Headlines News :
Home » » PENDEKATAN PSIKOLOGI DALAM MEMAHAMI AGAMA

PENDEKATAN PSIKOLOGI DALAM MEMAHAMI AGAMA

Written By Ahmad Multazam on Friday, December 6, 2013 | 1:25 PM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

I. PENDAHULUAN

Dewasa ini kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia. Agama tidak boleh sekedar menjadi lambang kesalahan atau terhenti sekedar disampaikan dalam khotbah, melainkan secara konseptual menunjukkan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan masalah. Tuntutan terhadap agama yang demikian itu dapat dijawab manakala pemahaman agama yang selama ini banyak menggunakan pendekatan teologis normatif dilengkapi dengan pemahaman agama yang menggunakan pendekatan lain yang secara operasional konseptual dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang timbul.

Seiring dengan berkembangnya ilmu agama muncullah ilmu perbandingan agama yang bertujuan untuk memahami agama-agama yang diteliti secara ilmiah menggunakan berbagai pendekatan, salah satunya yaitu pendekatan psikologi. Ilmu perbandingan agama adalah ilmu yang mempelajari tentang agama, sistem keyakinan, peribadatan, dan kelembagaan agama secara ilmiah dengan pendekatan holistik (secara menyeluruh, beragam). Secara ilmiah berarti ilmu perbandingan agama kajiannya terhadap agama yang bersifat induktif karena kajian terhadap agama dengan menggunakan pendekatan-pendekatan ilmu-ilmu lain, dan standar yang di gunakan secara ilmiah artinya melihat gejala agama secara objektif

II. RUMUSAN MASALAH

A. Bagaimana Pengertian Pendekatan Psikologi ?

B. Bagaimana Metode-Metode yang digunakan dalam Pendekatan Psikologi ?

III. PEMBAHASAN

A. Pengertian dan ruang lingkup Pendekatan Psikologi

Psikologi terdiri dari dua kata yaitu Psyche (jiwa, roh) logos (ilmu). Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia.[1] Secara umum, psikologi mempelajari gejala-gejala manusia yang berkaitan dengan pikiran (cognisi), perasaan (emotion), dan kehendak (conasi). Dengan demikian ketiga gejala pokok tersebut dapat diamati melalui sikap dan perilaku manusia.[2]

Pendekatan Psikologi merupakan usaha untuk memperoleh sisi ilmiah dari aspek-aspek batini pengalaman keagamaan. Suatu esensi pengalaman keagamaan itu benar-benar ada dan bahwa dengan suatu esensi, pengalaman tersebut dapat diketahui. Akan tetapi, usaha untuk menemukan esensi dan menentukannya sebagai suatu pemahaman sering kali sia-sia. Sentimen-sentimen individu dan kelompok berikut gerak dinamisnya, harus pula diteliti dan inilah yang menjadi tugas interpretasi psikologis.

Menurut Zakiyah Darajat perilaku seseorang yang tampak lahiriyah terjadi karena dipengaruhi oleh keyakinan yang dianutnya. Dalam ajaran agama banyak kita jumpai istilah-istilah yang menggambarkan sikap batin seseorang. Misalnya sikap beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME., sebagai orang yang shaleh, orang yang berbuat baik, orang yang shidiq (jujur), dan sebagainya. Semua itu adalah gejala-gejala kejiwaan yang berkaitan dengan agama. Dalam ilmu jiwa ini seseorang selain akan mengetahui tingkat keagamaan seseorang juga dapat digunakan sebagai alat untuk memasukkan nilai-nilai agama ke dalam jiwa seseorang sesuai dengan tingkatan usianya.[3]

Interpretasi agama melalui pendekatan psikologis ini memang berkembang dan dijadikan sebagai cabang dari psikologi dengan nama psikologi agama. Objek ilmu ini adalah manusia, dalam pengertian tingkah laku manusia yang beragama, gejala-gejala empiris dari keagamaannya. Karena ilmu ini tidak berhak mempelajari betul tidaknya suatu agama, metodenya pun tidak berhak untuk menilai atau mempelajari apakah agama itu diwahyukan Tuhan atau tidak, dan juga tidak berhak mempelajari masalah-masalah yang tidak empiris lainnya.[4]

Menurut Zakiat Darajat, ruang lingkup yang menjadi lapangan kajian psikologi agama meliputi kajian mengenai:

1. Bermacam-macam emosi yang menjalar di luar kesadaran yang ikut menyertai kehidupan beragama orang umum. Misalnya; rasa lega dan tentram sehabis sembahyang.
2. Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individual terhadap Tuhannya, seperti, rasa tentram dan kelegaan hati.
3. Mempelajari, meneliti dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati (sesudah akhirat) pada tiap-tiap orang.
4. Meneliti dan mempelajari kesadaran serta perasaan orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut memberi pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.[5]

