Headlines News :
Home » » TAFSIR AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG HARI AKHIR

TAFSIR AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG HARI AKHIR

Written By Ahmad Multazam on Tuesday, March 19, 2013 | 8:36 PM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

I.                               PENDAHULUAN
Allah telah menciptakan segala sesuatu yang dikehendakinya. Di alam raya ini misalnya, dapat dilihat betapa kemaha besaran Allah sebagai dzat yang agung. Bagaimana langit ditinggikan(QS 88: 18), daratan dihamparkan(QS 88: 20), makhluk hidup diciptakan (QS 16: 4, 5, 8), Allah menghidupkan (QS 22: 6), Allah mengakhiri (QS 22: 1), dan sebagainya. Ada maksud penciptaan pasti terdapat pula tujuan penciptaan, ada awal penciptaan – ada akhir dari penciptaan tersebut, dan sebagainya.
Umat muslim memiliki kepercayaaan (Iman) yang termaktub di dalam rukun Iman agama Islam, yaitu : Iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat, Iman kepada Rasul, Iman kepada Kitab-kitab Allah, Iman kepada Hari Akhir, dan Iman kepada Qodlo-Qodar.
Ada dua hal pokok yang berkaitan dengan keimanan. Pertama adalah pembuktian tentang keesaan Allah. Kedua adalah pembuktian tentang hari akhir karena keimanan kepada Allah tidaklah sempurna kecuali dengan keimanan kepada hari akhir.[1]
Oleh karena itu, disini penulis tertarik untuk mengkaji ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan hari akhir.
II.                RUMUSAN MASALAH
A.    Apa pengertian hari akhir?
B.     Bagaimana tafsir ayat-ayat al-Qur’an tentang hari akhir?
III.             PEMBAHASAN
A.    Pengertian hari akhir (konteks Islam)
Salah satu rukun Iman adalah Iman kepada hari akhir (yaumul qiyamah), yaitu percaya akan datangnya ujung dari kehidupan di dunia. Dalam al-qur’an hari akhir dinamakan al-qari’ah, terdapat pada QS. Al-Haqqah : 4 dan QS. Al-Qari’ah : 1, 2, dan 3.[2]
Firman Allah Tahukah kamu, apakah hari kiamat itu ?” (QS. Al-Qari’ah : 3). Menurut Ar-Razi, ayat tersebut mununjukan bahwa manusia tidak tahu sama sekali tentang hari kiamat, manusia hanya memahami bahwa hal tersebut merupakan peristiwa yang luar biasa.
Hari akhir atau kiamat (qiyamat/qiyamah) juga dijelaskan dengan pengertian, hari kiamat adalah hari dihancurkannya secara total kehidupan manusia di dunia dengan ditiupkannya sangkakala pertama oleh malaikat Israfil (dalam masa tersebut tiada lagi kehidupan). Kemudian ditiupkan kembali sangkakala untuk kali kedua yaitu untuk menghidupkan umat manusia sejak Nabi Adam as. hingga umat terakhir, untuk menerima pengadilan Allah.[3]
Hari akhir sering pula disebut sebagai hari kiamat, yaitu hari pembalasan yang hakiki terhadap semua makhluk hidup di dunia yang fana ini.
B.     Tafsir Ayat-Ayat Tentang Hari Akhir
a.      Qs. Al-A’raf : 147
147. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang Telah mereka kerjakan.
1.        Tafsir
Ayat ini menjelaskan bahwa ada siksaan atau suatu dampak yang buruk terhadap orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah di akhirat kelak.[4] Walaupun dia melakukakan amal-amal baik maka sia-sialah itu jika dia tidak mempercayai adanya pertemuan dengan Allah diakhir nanti.
Dalam ayat ini menggunakan kata (حبطت) untuk menunjuk makna kesia-siaan, yang mana kata tersebut pada mulanya digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang konkret indrawi, misalnya ada seekor binatang yang mati karena memakan suatu jenis bunga, dalam konteks ini Nabi Saw bersabda : “sesungguhnya ada tumbuhan yang tumbuh di musim bunga yang membunuh” (HR. Bukhari dan at-Tirmidzi).[5]
Dari penjelasan dan hadits tersebut dapat dipahami bahwa ada sesuatu yang buruk di dalam sesuatu yang baik. Dalam buku yang sama, M. Quraish Shiahab menjelaskan amal-amal seorang kafir (baca : mendustakan ayat Allah) kelihatannya baik namun amal tersebut حبطت, sehingga pada akhirnya ia akan binasa, bagai binatang yang memakan bunga yang indah tetapi sejatinya bunga tersebut beracun atau memiliki efek buruk. Kesia-siaan tersebut juga dapat dipahami dalam arti karena mereka mendustakan adanya pertemuan akhirat, yaitu adanya balasan dan ganjaran di akhiirat kelak.[6]
Pada penutup ayat di atas, bermakna bahwa seseorang tidak diberi balasan kecuali sesuai dengan amal mereka masing-masing, beramal baik sesuai ketentuan illahi atau beramal sebaliknya.[7]


