Headlines News :
Home » » NILAI-NILAI HUKUM AQAL KAITANNYA DENGAN SIFAT ALLAH SWT

NILAI-NILAI HUKUM AQAL KAITANNYA DENGAN SIFAT ALLAH SWT

Written By Ahmad Multazam on Sunday, May 13, 2012 | 9:28 AM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


A.           Pembagian hukum akal
Para ahli tauhid (ilmu kalam) membagi yang “maklum“ menjadi tiga bagian yaitu “mungkin“ bagi dzat-Nya “wajib“ bagi dzat-Nya dan “mustahil“dari dzat-Nya “ mustahil “di sini bisa diartikan sesuatu dzat-Nya memang tidak ada, adapun yang wajib itu sesuatu dzat-Nya memang ada, sedangkan yang “mungkin“ ialah sesuatu yang tidak ada wujudnya.
Hukum mustahil di sini bisa di artikan bahwa tidak mungkin ada bisa terjadi wujudnya karena “tidak ada“ telah menjadi hakikat sesuatu, di mana sesuatu yang mustahil itu tidak bisa di wujudkan dan akal itu tidak bisa menggambarkan hakikat (mahija) sesuatu yang mustahil itu.

Hukum mungkin di sini diartikan ia tidak mungkin”ada“ kecuali dengan sesuatu sebab. Bahwa ada hubungan antara hukum mungkin dengan hukum mustahil bahwa “ “tiada“ dan perkara (“ada“ dan “tiada“) tanpa adanaya sesuatu sebab, apabila tanpa ada alasan yang menguatkannya dan itu jelas mustahil. Hukum “mungkin“ ialah bahwa sesuatu yang maujud itu adalah “baharu“ karena pasti dia tidak bisa wujud (ada),  Kecuali kalau adanya sebab. Wujud itu di dahului oleh “tiada“ (adam)
dalam martabatnya adanya sebab barang “mungkin“ dalam keadaan  “tiadanya” tidak berkehendak kepada sebabnya yang wujud karena sesuatu yang “tiada“ (adam) tidak bisa mengadakan tetapi maujud itu ia terjadi dengan “diadaka “ lebih dahulu, “mungkin” itu memerlukan sebab dalam permulaanya wujudnya. Bisa kita artiakan bahwa yang menciptakan memberikan wujud. Sebab yang melahirkan, pencipta yang hakiki.
Yang “mungkin“ itu pasti ada, segala sesuatu yang mempunyai wujud tidak bisa dikatakan tidak ada, dan tidak pula di dahului oleh tiada, sebagai mana akan datang penjelasanya dalam menerangkan hukum yang wajib maka yang “mungkin“ itu pasti ada.
Adanya yang “mungki “ itu pasti menghendaki akan adanya “yang wajib“ bagi yang mengadakan dirinya sendiri dan barang yang mendahuluinya juka yang pertama sudah ada. Hal ini pun terang batalnya maka sebab itu wajiblah ada sebab yang berdiri di belakang segala yang “mungkin“ dan segala yang wujud terjadi tanpa sebab yang memungkinkan adalah wajib.bahwa segala yang ada terwujud, pasti ada yang mewujudkanya yaitu dzat-Nya ada.
B.            Hukum-hukum wajib
hukum-hukum wajib di sini dianranya kidam. Bahwa tuhan itu kadim  (tidak permulaan) lagi pula azali karena ia tidak begitui tentu ia menjadi baharu, yang baharu itu sesuatu yang di dahului oleh tiada, mustahil tidaklah wajib ada itu kadim tentu ia dalam wujudnya berkehendak adanya yang mewujudkan. Wajib itu mempunyai zat  wujudnya sehari.
Diantara hukum-hukum yang wujuyd di sini bahwa dia tidak akan kenal oleh  tiada (adam) maka dengan sendirinya apa yang melekat pada dzat-Nya. tersusun dari sesuatu zat karena adanya sesuatu unsur tentulah dari bagian-bagianya mendahului akan wujud jumlahnya yang merupakan zat baginya. Sedangkan tiap-tiap bagian itu mestilah bukan dzat-Nya maka karena wujudnya jumlah (zat itu seluruhnya) perlu berkehendak kepada wujud lain.
Kalau meniadakan zat yang wajib ada itu di namakan “hakikat aklia”(di laur akal) karena akal tidak bisa menggambarkannya bagaiman dzat-Nya. Hakikat menurut akal adalah suatu gambaran yang salah, tidak menuruti yang sebenarnya bahwa dzat-Nya tidak bisa dibagi-bagi artinya tidak berhak untuk di ukur.
Ø Hidup (al-hayat) arti wujud disini  (ada) telah terang bagi akal dan bisa digambarkan kenyataan tetap dan kekal. Tiap-tiap wujud haruslah diikuti dengan sifat wujudiah yakni untuk menyempurnakan martabat, sifat yang ada pada tuhan ialah sifat “hidup“ sifat ini diiringi dengan ilmu dan “iradah“ (kemauan) karena hidup jelas termaksud sifat kesempurnaan bagi wujudnya.
