Headlines News :
Home » » INTERELASI NILAI JAWA DAN ISLAM DALAM ASPEK KEPERCAYAAN DAN RITUAL

INTERELASI NILAI JAWA DAN ISLAM DALAM ASPEK KEPERCAYAAN DAN RITUAL

Written By Ahmad Multazam on Saturday, January 19, 2013 | 2:05 PM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

I.            PENDAHULUAN
Agama adalah sesuatu yang datang dari Tuhan untuk menjadi pedoman bagi manusia dalam mencapai kesejahteraan dunia dan kebahagiaan ukhrowi. Adapun kebudayaan adalah semua produk aktifitas intelektual manusia untuk memperoleh kesejahteraan dan kebahaguiaan hidup duniawi. Corak dan warna kebudayaan dipengaruhi oleh agama dan sebaliknya pemahaman agama dipengaruhi oleh tingkat kebudayaan dalam hal ini kecerdasan.[1] Al Islam hanyalah satu, tetapi kebudayaan Islam tidaklah satu. Sedemikian banyak dan bervariasi sesuai dengan kondisi obyektif ruang dan waktu, sesuai dengan tempat dan masa para pencipta dan pengembang kebudayaan tersebut.[2]

II.         RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pendahuluan yang telah kami sampaikan di atas. Dapat kami sampaikan rumusan masalah dalam penyusunan makalah ini sebagai berikut:
1.      Bagaimana Proses Akulturasi Budaya Jawa dan Islam?
2.      Bagaimana Hubungan antara Budaya Jawa dan Islam dalam Aspek Kepercayaan?
3.      Bagaimana Hubungan antara Budaya Jawa dan Islam dalam Aspek Ritual?

III.      PEMBAHASAN
A. Proses Akulturasi Budaya Jawa dan Islam
Pendekatan dalam penyebaran Islam di Jawa dapat ditempuh melalui dua pendekatan. Pendekatan tersebut adalah, yang pertama disebut Islamisasi Kultur Jawa. Melalui pendekatan ini budaya Jawa diupayakan agar tampak becorak Islam, baik secara formal maupun secara substansi. Upaya ini ditandai dengan penggunaan istilah-istilah Islam, nama-nama Islam, pengambilan para tokoh Islam pada berbagai cerita lama.
Sampai kepada pernerapan hukum-hukum, norma-norma Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Adapun pendekatan yang kedua disebut Jawanisasi Islam. Yang diartikan sebagai upaya penginternalisasian nilai-nilai Islam melalui cara penyusupan ke dalam budaya Jawa.[3]
Melalui cara pertama, Islamisasi dimulai dari aspek formal terlebih dahulu sehingga simbol-simbol keislaman nampak secara nyata dalam budaya Jawa, sedangkan pada cara kedua, meskipun istilah-istilah dan nama-nama Jawa tetap dipakai, tetapi nilai yang dikandungnya adalah nilai-nilai Islam sehingga Islam menjadi men-Jawa. berbagai kenyataan menunjukkan bahwa produk-produk budaya orang Jawa yang beragama Islam cenderung mengarah kepada polarisasi Islam kejawaan atau Jawa yang keislaman sehingga timbul istilah Islam Jawa atau Islam Kejawen.
Sebagai suatu cara pendekatan dalam proses akulturasi, kedua kecenderungan itu merupakan strategi yang sering diambil ketika dua kebudayaan saling bertemu. Apalagi pendekatan itu sesuai dengan watak orang Jawa yang cenderung bersikap moderat serta mengutamakan keselarasan. Namun, persoalan yang muncul dan sering menjadi bahan perbincangan dikalangan para pengamat adalah makna yang terkandung dari percampuran kedua budaya tersebut.
Sebagian mereka menilai bahwa percampuran itu masih sebatas pada segi-segi lahiriah sehingga Islam seakan hanya sebagai kulitnya saja, sedangkan nilai-nilai esensialnya adalah Jawa. Sementara itu, sebagian yang lain menilai sebaliknya, dalam arti nilai Islam telah menjadi semacam ruh dari penampakan budaya Jawa kendatipun tidak secara konkret berlabel Islam.[4]
Dalam kehidupan keberagaman, kecendurungan untuk ‘mengakomodasikan Islam dengan budaya Jawa setempat telah melahirkan kepercayaan-kpercayaan serta upacara-upacara ritual. Adapun yang dimaksud dengan budaya Jawa di sini adalah budaya sebelum Islam tersebar di Jawa, yakni budaya yang bersumberkan dari ajaran-ajaran agama Hindu dan agama Budha yang bercampur aduk dengan kepercayaan animisme dan dinamisme.[5]