2.        Munasabah
Pada ayat-ayat lalu diterangkan hal-ihwal Fir’aun dan tentaranya yang telah punah dan tenggelam ke dasar laut Qulzum (laut merah), karena ketakaburan, keangkuhan, kezaliman, dan sikap mereka yang mendustakan kenabian Musa beserta risalah yang dibawanya. Pada ayat ini dijelaskan bahwa orang yang sombong dan mendustakan kekuasaan Allah dan adanya akhirat, mereka akan menerima balasan sesuai dengan perbuatannya.[8]
3.        Analisis
Dari tafsir ayat tersebut diketahui bahwa Allah Maha Kuasa. Sunatullah akan berlaku bagi siapapun yang takabur, dan menyombongkan diri. Sifat-sifat tersebut dapat ditandai dengan tidaknya beriman pada pertemuan Allah di hari pembalasan nanti, merendahkan martabat orang lain serta menyombongkan diri karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah. Maka sia-sia pula amal baik yang telah dikerjakan orang-orang tersebut jika tidak mengimani ayat-ayat Allah.
b.      Qs. Al-Ahzab : 63
63. Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu Hanya di sisi Allah". dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.
1.      Tafsir
Ayat ini menerangkan bahwa adanya pertanyaan tentang hari akhirat, baik dari kaum mukmin yang bertanya serius dan kaum musyrik atau munafik yang bertanya memperolokannya.[9] Banyak manusia yang bertanya kepada Nabi Saw, kapan terjadinya hari kiamat, kaum musyrik menantang supaya hari kiamat segera didatangkan (bertanya dengan mencemooh) seraya Nabi menaggapi, sesungguhnya kiamat itu berada ditangan Allah.[10] Sedangkan kaum mukmin bertanya kepada Nabi Saw karena terdorong rasa ingin tahu tentang yang gaib, yang menyangkut kenikmatan ukhrawi dan siksa-Nya.[11]
Dengan demikian dapat dipahami bahwa kapan hari tersebut akan datang dan menghampiri, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya bahkan Nabi. Hal tersebut menjadi rahasia Allah dan hak prerogatif-Nya.
2.      Munasabah
Pada ayat-ayat yang lalu, Allah mengemukakan tiga golongan yang menentang Allah, Rasul-Nya, dan kaum mukminin, dan bahwa mereka itu dikutuk dan dikejar-kejar untuk dibunuh di mana saja mereka dijumpai sesuai dengan perintah Allah. Pada ayat-ayat berikut ini, Allah menerangkan tentang hari kiamat, keadaan mereka kelak di akhirat, dan tingkah lakunya ketika menghadapi siksaan Allah.[12]
3.      Analisis
Pada ayat ini dijelaskan bahwa datangnya hari kiamat itu adalah sangat dekat. Tiada yang tahu kapan pastinya hari kiamat itu datang. Dan siapapun yang mengingkari firman Allah ini merupakan kaum kafir yang dimana mereka akan di tempatkan di neraka yang pedih.
c.       Ali-Imran : 25
25.  Bagaimanakah nanti apabila mereka kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan).
1.      Asbabun nuzul
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, dari Abdullah bin Umar, bahwa beberapa orang Yahudi datang menghadap Rasulullah saw dengan membawa seorang laki-laki dan seorang perempuan yang telah berbuat zina. Lalu Rasul berkata: “bagaimana tindakanmu terhadap orang yang berbuat zina?” mereka menjawab: “kami lumur mereka dengan abu lalu kami pukuli”. Rasul berkata: “tidakkah kamu temukan hukum rajam dalam taurat?” mereka menjawab: “tidak! Kami tidak menemukan hukum itu di dalamnya”. Abdullah bin Salam berkata pada mereka: “kamu telah berdusta, bawalah taurat. Bacalah jika kamu sekalian benar”. Lalu salah satu dari mereka membaca taurat dengan menutup sebagian lembar dengan telapak tangannya di atas ayat rajam. Dia membaca selain dari yang tertutup oleh telapak tangannya. Kemudian Abdullah bin Salam mengangkat telapak tangan orang yang menutupi ayat rajam, lalu dia berkata pada orang-orang Yahudi itu, “ini apa?” tatkala orang Yahudi itu melihatnya, mereka berkata, “itu adalah ayat rajam”. Maka Rasulullah memerintahkan untuk merajam mereka berdua sesuai dengan perintah Taurat. Lalu mereka dirajam dekat kuburan di samping masjid. Akan tetapi orang Yahudi marah terhadap hukuman ini. Maka Allah mencela mereka dengan ayat ini.[13]
2.      Tafsir