Pendekatan psikologi tidak untuk membuktikan benar tidaknya suatu agama tetapi hakikat agama dalam hubungan manusia dengan kejiwaannya, bagaimana perilaku dan kepribadiannya mencerminkan kepercayaannya. Mengapa manusia ada yang percaya Tuhan dan ada yang tidak, apakah kepercayaan ini timbul akibat pemikiran yang ilmiah atau sekedar naluri akibat terjangan cobaan hidup dan pengalaman hidupnya.[6]

B. Metode yang digunakan dalam Pendekatan Psikologi

Sebagai salah satu cabang dari psikologi metode yang digunakan dalam mengkaji agama tidak berbeda dengan psikologi pada umumnya. Psikologi agama berusaha untuk menjelaskan pekerjaan pikiran dan perasaan seseorang terhadap agama serta pengaruh agama tersebut terhadap perilaku seseorang.[7]

Metode psikologis tidak berhak menentukan benar salahnya suatu agama karena ilmu pengetahuan tidak memiliki teknik untuk mendemonstrasikan hal-hal seperti itu, baik sekarang maupun waktu yang akan datang. Selain itu, sifat ilmu pengetahuan sifatnya adalah empirical science, yakni mengandung fakta empiris yang tersusun secara sistematis dengan menggunakan metode ilmiah. Fakta empiris ini adalah fakta yang dapat diamati dengan pola indra manusia pada umumnya, atau dapat di alami oleh semua orang biasa, sedangkan Dzat Tuhan, wahyu, Setan dan faktor gaib lainnya tidak dapat diamati orang umum dan tidak semua orang mampu mengalaminya.

Sumber-sumber pokok untuk pengumpulan data ilmiah melalui pendekatan psikologi ini dapat diambil dari:

1. Pengalaman dari orang-orang yang masih hidup
2. Apa yang kita capai dengan meneliti diri kita sendiri
3. Riwayat hidup yang ditulis sendiri oleh yang bersangkutan, atau yang ditulis oleh para ahli agama.[8]

Studi psikologi terhadap agama sebenarnya meliputi dua macam kegiatan yaitu : kegiatan pengumpulan dan klasifikasi data, kegiatan menyusun dan menguji berbagai keterangan.[9] Penelitian psikologik dapat dianggap sebagai suatu sistem yang diarahkan kepada pemahaman terhadap apa yang diperbuat, dipikirkan, dan dirasakan oleh manusia. Metode – metode ini mencakup penggunaan metode statistik (seperti analisis faktor), penggunaan tes psikologi , berbagai penelitian dengan berbagai kuesioner yang dialamatkan kepada berbagai kelompok masyarakat, kajian sejarah kasus terhadap orang-orang tertentu dan sebagainya. Kadang-kadang data untuk penelitian yang dilakukan oleh para ahli psikologi dalam bentuk cetakan, misalnya biografi atau otobiografi.[10]

Barangkali akan lebih sederhana jika setiap menguji psikologi hanya ada sebuah teori psikologi yang sama-sama disepakati, tetapi ini tentu saja tidak merupakan alat terbaik bagi pemahaman terhadap perilaku dan pemikiran manusia. Kita tidak perlu menganggap teori-teori ini sebagai sistem dogmatis yang asi di antaranya mungkin benar sedangkan yang lainnya pasti salah. Sebaliknya, teori ini dapat kita anggap sebagai sistem yang berbeda-beda tetapi sama tujuannya yaitu menggambarkan dan menjelaskan berbagai aspek tingkah laku manusia yang berbeda-beda. Kita tidak mempunyai alasan sama sekali untuk beranggapan bahwa psikologi akan pernah mengembangkan satu sistem teoritik yang tuntas, yang di dalamnya semua fakta akan dijelaskan.[11]


                       
[1] Ngalim Purwanto. Psikologi Pendidikan. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 1
[2] Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2010), hlm. 7
[3] Machfud Ilahi, “Barbagai Pendekatan di dalam memahami Agama”, diakses dari http://solafussholeh.blogspot.com/2013/03/barbagai-pendekatan-di-dalam-memahami.html, pada 12 November 2013 pukul 14:30 WIB
[4] Adeg Muchtar Ghazali, Ilmu Perbandingan Agama, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2000), hlm. 46-47
[5] Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2010), hlm. 15-16
[6] Raharjo, Pengantar Ilmu Jiwa Agama, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2012), hlm. 17
[7] Sururin, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 8
[8] Adeg Muchtar Ghazali, Ilmu Perbandingan..., hlm. 47
[9] Zakiyah Daradjat, dik, Perbandingan Agama II, (Jakarta: Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam, 1984), hlm. 68
[10] Robert H. Thoules, Pengantar Psikologi Agama, terjemah oleh Machnun Husein, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 200), hlm. 13-14
[11] Robert H. Thoules, Pengantar Psikologi..., hlm. 15
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

About Me

My Photo

Knowledge is being aware of what you can do. Wisdom is knowing when not to do it.
 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template