B.  Interelasi antara Budaya Jawa dan Islam dalam Aspek Kepercayaan
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, Interelasi berarti hubungan satu sama lain.[6] Jadi yang dimaksud interelasi disini adalah hubungan antara nilai-nilai ajaran atau kebudayaan Jawa dengan Islam dari aspek kepercayaan.
Setiap agama dalam arti seluas-seluasnya tentu memiliki aspek fundamental, yakni aspek kepercayaan atau keyakinan, terutama kepercayaan terhadap sesuatu yang sakral, yang suci, atau yang gaib. Dalam agama Islam aspek fundamental itu terumuskan dalam istilah aqidah atau keimanan sehingga terdapatlah rukun iman adalah percaya kepada Allah, para malaikat-Nya, para nabi-Nya, kitab-kitab suci-Nya, hari akhir, dan percaya kepada qadla dan qadar, yakni ketentuan tentang nasib baik atau buruk dari Allah SWT.[7]
Unsur-unsur keimanan itu karena berjumlah enam disebut dengan rukun iman yang enam. Namun demikian, di luar semua itu masih terdapat unsur-unsur keimanan yang lain yang juga harus dipercayai seperti percaya kepada adanya Setan, Iblis, Syafa’at Nabi Muhammad SAW, dan lain-lain. Sementara itu dalam budaya Jawa pra Islam yang bersumberkan dari ajaran agama Hindu terdapat kepercayaan tentang adanya para dewata seperti Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa, serta masih banyak lagi para Dewa.
Demikian juga terdapat kepercayaan terhadap kitab-kitab suci, orang-orang suci (para resi), roh-roh jahat, lingkaran penderitaan (samasara). Hukum karma, dan hidup bahagia abadi (moksa). Pada agama Budha terdapat kepercayaan tentang empat kasunyatan (kebenaran abadi), yakni dukha (penderitaan), samudya (sebab penderitaan), nirodha (pemadaman keinginan), dan marga (jalan kelepasan). Kelepasan yang dimaksud adalah Nirwana, dan untuk sampai ke Nirwana harus menempuh delapan jalan kebenaran, semacam rukun iman juga dalam agama Budha.
Meskipun semula agama ini tidak jelas konsep ketuhanannya, tetapi dalam perkembanganya agama Budha juga percaya kepada Tuhan yang disebut Sang Hyang Adi Budha. Adapun pada agama “primitif” sebagai “agama” orang Jawa sebelum kedatangan agama Hindu ataupun agama Budha, inti kepercayaannya adalah percaya kepada daya-daya kekuatan gaib yang menempati pada setiap benda (dinamisme), serta percaya kepada roh-roh ataupun makhluk-makhluk halus yang menempati suatu benda ataupun berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain, baik benda hidup maupun mati (animisme).
Kepercayaan-kepercayaan dari agama Hindu, Budha, maupun kepercayaan dinamisme dan animisme itulah yang dalam proses perkembangan Islam berinterelasi dengan kepercayaan- kepercayaan dalam Islam. Pada aspek ketuhanan, prinsip ajaran tauhid Islam telah berkelindan dengan berbagai unsur keyakinan Hindu-Budha maupun kepercayaan primitif.
Berkaitan dengan sisa-sisa kepercayaan animisme dan dinamisme, kepercayaan mengesakan Allah itu sering menjadi tidak murni oleh karena tercampur dengan penuhanan terhadap benda-benda yang dianggap keramat, baik benda mati ataupun hidup. Dalam tradisi Jawa terdapat berbagai jenis barang yang dikeramatkan.[8]
     Sebelum Islam datang, masyarakat Jawa telah mempunyai kepercayaan yang bersumber pada ajaran Hindu yang ditandai dengan adanya para dewata, kitab-kitab suci, orang-orang suci, roh jahat, lingkaran penderitaan [samsara], hukum karma dan hidup bahagia abadi [moksa]. Disamping itu juga ada yang bersumber pada ajaran Budha yang ditandai dengan adanya percaya pada Tuhan [Sang Hyang Adi Budha], selain itu juga ada kepercayaan animisme dan dinamisme.
Setelah kedatangan Islam ke Jawa, terjadilah suatu interelasi Islam dengan Jawa yang salah satunya adalah interelasi antara kepercayaan dengan ritual Islam dengan nilai-nilai Jawa. Pada dasarnya interelasi ini ditempuh dengan jalan penyerapan secara berangsur-angsur, sebagaimana yang dilihat dan dilafalkan Islam berbahasa arab menjadi fenomena Jawa.[9]
Beberapa nama Nabi juga dikaitkan dengan doa-doa tertentu yang dipandang memiliki nilai-nilai khusus. Terdapat salah satu doa yang disebut doa Nabi Sulaiman untuk mendapatkan kewaskitan dan keprabawaan. Ada pula salah satu doa Nabi Ibrahim untuk mengindarkan dari bahaya fitnah, pencurian, kebakaran, kedatangan musuh, dihindarkan dari penyakit, dan cepat dapat membayar hutang[10]
Sebelumnya perlu diketahui, bahwasanya ada dua manifestasi dari agama Islam Jawa yang cukup berbeda, yaitu Agama Jawi dan Agama Islam Santri. Sebutan yang pertama berarti “ agama orang Jawa”, sedangkan yang kedua berarti “agama Islam yang dianut orang santri”.
Bentuk agama Islam orang Jawa yang disebut Agami Jawi atau Kejawen Itu adalah suatu kompleks keyakinan dan konsep-konsep Hindu Budha yang cenderung ke arah mistik yang tercampur menjadi satu dan diakui sebagai agama Islam. Varian agama Islam santri, yang walaupun juga tidak sama sekali bebas dari unsur-unsur animisme dan unsur-unsur Hindu Budha, lebih dekat pada dogma-dogma ajaran Islam yang sebenarnya.