Dalam tafsir al-misbah, M. Quraish Shihab menjelaskan ayat tersebut, kalau kehidupan di dunia ini demikian adanya masih dapat berbohong dan mempercayai kebohongannya karena di dunia masih diberi pilihan, akan tetapi berbeda dengan hari kiamat kelak, di sana tidak ada suatu pilihan, tidak ada kebohongan dan tipu daya. Ketika itu segala kebohongan akan terbongkar dan semua tipu daya akan nyata.[14] Pada hari yang dahsyat tersebut semua orang akan melihat dengan jelas apa yang telah dikerjakannya, baik atau buruk akan dihadapkan kepada mereka masing-masing, amal baik akan dibalas dengan kebahagiaan sedangkan amal yang buruk akan dibalas dengan kesengsaraan serta di hari itu akan terdapat keadilan yang sempurna yaitu pengadilan Allah. Yang pertimbangan ialah keimanan seseorang dan pengaruh iman terhadap amal perbuatan sewaktu di dunia.[15]
3.      Munasabah
Dalam ayat-ayat yang lalu telah dijelaskan kejelekan tingkah laku orang Yahudi; yaitu mengabaikan dakwah Nabi, membunuh para nabi dan orang-orang bijak yang menegakkan kebenaran dan keadilan. Semua itu adalah sebagai keterangan Allah bagi para rasul-Nya bahwa berpalingnya mereka dari dakwah nabi bukanlah suatu hal yang baru atau mengherankan. Lalu pada ayat ini, Allah memperingatkan kepada Nabi Muhammad saw tentang kejanggalan sikap orang Yahudi dalam hidup beragama, yaitu mereka menolak untuk mengambil hukum dari kitab suci mereka sendiri. Mereka selalu menolak ajakan untuk kembali pada kitab suci mereka sendiri.[16]
4.      Analisis
Ayat ini menjelaskan bagaimana nanti Allah melihat makhluk-Nya. Semua manusia sama di hadapan Allah, tidak satupun yang diistimewakan dan tidak pula yang dikurangi pahalanya. Manusia yang beramal baik pastinya akan mendapat ganjaran surga dan sebaliknya, manusia yang mengingkari Allah maka nerakalah yang akan menampungnya. Semua itu adalah atas kehendak Allah swt.
d.      Qs. Hud : 105 – 108
105.  Di kala datang hari itu, tidak ada seorangun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia.
106.  Adapun orang-orang yang celaka, Maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih),
107.  Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki.
108.  Adapun orang-orang yang berbahagia, Maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.
1.      Asbabunuzul
Ayat 106
Diriwayatkan turunya ayat ini yang bertanya kepada Nabi Saw “apakah tidak sewajarnya kita berpangku tangan menanti ketetapan Allah ?” Nabi Saw menjawab, “berusahalah karena semua akan dipermudah menuju apa yang ia tercipta untuknya.” (HR Bukhari melaui Imran ibn al-Husein dan at-Tirmidzi melalui umar ibn al-Qatab).[17]
2.      Tafsir
Ayat 105 – 106
Pada ayat tersebut dijelaskan, hari kiamat memang belum datang, tetapi di kala hari itu datang yakni hari datangnya Kiamat, tidak ada satu jiwa pun, baik yang taat apalagi yang durhaka, yang boleh berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di hari antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia; adapun orang-orang yang celaka, maka mereka di dalam neraka. Bagi mereka di dalamnya embusan dan tarikan napas yang sangat sulit, yakni rintihan yang terdengar sangat mengenaskan.[18] Dalam buku yang sama juga dijelaskan oleh Thabatthaba’i, bahwa pengecualian pada ayat tersebut bukan tertuju kepada pembicara, tetapi kepada pembicaraan. Menurut Thabatthaba’i, pembicaraan di hari kemudian (baca : Kiamat) bukan seperti halnya pembicaraan di dunia, seseorang bisa mengungkapkan secara bebas dan sukarela apa yang akan disampaikan, kebebasan itu di hari kemudian (baca : Kiamat) tidak akan ada lagi, pada hari itu pembicaraan berpulang kepada izin dan kehendak Allah serta mulut yang bisa kita gunakan untuk berbicara di hari Kiamat akan tidak difungsikan Allah.[19]
Juga dijelaskan bahwa kelak di hari kemudian ada yang celaka dan ada juga yang berbahagia. Konteks ayat ini mengajak kita kepada iman dan amal saleh serta keniscayaan hari kemudian menunjukan bahwa celaka atau berbahagia bukan suatu yang telah dipastikan bagi yang bersangkutan, memiliki maksud ketika masih hidup di dunia kita diberi suatu potensi untuk dikembangkan menuju apa yang kita pilih, baik celaka maupun berbahagia.[20] Jadi kita yang masih diberi kesempatan (hidup di dunia), hendaknya memfungsikan potensi tersebut dengan amal-amal yang baik karena di hari Kiamat kita tidak diberi kesempatan oleh Allah untuk memfungsikannya. Di akhir ayat ini terdapat kata (زفير) yang bermakna embusan pengeluaran napas dengan mendorongnya secara keras disebabkan sesaknya dada dan sulitnya bernapas.[21] Dalam buku yang sama dijelaskan bahwa menarik dan menghembuskan napas secara keras terjadi karena mernitih kesakitan atau kesedihan mendalam, yang demikian tersebut menurut M. Quraish Shihab tepat untuk penghuni neraka.

