Headlines News :
Home » » TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Written By Ahmad Multazam on Saturday, July 6, 2013 | 9:32 AM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

I. PENDAHULUAN

Pada prinsipnya pendidikan adalah usaha memanusiakan manusia. sebab hanya dengan pendidikanlah manusia itu dapat menemukan jati diri kemanusiaannya. Pendidikan bahkan lebih diperluas cakupannya sebagai aktivitas dan fenomena. Pendidikan sebagai aktivitas berarti upaya yang secara sadar dirancang untuk membantu seseorang atau sekelompok orang dalam mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup, dan keterampilan hidup, baik yang bersifat manual (petunjuk praktis) maupun mental, dan sosial sedangkan pendidikan sebagai fenomena adalah peristiwa perjumpaan antara dua orang atau lebih yang dampaknya ialah berkembangnya suatu pandangan hidup, sikap hidup, atau keterampilan hidup pada salah satu atau beberapa pihak, yang kedua pengertian ini harus bernafaskan atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai Islam yang bersumber dari al Qur’an dan Sunnah (Hadist)

Bagi bangsa Indonesia, pandangan filosofis mengenai pendidikan dapat dilihat pada tujuan nasional sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 paragraf keempat. Secara umum tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemudian secara terperinci dipertegas lagi dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

II. RUMUSAN MASALAH


A. Bagaimana Tujuan Pendidikan Nasional Indonesia ?
B. Bagaimana Tujuan Pendidikan Islam ?
C. Bagaimana Tujuan Pendidikan Nasional Dalam Perspektif Falsafah Pendidikan Islam ?

III. PEMBAHASAN

A. Tujuan Pendidikan Nasional Indonesia

Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara merupakan tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, maksudnya yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mendapat keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.[1] Sedangkan tujuan merupakan sasaran yang akan dicapai seseorang atau sekelompok orang yang melakukan suatu kegiatan. Burhan Nurgiyantoro menyatakan bahwa kegiatan apapun agar tidak kehilangan arah dan pegangan harus mempunyai tujuan yang jelas. Tujuan yang telah ditentukan itulah yang menjadi dasar orientasi atau acuan kegiatan yang ingin dicapai.[2]

Dalam konteks Indonesia, konstitusi memandang bahwa agama merupakan elemen yang penting dalam pendidikan. Ketuhanan Yang Maha Esa disebut dalam falsafah dan pandangan hidup bangsa, yakni Pancasila. Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional tetap mempertahankan dasar pendidikan nasional adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.[3] Hal tersebut termaktub dalam Bab II pasal 2 yang bunyi lengkapnya adalah “Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”. Sedangkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional tercantum dalam Bab II pasal 3 yang berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.[4]

Dari uraian Bab II Pasal 2 UU No. 20 Tahun 2003, dapat diambil dua poin pokok tujuan pendidikan nasional yaitu :

1. Mencerdaskan kehidupan bangsa
2. Mengembangkan manusia seutuhnya yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

B. Tujuan Pendidikan Menurut Falsafah Pendidikan Islam

Telah dijelaskan sebelumnya, tujuan merupakan sasaran yang akan dicapai seseorang atau sekelompok orang yang melakukan suatu kegiatan. Secara definitif dapat dijelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah perubahan yang diinginkan, yang diusahakan oleh proses pendidikan atau usaha pendidikan untuk mencapainya, baik pada tingkah laku individu dan pada kehidupan pribadinya atau pada kehidupan masyarakat dan pada alam sekitar.[5]

Menurut Ahmad D. Marimba fungsi tujuan itu ada empat macam :

a) Mengakhiri usaha
b) Mengarahkan usaha
c) Tujuan merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain, baik merupakan tujuan-tujuan baru maupun tujuan-tujuan lanjutan dari tujuan pertama
d) Memberi nilai pada usaha itu[6]