Agama Jawi ini lebih dominan di daerah-daerah Negarigung di Jawa Tengah, di Bagelen dan di daerah Mancanegari, sedangkan agama Islam Santri lebih dominan di daerah Banyumas dan pesisir Surabaya, daerah pantura, ujung timur pulau Jawa, serta daerah-daerah pedesaan di lembah sungai Solo dan sungai Brantas.[11]
1. Sistem Keyakinan Agami Jawi
Sistem budaya Agami Jawi setaraf dengan sistem budaya dari agama yang dianut orang Jawa. Terdapat berbagai keyakinan, konsep, pandangan dan nilai, seperti yakin adanya Allah, Muhammad sebagai pesuruh Allah, yakin adanya Nabi-nabi lain dan tokoh-tokoh Islam keramat, yakin adanya konsep dewa-dewa tertentu yang menguasai bagian-bagian dari alam semesta, memiliki konsep-konsep tertentu tentang hidup dan kehidupan setelah mati, yakin adanya makhluk-makhluk halus jelmaan nenek moyang yang sudah meninggal, yakni roh-roh penjaga, yakin adanya setan hantu dan raksasa dan yakin akan adanya kekuatan-kekuatan ghaib dalam alam semesta ini.
2. Sistem Keyakinan Islam Santri
Sistem keyakinan Islam santri baik penduduk pedesaan maupun kota berawal dari enkulturasi, mereka dilatih membaca al-Qur’an yang terdiri dari konsep-konsep puritan mengenai Allah, Nabi Muhammad, mengenai penciptaan dunia, perilaku yang baik dan buruk, kematian dan kehidupan dalam dunia akhirat, yang semua telah dipastikan adanya. Orang santri di pedesaan umumnya menerima konsep-konsep ini sebagaimana adanya tanpa mempedulikan mengenai interpretasinya; akan tetapi para santri di kota biasanya memperhatikan moral serta etika dari interpretasi dari ajaran-ajaran tersebut.[12]
Lebih simpelnya dari aspek ketuhanan, prinsip ajaran tauhid Islam telah tercampur dengan keyakinan Jawa [Hindu, Budha, Animisme dan Dinamisme], diantaranya sebutan Allah menjadi Gusti Allah, Ingkang Maha Kuwaos (al-Qadir). Disamping itu juga ada Hyang Jagad Nata (Allah Rabb al-Amien), kata Hyang berarti Tuhan atau Dewa.
C. Hubungan Antara Budaya Jawa dan Islam dalam Aspek Ritual
Agama Islam mengajarkan agar para pemeluknya melakukan kegiatan-kegiatan ritualistik adalah meliputi berbagai bentuk ibadah sebagaimana yang tersimpul dalam rukun Islam, yakni syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Intisari dari shalat adalah doa, oleh karena arti harfiah shalat juga doa yang ditujukan kepada Allah SWT, sedangkan puasa adalah suatu bentuk pengendalian nafsu dalam rangka penyucian rohani.
Aspek doa dan puasa tampak mempunyai pengaruh yang sangat luas, mewarnai berbagai bentuk upacara tradisional orang Jawa.[13] Menurut Geertz dan Koentjoroningrat mengemukakan, berbagai upacara yang berkaitan dengan lingkaran hidup, antara lain :
1. Upacara Tingkeban atau Mitoni
Yaitu ritual pertama dari siklus kelahiran manusia, pada saat janin berusia tujuh bulan dalam rahim ibu. Dalam upacara ini dipersiapkan sebuah kelapa gading yang digambari wayang Dewa Kamajaya dan Dewi Kamaratih supaya si bayi seperti sang Dewa jika laki-laki dan seperti sang Dewi jika perempuan. Kemudian sang ibu dimandikan oleh para ibu-ibu dengan air kembang setaman (air yang ditaburi mawar, melati, kenanga, dan kantil) yang biasa dinamakan tingkeban.
2. Upacara Kelahiran
Slametan pertama yang berhubungan dengan lahirnya bayi dinamakan brongkohan. Dan saat anak diberi nama dan pemotongan rambut (cukur) yang berumur tujuh hari yang disebut sepasar.
Dalam tradisi Islam disebut dengan korban aqiqah (kekah) yang ditandai dengan penyembelihan kambing dua ekor untuk anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan.
3. Upacara Sunatan
Upacara sunatan ini dilakukan pada saat anak laki-laki dikhitan. Pelaksanaan khitan ini merupakan perwujudan secara nyata tentang hukum Islam. Sunatan ini sering disebut selam (nyelamaken) yang mengandung makna meng-Islamkan.
4. Upacara Perkawinan
Upacara ini dilakukan pada saat pasangan muda-mudi akan memasuki jenjang rumah tangga. Upacara ini ditandai dengan pelaksanaan syari’at Islam yaitu akad nikah (ijab qabul) dan diiringi dengan slametan.
Akad nikah ini dilakukan oleh pihak wali mempelai wanita dengan pihak mempelai pria dan disaksikan oleh dua orang saksi laki-laki. Sedangkan slametan ini dilakukan dengan bertahap dari sebelum akad nikah, akad nikah dan sesudah akad nikah (ngunduh manten, resepsi pengantin).[14]
4.      Upacara Kematian
Upacara yang dilaksanakan saat mempersiapkan penguburan orang mati yang ditandai dengan memandikan, mengkafani, menshalati, dan pada akhirnya menguburkan jenasah ke pesarean (pemakaman). Selama sepekan setelah penguburan diadakan tahlilan tiap malam hari yang dinamakan slametan mitung dino, yaitu kirim do’a kepada si jenasah yang didahului dengan bacaan tasybih, tahmid, takbir, tahlil dan shalawat pada Nabi Muhammad saw. Sebagaimana budaya Jawa, slametan ini dilakukan sampai mendaknya orang yang meninggal. Di samping itu juga ada upacara nyadran yaitu upacara ziarah kubur pada waktu menjelang bulan Ramadhan.
Selain dari beberapa upacara-upacara tersebut, ada juga upacara yang berkaitan dengan lingkaran hidup yaitu upacara atas kekeramatan bulan-bulan hijriyah dan upacara tahunan. Pada kekeramatan bulan-bulan hijriyah ada upacara bakda besar, suran, saparan, rejeban, syawalan (kupatan).


