd Rahman Assegaf, Pendidikan Islam Interaktif,(Yogyakarta: Pustaka Belajar,2005)
[4] http://karaleva.wordpress.com/2012/07/27/kajian-dalil-larangan-memilih-pemimpin-kafir
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

About Me

My Photo

Knowledge is being aware of what you can do. Wisdom is knowing when not to do it.
 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template