Manusia adalah animal educandum artinya manusia itu pada hakikatnya adalah makhluk yang harus dididik, dan home educandus artinya manusia adalah makhluk yang bukan saja harus dan dapat dididik tetapi juga harus dan dapat mendidik.[7] Dalam Al Qur’an manusia menempati kedudukan khusus dalam jagat alam ini adalah Khalifah di atas bumi.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (QS. Al-Baqarah : 30) [8]

Selain itu manusia diciptakan juga untuk menjadi abdi atau hamba Allah SWT :

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(QS. Ad-Dzariyat : 56)[9]

Pendidikan Islam menurut Prof. Dr. Hasan Langgulung ialah pendidikan yang memiliki empat macam fungsi, yaitu :

1. Menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat pada masa yang akan datang. peranan ini berkaitan dengan kelanjutan hidup (survival) masyarakat sendiri.
2. Memindahkan ilmu pengetahuan yang bersangkut pada peranan-peranan tersebut dari generasi tua ke generasi muda
3. Memindahkan nilai-nilai yang bertujuan memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat yang menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan hidup (survival) suatu masyarakat dan peradaban.dengan kata lain, tanpa nilai-nilai keutuhan (integrity) dan kesatuan (integration) suatu masyarakat, tidak akan terpelihara yang akhirnya akan berkesudahan kehancuran masyarakat itu sendiri.[10]

Menurut Prof. Omar Mohammad Al-toumy Al-Syaibani, tujuan pendidikan adalah perubahan-perubahan yang diinginkan pada tiga bidang asasi yaitu :

1. Tujuan Individu,
Berkaitan dengan individu, pelajaran dengan pribadi, dan apa yang berkaitan dengan individu pada perubahan yang diinginkan pada tingkah laku.

2. Tujuan Sosial
Berkaitan dengan kehidupan masyarakat sebagai keseluruhan , dengan tingkah laku masyarakat umumnya.

3. Tujuan Professionil
Berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai aktifitas.[11]

Lebih jauh tentang tujuan pendidikan islam, Langgulung menerjemahkan tujuan tertinggi menjadi tujuan umum dan tujuan khusus. dengan kata lain tujuan pendidikan islam menurut Hasan Langgulung, dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu: tujuan tertinggi atau akhir (aim), tujuan umum (goals), tujuan khusus (objectives).

Yang dimaksud tujuan umum adalah perubahan-perubahan yang dikehendaki, yang diusahakan pendidikan untuk mencapainya. Al-Abrasyi dalam kajiannya tentang tujuan pendidikan islam menyimpulkan tujuan umum bagi pendidikan, yaitu: 1. pembinaan Akhlak, 2. Menyiapkan anak didik untuk hidup di dunia dan di akhirat, 3. Penguasaan ilmu, 4. Keterampilan bekerja dalam masyarakat.

Sedangkan yang dimaksud tujuan khusus adalah perubahan-perubahan yang diinginkan yang merupakan bagian yang termasuk di bawah tiap tujuan umum pendidikan . Tujuan khusus ini merupakan realisasi dari pengetahuan, keterampilan, pola-pola tingkah laku, sikap, nilai-nilai dan kebiasaan yang terkandung dalam tujuan akhir dan umum.[12]

Tujuan tertinggi atau akhir bagi pendidikan adalah tujuan yang tidak dibatasi oleh tujuan lain, sekalipun bertingkat-tingkat di bawahnya tujuan-tujuan lain yang kurang dekat atau kurang umum daripadanya. Berbeda dengan tujuan umum dan tujuan khusus, tujuan akhir dengan pengertian ini tidak terbatas pelaksanaanya pada institusi-institusi seperti sekolah, pondok, masjid dll, tetapi wajib dilaksanakan oleh masyarakat.[13]

Bagi umat islam, maka dasar agama Islam merupakan pondasi utama dari keharusan berlangsungnya pendidikan. Karena ajaran-ajaran islam bersifat universal yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Adapun prioritas pendidikan yang bersumber pada Al-Qur’an dalam upaya pembentukan kepribadian muslim ialah sebagaimana diilustrasikan berturut-turut dalam Al-Qur’an:

1. Pendidikan Keimanan Kepada Allah SWT
2. Pendidikan Akhlaqul Karimah
3. Pendidikan Ibadah[14]

C. Tujuan Pendidikan Nasional Dalam Perspektif Falsafat Pendidikan Islam
Rumusan tujuan pendidikan nasional di atas merupakan cita-cita bangsa Indonesia dalam bidang pendidikan. Cita-cita itu didasarkan atas Pancasila karena nilai-nilai (kebudayaan) yang dicita-citakan pengembangannya merupakan perwujudan dari mutiara-mutiara yang digali dari Pancasila. Di samping itu, Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pandangan Hidup Bangsa Indonesia mengilhami tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh bangsa Indonesia. Atau dengan kata lain, nilai-nilai yang ingin diaktualisasikan dalam bidang pendidikan bersumberkan pada Pancasila.

Rumusan tujuan pendidikan nasional dalam UU Sistem Pendidikan Nasional merupakan rumusan yang memadai secara konseptual dan memenuhi tuntutan zaman. Substansi rumusan tujuan pendidikan tersebut merupakan jawab pendekatan spekulatif, dan dengan terfokusnya pada manusia seutuhnya, gambaran tujuan itu menggunakan pendekatan holistik.[15]

Tujuan pendidikan nasional sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, telah dijelaskan sebelumnya bahwa tujuan pendidikan nasional mempunyai dua butir utama, yaitu:pertama, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan kedua, mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

1. Mencerdaskan Kehidupan Bangsa
Bagi bangsa Indonesia mencerdaskan kehidupan bangsa adalah amanat yang harus dilaksanakan, karena amanat itu termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945. Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa ini hanya mungkin dapat dicapai melalui pendidikan, dengan demikian pendidikan bagi bangsa Indonesia merupakan suatu keharusan.[16]

Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang berilmu pengetahuan. Dalam pandangan Islam, seseorang yang berilmu (berpengetahuan) memiliki kedudukan yang tinggi, sekalipun ia berasal dari golongan rendah, karena islam tidak memandang dari kepada darah dan keturunan, tetapi menggaris bawahi ilmu, amal, takwa, kejujuran, dan kesucian. dalam banyak tempat, Al-Qur’an memperingatkan mengenai ulama dan para sarjana serta menjelaskan posisi mereka yang cukup tinggi serta kedudukan yang cukup mulia.[17] Sebagaimana firman Allah dalam surat az-Zumar ayat 9 :

Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. az-Zumar : 9)[18]

Surat az-Zumar ayat 9, Allah menyatakan bahwa orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran. Pelajaran tersebut baik dari pengalaman hidupnya atau dari tanda-tanda kebesaran Allah yang terdapat di langit dan di bumi serta isinya, juga yang terdapat pada dirinya atau teladan dari kisah umat terdahulu.[19]

Dan juga dalam surat al-Mujadilah ayat 11 :

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Mujadilah : 11)[20]

Cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa ini sangat relevan dengan falsafah pendidikan islam sebagaimana telah tercantum dalam surat di atas bahwa Allah memberi posisi yang khusus bagi manusia yang berilmu. Islam ingin pemeluknya cerdas dan pandai, itulah ciri akal yang sempurna. Cerdas ditandai oleh adanya kemampuan menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat, sedangkan pandai ditandai oleh banyak memiliki pengetahuan. Salah satu ciri muslim yang sempurna adalah cerdas dan pandai[21]

Dalam pendidikan islam sendiri tidak akan terlepas konsep dasar ajaran islam tentang transmisi ilmu pengetahuan, bahwa islam sebagai sebuah agama memandang dan memposisikan ilmu pengetahuan pada tempat yang istimewa.[22]

2. Mengembangkan Manusia Indonesia Seutuhnya

Manusia Indonesia seutuhnya yang dimaksud adalah manusia-manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantab dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.[23]