Ayat 107
Ayat ini menjelaskan bahwa, yang celaka akan berada dineraka, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali apa yang dikehendaki tuhanmu, yakni kecuali jika Tuhanmu menghendaki yang lain. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki, tidak ada sesuatu apapun yang dapat menghalangi.[22] Juga dijelaskan dalam buku tersebut, pada awal ayat terdapat kata (خا لدين) mereka kekal dipahami dalam arti kesinambungan keadaan dan kebradaanya dengan tidak tersentuh oleh perubahan atau kerusakan. Sebagai suatu ungkapan ia dipahami dalam arti selamanya (kekal) yaitu penghuni neraka yang kekal selamnya, akan tetapi juga dijelaskan bahwa mereka yang memperoleh syafaat atau yang telah dibersihkan dosa-dosanya di neraka, mereka dianugerahi Allah ampunan sehingga dipindah ke surga.[23] Menurut pemahaman penulis, kekal yang dimaksud adalah tetap berada di alam akhirat.
Ayat 108
Setelah ayat yang sebelumnya menerangkan tentang orang-orang yang celaka yang akan menghuni neraka, kemudian di ayat yang ini diterangkanlah tentang mereka yang berbahagia dengan Adapun orang-orang yang berbahagia , maka tempatnya di dalam surga; maka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali apa yang dikehendaki Tuhanmu, yaitu kecuali jika Tuhan menghendaki yang lain; sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.[24] M. Quraish Shihab menjelaskan yang dimaksud pengecualian pada ayat tersebut adalah sebagai fungsi untuk menunjukan kuasa Allah Swt. yang mutlak, Allah telah menetapkan atas diri-Nya mengekalkan surga kepada mereka yang taat, ketetapan tersebut tidak dapat berubah, akan tetapi jika Allah berkehendak mengubahnya, itu pun dalam wewenangnya karena tidak ada yang wajib atas Allah, serta tidak ada yang dapat memaksa-Nya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dengan demikian menurut hemat penulis dapat dipahami bahwa kekekalan yang dimaksud baik surga – neraka atau sebaliknya neraka – surga, merupakan keputusan dan hak prerogatif Allah.
3.      Munasabah
Ayat-ayat yang lalu menerangkan tentang pelajaran yang diambil dari kehancuran umat yang banyak berbuat aniaya di dunia ini. Ayat-ayat berikut ini menerangkan balasan di akhirat: bagi orang-orang yang celaka akan dimasukkan ke dalam neraka, sedang orang-orang yang berbahagia akan bersenang-senang di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan.[25]
4.      Analisis
Dijelaskan bahwa pada hari kiamat tidak ada satupun yang dapat berbicara kecuali seatas izin Allah swt. Diantara mereka ada yang mendapatkan celaka ada pula yang berbahagia. Itu semua semata-mata hanya karena ridha Allah, memberikan ganjaran baik kepada orang-orang yang beramal baik dan meyakini ayat-ayat Allah, dan akan mendapat siksa orang-orang yang mendustakan Allah.
e.       Qs. Yasiin Ayat 78-81
78.  Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang Telah hancur luluh?"
79.  Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. dan dia Maha mengetahui tentang segala makhluk.
80.  Yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, Maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu".
81.  Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? benar, dia berkuasa. dan dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.
1.      Asbabun Nuzul
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa beberapa orang dari kalangan kaum musyrik antara lain Ubay bin Khalaf dan al-As bin Wail as-Sahmi, datang pada Rasulullah, dan mereka membawa sepotong tulang yang sudah lapuk. Lalu seorang di antara mereka berkata kepada Rasulullah dengan sikap menantang, hai Muhammad, apakah engkau berpendapat bahwa  Allah dapat menghidupkan kembali tulang yang telah lapuk ini?Rasulullah menjawab tentu, Allah akan membangkitkanmu kembali, dan akan memasukkanmu ke neraka.
Maka turunlah ayat yang menyebut bahwa orang musyrik yang berkata pada Rasulullah itu telah mengemukakan sesuatu yang menurut pendapatnya merupakan sesuatu yang tidak akan dapat dijawab oleh Rasulullah, karena tulang-belulang yang telah lapuk itu tak mungkin lagi menjadi manusia yang hidup dan utuh. Sebab itu ia mengemukakan pertanyaan, siapakah yang dapat menghidupkan kembali tulang yang sudah lapuk ini?.[26]
2.      Tafsir