[1] Nourouzzaman Shiddiq, Jeram-jeram Peradaban Muslim, Yogyakarta: 1996, cet.1, hlm. 258
[2] M. Amin Rais, Islam di Indonesia, Suatu Ikhtiar Mengaca Diri, Jakarta: Rajawali, 1986, hlm.92
[3] M. Darori Amin, Islam dan Budaya Jawa, Yogyakarta: Gama Media, 2000, hlm.119.
[4] Ibid, hlm. 120.
[5] Ibid,  hlm. 121.
[6] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2005, cet.3, hlm. 438
[7] M. Darori Amin,op.cit,  hlm. 121.
[8]M. Darori Amin, op.cit,  hlm. 124.
[9] M. Darori Amin, op.cit, hlm.123
[10] M. Darori Amin, op.cit,  hlm. 129.
[11] Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, Jakarta: PN Balai Pustaka, 1984, hlm. 312-313.
[12] Ibid. hlm.379-380
[13] Amin, Darori, op.cit, hlm. 130.
[14] Ismawati, Keilmuan Islam di Pesisir Utara Jawa Abad ke 15-17, (Makalah Stadium General IAIN Walisongo Semarang), 2005.

Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

About Me

My Photo

Knowledge is being aware of what you can do. Wisdom is knowing when not to do it.
 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template