Ø Ilmu (maha mengetahui) di maksud terbukanya tabir bagi zat yang telah tetap sifat itu baginya yang telah menjadi sumber. Sifat ilmu termaksud kedalam sifat wujud dia yang menjadi ilmu karena tinggi martabat wujudnya diatas segala yang maujud (ada) di sini di terangkan oleh Allah SWT dan ilmu Allah SWT tidak akan habis wujud itu sudah kita sangsikan sendiri, pada struktur alam yang berupa hukum-hukmu dan kerapian sesuai dengan letaknya bisa kita contohkan ikan tidak bisa hidup dan melaui garis edar apabila keluar dari garis edar maka akan berantakan susunanya. Hal ini membuktiakan adanya ilmu yang menciptakanya dan hikmat kebiksanaan zat yang mengaturnya.
Ø kemauan (al-iradat), “iradat“ di sini adalah kemauan adalah sifat (atribut) yang dapat menentukan untuk penciptaan alam dengan salah satu jalan yang mungkin. Zat yang memberikan wujud kepada segala yang mungkin ada, wajib adanya bahwa ia mengetahui (alim) bahwa ia mengetahui (alim) bahwa segala yang mewujud tidak mesti dengan ilmunya, bahwa ia mempunyai “ kemauan “ yang berbuat sesuai denagn ilmunya. Iradah menurut oarng islam ialah bahwa orang yang berkemaun leluasa melaksanakan kehendaknya.
Ø Kuasa (al-Qudrat) ialah merupakan sifat zat yang wajib mengadakan dan mewujudkan apa yang di kehendakinya bahwa zat yang wajib itulah menciptakan alam semesta menurut kehendak ilmu dan iradat-nya bahwa ia berkuasa dengan pasti.
Ø Iktiar (kebebasan berbuat) bahwa sifat-sifat gabungan (ilmu, iradat, kudrat) tidak makna bagi ikhtiar kecuali bekas perbuatan dengan kudrat  kekuasaanya.
Ø Maha esa (al-wahdah) yakni sifat esa, esa di dalam dzat-Nya , dalam sifat, dalam wujud dalam perbutan, bahwa zat disini tidak menerima takrib (tidak tersusun dari berbagai unsure) dalam sifatnya tidak yang menyamainya dalam sifat-sifat yang tetap baginya di antara yang maujud ini. Mengenai esa (keesaan tunggal) dalm wujud dan perbuatan, maksudnya ialah zat-nya sendiri yang wajib wujud (ada) dan ia sendiri (tanpa capur tangan orang lain) untuk mengadakan segala yang mungkin ada disini. Dia yang maha agung kedudukanya adalah esa (tunggal) dalam dzat-Nya, dalam sifat-sifatnya, tidak ada sekuat baginya  dalam wujudnya dan tidak pula dalam segala tindak perbuatannya.
Ø Sifat-sifat jami’ iyah ialah sifat-sifat Allh SWT yang tidak dapat di pahami  disan di jangkau dengan kekutan akal-pikiran, tetapi harus melewati dali-dalil dan di sampaikan kepada rosulullah sendiri kemudian di terima dengan sepenuh iman oleh para sahabatnya, tetapi akal tidak sanggup memikirkanya. Sifat-sifat ini diantaranya “sifat kala “ (berbicara, berfirman) yang telah menjadi keyakinan bahwa Allh berbicara diantara para nabi. Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa lafal-lafal al-Qur’an sendiri adalah “ kalam Allah SWT ” mak firman (kalam) yang telah didenagr dari Allah SWT pastilah merupakan sifat dari sifatnya (adnya tanpa permulaan). Diantara sifat jami’ iyah yang wajib bagi Allah SWT menurut Nabi adalah sifat “Basha “ (melihat) dengan sifat ini tersingkaplah segala yang akan dilihat dan sifat “sama “ (mendengar), dan ia maha mendengar dan melihat.
C.           Perbuatan Allah SWT
Bahwa segala perbuatan Allah SWT terrbit dari ilmu dan iradatnya, dan berpangkal  pula kepada ikhtiar (kebebasan), perbuatan Allah SWT seperti menciptakan, memberi rizki,menyuruh dan mencegah, mengazab dan memberi nikmat adalah merupakan suatu yang tetap bagi  Allh dengan kemungkinan yangt khusus yang tidak bisa kita pikirkan dengan akal karena ilmu dan kemauannya Allah SWT berbuat sesuatu dengan perbuatannya wajib di lakukan oleh dzat-Nya, bahwa perbuatan-perbuatn Allha SWT tidak lepas dari hikmatnya bahwa Allha bersih dari kesiasian dalam segala perbuatnya dan bersih dari dusta dalkm perkataanya.
Perbuatan-perbuatan tidak akan lahir kalau tidak ada tujuanya, dalam nikmatnya itu terletak dasar kejadian lagit dan bumi dan apa-apa yang tedapat antara keduanya, dalam nikmatnya terletak kemaslahatan segala yang maujud itu menurut batas-batas yang telah di tentukan, terutama wujud hayati seperti tumbuh tumbuhan dan binantang-binantang  yang tidaklah memperhatiakan nikmat-nikmat yang indah mengagumkan ini, tidaklah mudah bagi kita untuk membutikan ilmu Allah SWT.