Pada ayat 78 ini dijelaskan tentang keraguan kaum kafir Mekah terhadap adanya hari kebangkitan. Mereka berpendapat demikian karena telah melupakan asal kejadian masing-masing. Mereka diingatkan bahwa Allah telah menciptakan mereka dari setetes mani, sehingga mereka lahir berwujud manusia yang hidup dan utuh.[27] (79) Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk menjawab pertanyaan orang-orang tersebut, dengan menegaskan bahwa yang akan menghidupkan tulang-tulang lapuk itu kembali menjadi manusia yang hidup dan utuh adalah Allah yang dahulu telah menciptakannya pada kali pertama, dari tidak ada menjadi ada.[28] (80) Allah memerintahkan  rasul-Nya untuk menjelaskan kepada orang-orang musyrik tersebut yang akan menghidupkan kembali tulang-tulang lapuk tersebut adalah Allah yang telah menciptakan untuk mereka, api yang menyala dari kayu yang semula pohon yang basah dan hijau tetapi kemudian kayu itu menjadi kering sehingga dapat menyalakan api.[29] (81)  Allah mengemukakan pertanyaan kepada orang-orang yang tidak mempercayai hari kebangkitan itu bahwa jika mereka percaya bahwa Allah kuasa menciptakan langit dan bumi ini, mengapa Allah tidak kuasa pula menciptakan sesuatu yang serupa dengan itu. Jawabannya adalah Allah pasti kuasa menciptakannya, karena Dia Maha Pencipta, lagi Maha Mengetahui.[30]
3.      Munasabah
Pada ayat-ayat yang lalu diterangkan bahwa Allah SWT telah menciptakan dan memberikan bermacam-macam rahmat kepada manusia, antara lain ialah binatang ternak yang mereka jadikan milik masing-masing dan mereka amabil manfaatnya untuk bermacam-macam keperluan hidup. Tetapi sebagian manusia tidak mensyukuri rahmat tersebut,[31] bahkan menyembah selain kepada Allah, yaitu berupa patung yang mereka buat sendiri, padahal patung-patung tersebut tiada membantu sedikitpun pekerjaan mereka. Pada ayat-ayat ini Allah mengingatkan kembali asal mula kejadian manusia, anak cucu Adam tersebut yang sebagian dari mereka memusuhi Allah dan rasul-Nya, dan tidak percaya tentang adanya hari kebangkitan kelak di akhirat.
4.      Analisis
Sebagai manusia yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya karena mereka telah melupakan asal kejadian mereka. Ayat ini diturunkan untuk menunjukkan Kuasa Allah swt, bahwa sesungguhnya Allah dapat menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya. Kaum Yahudi meminta Nabi Muhammad untuk Allah dapat menghidupkan tulang belulang yang telah lapuk, dan pula menghidupkan api pada kayu yang masih hijau dan basah. Sesungguhnya Allah jika menghendaki menciptakan sesuatu, cukuplah dengan firman-Nya “Jadilah” maka terciptalah yang dikehendaki-Nya. Karena Allah menguasai semua yang Ia ciptakan dan hanya kepada-Nya semua kembali.
f.       Qs. Al-Baqarah ayat 4
4.  Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang Telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang Telah diturunkan sebelummu.
1.      Tafsir
Beriman kepada kitab-kitab yang telah diturunkan-Nya, yaitu beriman kepda al-Quran dan kitab-kitab (wahyu) Taurat, Zabur, Injil, dan sahifah-sahifah yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw. Meskipun dalam beriman kepada kitab-kitab selain al-Quran bersifat ijmali (global), sedangkan beriman kepada al-Quran harus secara tafsili (rinci).[32]
Beriman kepada kitab-kitab Allah merupakan salah satu sifat dari orang-orang yang bertakwa. Sifat ini akan menimbulkan rasa dalam diri seorang muslim bahwa mereka adalah umat yang satu, agama mereka adalah satu, agama islam. Sifat tersebut pula akan menghilangkan eksklusivisme (sifat berbeda) dalam diri seorang muslim, yaitu meliputi sifat sombong, tinggi hati, fanatik golongan,dan sebagainya.
2.      Munasabah
Pada ayat sesudahnya adalah dijelaskan untuk beriman kepada adanya hari akhir. Akhirat sebagai lawan dari kata dunia adalah tempat manusia berada setelah dunia ini lenyap. Sebagai muslim yang bertakwa yaitu beriman pada kitab Allah maka juga beriman pada adanya hari akhir. Mereka inilah orang-orang yang mendapat petunjuk dan bimbingan dari Allah swt.
3.      Analisis
Kita ketahui bahwa orang-orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang mengimani dan tidak mengingkari ayat-ayat al-Qur’an. Pada surah al-Baqarah pun disebutkan tentang keimanan kepada kitab-kitab Allah dan iman kepada hari akhir. Jika kita mengimani firman Allah tersebut, maka kita mempercayai datangnya hari akhir yang ditunjukkan ataupun diterangkan pada kitab suci Allah swt. Dengan mengamalkan ayat-ayat Allah tersebut maka kita akan mendapatkan akhir yang baik, tentu atas kehendak Allah.