Pendidikan islam di samping menginternalisasikan (menanamkan dalam pribadi) nilai-nilai islami. Juga mengembangkan anak didik agar mampu melakukan pengamalan nilai-nilai itu secara dinamis dan fleksibel terkait dangan Pendidikan Nasional, hal ini berarti pendidikan islam secara optimal harus mampu mendidik anak didik agar memiliki “kedewasaan atau kematangan” dalam beriman, bertaqwa dan mengamalkan hasil pendidikan yang diperoleh sehingga menjadi pemikir yang sekaligus pengamal ajaran islam, yang dialogis terhadap perkembangan kemajuan zaman. Dengan kata lain pendidikan Nasional haruslah mengacu pada nilai-nilai islami, sehingga akan mencetak generasi yang lebih baik.[24]

Tujuan pendidikan nasional “Mengembangkan manusia seutuhnya yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa”, sangat relevan dengan konsep tujuan pendidikan islam, di mana pandangan tersebut mengajak kita mengembalikan semua kepada tujuan terakhir, yaitu Persiapan Kehidupan Dunia dan Akhirat.[25] Dan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat tersebut tentu harus dilandasi iman dan taqwa kepada Allah SWT.

Konferensi Internasional Pertama Pendidikan Muslim yang dipelopori oleh Universitas King Abdul Aziz, menjelaskan bahwa pendidikan islam harus memungkinkan manusia untuk mengerti Tuhan-Nya, sehingga semua peribadatannya dilakukan dalam penuh penghayatan akan ke-Esa-an-Nya, dan juga pendidikan islam harus menggerakkan kemampuan manusia untuk memahami jalan Allah di atas bumi, menggalinya untuk dimanfaatkan dan menggunakan segala ciptaan Allah untuk mempertahankan iman.[26]



                                
[1] Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan, (Jakarta:Aksara Baru, 1988), hlm. 2
[2] Achmad Sudja’i, Pengembangan kurikulum, (Semarang: Akfi Media, 2013), hlm. 69
[3] Binti Maunah, Landasan Pendidikan, (Yogyakarta: Teras, 2009), hlm. 17
[4] Nur Uhbiyati, Long Life Education Pendidikan anak Sejak dalam Kandungan Sampai Lansia, (Semarang: Walisongo Press, 2009)hlm. viii
[5] Mahfud Junaedi, Ilmu Pendidikan Islam Filsafat dan Pengembangan, (Semarang: RaSAIL Media Group, 2010), hlm. 95
[6] Nur Uhbiyati, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan Islam, (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2012), hlm. 63
[7] Suwarno, Op. Cit., hlm. 39
[8] Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid I, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 71
[9] Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid Ix, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 485
[10] Abu ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam I, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), hlm. 10-11
[11] Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam (Falsafatut Tarbiyah Al-Islamiyah), alih bahasa: Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 399
[12] Mahfud Junaedi, Op. Cit., hlm. 101
[13] Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibani, Op. Cit., hlm. 405
[14] Ridlwan Nashir, Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 77
[15] Abdurrahman Mas’ud, dkk, Paradigma Pendidikan Islam, (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 2001), hlm. 202-203
[16] Ibid, hlm. 203
[17] Ridlwan Nashir, Op. Cit., hlm. 60
[18] Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid VIII, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 416
[19] Ibid, hml. 420
[20] Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid X, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 22
[21] Abdurrahman Mas’ud, dkk, Op. Cit., hlm. 204
[22] Mahfud Junaedi. Op. Cit., hlm. 154
[23] Abdurrahman Mas’ud, dkk, Op. Cit., hlm. 205
[24] Tarqiyah Ulfa, Tujuan Pendidikan Nasional Perspektif Filsafat Pendidikan Islam, http://tarqiyahulfa.blogspot.com/2013/04/tujuan-pendidikan-nasional-perspektif.html , Kamis, 20 Juni 2013 Pukul 20:00 WIB
[25] Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibani, Op. Cit., hlm. 406
[26] First World Conference on Muslim Education 1977, organized by King Abdul Aziz University, reproduced by Inter Islamic University Cooperation of Indonesia, hlm. 2
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !


Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

About Me

My Photo

Aku adalah aku...aku akan tetap menjadi diriku sendiri
 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template