Hukmat kebiksanaan ini di kenal dengan sebutan meletakkan sesuatu pada tempatnya masing-masing dan memberikan kepada tiap-tiap yang berkehendak akan apa yang di kehendakinya. Ada di daalm firman Allah SWT di surat al-ambiya’ ayat 16 yang artinya “dan tidak kami jadikan dan bumi apa-apa yang tempat diantara keduanya dengan percuma”.
D.           Perbuatan manusia
Orang yang mempunyai akal dan perasaan (pancaindera) yang sehat mengakui dengan menyaksikan bahwa dirinya sendiri maujud (ada). Perbuatan manusia bisa di contohkan menyengkan hati kawan, dia membanting tulang untuk mencari rizki, dan mencari kebahagian, tetapi mendapatkan sebaliknya, maka itu akan di jadikan suatu pengalaman dan manusia juga bersyukur dia telah mendapatkan karunia tuhan sesuai dengan maksud nikmat itu dijadikan oleh tuhan, manusia juga melakukan apa yang di perintahkan oleh tuhan, dan tidak melakukan apa yang dilanggarnya.
Menurut ketetapan agama, ada dua perkara besar yang merupakan tiang kebahagiaan dan pembimbing segala amal perbuatan manusia diantaranya:
1.      Bahwa manusia mempunyai usaha yang bebas dengan kemauan dan kehendaknya untuk jalan yang dapat membawa kebahagiaan.
2.      Bahwa kudrat Allah SWT tempat kembalinya segala mahluk, di mana ia sanggupmemisahkan manusia dari apa yang di maunya, dan seorang pun yang sanggup menolong manusia.
Tuhan memerintahkan untuk menghadapkan himmah (cita-citanya) untuk memanjatkan permohonan kepada sang kholik yang maha tunggal. Dan mengharamkan bagi manusia memunta pertolongan selain dari tuhan.
Manusia sangatlah berbeda dengan hewan, manusia di berikan Allh akal sehingga bisa berfikir, mempunyai ikhtiar (usaha) dalam alam perbuatnya menurut petunjuk pikirannya, begitualah wujud yang diberikan kepada tuhan untuk umatnya. Hewan juga diberikan Allah SWT yang berupa insting yang mana insting tidak bisa berkembang seperti manusia, hewan hanya bisa makan dan minum saja, beranak itulah suatu yang ada sejak ia kecil sampai dewasa. Kalau manusa instingnya melaui perkembangan yang  secara beransur, pada saat bayi manusia hanya bisa nangis dan mintak makan, lama kelamaan manusia itu bisa makan sendiri tanpa bantuan orang lain begitu pun dengan cara dia berfikir semakin  matang umur seseorang maka semakin matang pula pikiranya.
Semau gerak-gerik manusia dilihat oleh Tuhan, baik atau buruk, kalau melakukan perbuatan baik maka dia akan mendapat pahala sedangkan kalau dia mengerjakan perbuatan jelek maka dia akan mendapat dosa.
Perbuatan manusia timbul dari usaha dan iktiar sendiri  tidak ada ilmu yang merintangi manusia untuk beriktiar dalam usahanya.
E.            Perbuatan baik dan buruk
Di dalam diri kiat pasti kita temui sesuatu kodrat yang dapat membedakan antara yang indah dan yang jelek, perbautan buruk bisa menjadi baik denagn melihat bekas-bekas yang baik.sebaliknya yang baik bisa menjadi jelek karena melihat yang buruknya. Perbuatan manusai yang di ikhtiari ada yang mempunyai daya penarik pada dirinya, di mana hati tertarik kepadanya seperti kita melihat parade militer yang teratur, bersenam, yang menujukkan keberanian bermain., maka kita tertarik ingin melakukanya.
Perbuata yang di ikhtiari itu ada yang buruk pada dirinya dan menimbulkan perasaan yang tidak enak bagi siapa yang melihat sepeti:  bila kita melihat orang yang panic, pekik-teriak orang yang ketakutan dan ada pula perbuatan ikhtiari yang jelek karena akibat menyakiti dan ada pula yang  tidak baik seperti  seperti memukul, melukai.
Pengertian baik dan buruk menurut 2 makan ini dapat membedakan antara manusia dan binantang dalam sisilah wujudnya, kecuali terletak dalam kekuatan wujudan (perasaan) dan pembatasan nilai (martabat) baik dan biruk. Perbuatan-perbuatan manusia yang di ikhtiarai itu yang baik apa bila mengandung manfaat kalau perbuatn buruk karena melihat kerusakan yang di timbulkanya.
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

About Me

My Photo

Knowledge is being aware of what you can do. Wisdom is knowing when not to do it.
 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template