[1] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, (Bandung : Mizan, 2009), cet. 2, hlm. 107 – 108.
[2] M. Quraish Shihab;dkk, Ensiklopedia AL-Qur’an, (Jakarta :Lentera Hati), cet. 1, hlm. 760.
[3] Ahsin W. Al-Hafidz,Kamus Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta : Amzah, 2008), hlm. 241.
[4] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta : Lentera Hati, 2009), vol. 4, hlm. 298, cet. 1.
[5] Ibid, hlm. 299.
[6]Ibid, hlm. 300.
[7] Ibid, hlm. 299.
[8] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya (edisi yang disempurnakan), (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), Jilid III, hlm. 479.
[9] M. Quraish Shihab, Op. cit, vol. 10, hlm. 541.
[10] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya (edisi yang disempurnakan), (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), Jilid VIII, hlm. 44.
[11] M. Quraish Shihab, Op. cit, vol. 10, hlm. 542.
[12] Departemen Agama RI, Op. Cit,Jilid VIII, hlm. 44.
[13] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya (edisi yang disempurnakan), (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), Jilid I, hlm. 478.
[14] M. Quraish Shihab, Op. cit, vol. 2, hlm. 60.
[15] Departemen Agama RI, Op. cit, Jilid I, hlm. 480.
[16] Departemen Agama RI, Op. cit, Jilid I, hlm. 478.
[17] M . Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta : Lentera Hati,  2009), vol. 5, hlm. 748, cet. 1.
[18] Ibid, hlm. 745.
[19] Ibid, hlm. 747.
[20] Ibid, hlm. 748.
[21] Ibid, hlm. 749.
[22] Ibid, hlm. 749.
[23] Ibid, hlm. 750.
[24]Ibid, hlm. 751.
[25]  Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya (edisi yang disempurnakan), (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), Jilid IV, hlm. 474.
[26] Departemen Agama RI, op. Cit, Jilid VIII, hlm. 253-254.
[27] Ibid, hlm. 254.
[28] Ibid, hlm. 255.
[29] Ibid, hlm. 255.
[30]  Ibid, hlm. 256.
[31] Ibid, hlm. 254.
[32]  Departemen Agama RI, op. Cit, Jilid I, hlm. 38.


Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !


Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

About Me

My Photo

Aku adalah aku...aku akan tetap menjadi diriku sendiri
 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template