Headlines News :
Home » » TEORI BELAJAR ANAK USIA DINI

TEORI BELAJAR ANAK USIA DINI

Written By Ahmad Multazam on Thursday, January 24, 2013 | 10:44 AM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

I.    Pendahuluan
Pada dasarnya semua anak di dunia ini terlebih pada anak usia dini dari manapun mereka berasal semuanya memiliki kegemaran yang sama yaitu bermain. Bermain merupakan suatu aktivitas yang khas dan sangat berbeda dengan aktivitas lain seperti bekerja yang sering dilakukan oleh orang dewasa dalam mencapai suatu hasil akhir.
Dengan demikian pengetahuan tentang teori belajar dan proses pembelajarnnya bagi anak usia dini sangat bermanfaat tidak hanya bagi guru yang ada di lembaga PAUD, tetapi juga mempunyai manfaat bagi orang tua dan orang dewasa yang memiliki tanggung jawab dalam membelajarkan anaknya di manapun dan kapanpun mereka berada.
Dalam makalah  ini akan membahas tentang teori belajar bagi anak usia dini yang berkaitan dengan makna belajar melelui bermain pada anak usia dini serta mengetahui bagaimana perkembangan kreativitas si anak.

II.Rumusan Masalah
A.    Makna belajar melalui bermain bagi anak
B.     Periode sensitif untuk belajar
C.     Pembelajaran pada anak usia dini
D.    Model pembelajaran anak usia dini

III. Pembahasan Masalah     
A.    Makna Belajar Melalui Bermain
Dunia anak adalah dunia bermain, yang merupakan fenomena sangat menarik perhatian bagi para pendidik, psikolog, dan ahli filsafat sejak dahulu. Mereka tertangtang untuk lebih memahami arti bermain dikaitkan dengan tingkah laku anak. Walupun konsep bermain telah sejak bertahun-tahun, tetapi lebih sulit untuk mwndefinisikannya dibandingkan kebanyakan gagasan psikologis lain.[1]
Permainan merupakan persyaratan untuk keahlian anak selanjutnya, suatu praktek untuk kemudian hari. Permainan penting sekali untuk perkembangan kemampuan kecerdasan. Dalam permainan, anak-anak dapat bereksperimen tanpa gangguan, sehingga dengan demikian akan mampu membangun kemampuan yang kompleks. Bermain dengan krayon dan kertas, menggambar, memanipulasi balok-balok kayu, mekanika, bermain dengan benda dapat memajukan kemampuan untuk membangkitkan cara-cara baru menggunakan benda-benda tersebut.[2]
Bermain dalam tatanan sekolah dapat digambarkan sebagai suatu rentang rangkaian kesatuan yang berujung pada bermain bebas, bermain dengan bimbingan dan berakhir pada bermain dengan diarahkan. Dalam bermain bebas dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatanbermain di mana anak mendapatkan kesempatan melakukan berbagai pilihan alat dan mereka dapat memilih bagaimana menggunakan alat-alat tersebut. Sedangkan kegiatan bermain dalam bimbingan, guru memilih alat permainan dan diharapkan anak-anak dapat memilih guna menemukan suatu konsep  (pengertian) tertentu. Apabila tujuannya melakukan klasifikasi benda dalam ukuran tertentu (besar/kecil), maka guru akan menyediakan sejumlah mainan yang dapat diklasifikasikan dalam kelompok yang berukuran besar atau yang kecil. Dalam bermain yang diarahkan, guru mengajarkan bagaiman cara menyelesaikan suatu tugas yang khusus, seperti menyanyikan suatu lagu, bersama bermain jari dan bermain dalam lingkaran adalah contoh dari bermain yang diarahkan.[3]

B.     Periode Sensistif Untuk Belajar
Periode sensitif dari tumbuh kembang anak merupakan masa awal untuk belajar yaitu melalui tahapan-tahapan berupa ketertarikan dan keingintahuan pada sesuatu. Periode seperti ini tidak bisa datang untuk kedua kali atau terulang kembali. Selama periode ini minat anak semakin tinggi dan anak menjadi peka atau mudah terstimulasi terhadap aspek-aspek lingkungan yang berada disekitarnya. Dengan demikian, menjadi penting bagi seorang pendidik untuk memahami proses ini karena setiap tahapan terdapat kesempatan yang menguntungkan untuk perkembangan anak.
Montessori dalam Seldin (2007:14-17) telah mengidentifikasikan beberapa perbedaan dalam periode sensitif yang terjadi dari mulai lahir sampai usia 6 tahun. Setiap perbedaan itu mengacu pada kecenderungan yang mendorong untuk memperoleh karakteristik khusus. Sebagai contoh:  pada masa-masa awal tahun pertama kehidupan anak, umumnya mereka berada dalam periode sensitif dalam bahasa. Mereka perhatian pada apa yang diucapkan seseorang dan bagaimana cara orang mengucapkannya.[4]
Anak-anak pada tahap ini memiliki intelegensi yang berpotensi luar biasa karena memiliki berjuta-juta saraf otak yang mulai berkembang dan memiliki daya ingatan yang kuat. Namun, pada umumnya para orang tua dan guru hanya dapat mengajarkan sedikit hal pada anak-anaknya. Pada umumnya, orang tua selalu menyalahkan anak-anak apabila tingkah laku mereka tidak seperti yang diinginkan. Hal ini lebih banyak dikarenakan kurangnya pengetahuan dan pemahaman terhadap perkembangan jiwa anak. Oleh karena itu, pendidikan yang menanamkan nilai-nilai luhur kemanusiaan (pengembangan intelegensi, karakter, kreativitas, moral, dan kasih sayang) sangatlah perlu diberikan pada anak usia dini.[5]
Waktu untuk belajar sebaiknya memberikan stimulasi yang tepat pada waktu yang tepat pula. Selanjutnya anak akan mampu belajar dengan tanpa disadari. Berikut ini periode sensitif anak dari mulai lahir sampai usia 6 tahun: [6]
1.      Gerakan (Lahir-1 tahun)
Gerakan acak bayi menjadi terkoordinasi dan terkontrol seperti halnya belajar menggenggam, menyentuh, berbalik, keseimbangan, merayap dan berjalan.
2.      Bahasa (Lahir-6 tahun)
Diawali dengan belajar bersuara, bayi akan mengalami kemajuan dengan mengoceh kata-kata, suku kata dan akhirnya kalimat.
3.      Objek Kecil (1-4 tahun)
Bayi akan mendekatkan benda kecil ke mukanya dan dari hal-hal yang detail sebagai kemajuan koordinasi mata-tangan yang semakin lama menjadi sempurna dan akurat.
4.      Urutan (2-4 tahun)
Segala sesuatu harus pada tempatnya. Tahapan ini merupakan ciri-ciri dari bayi  yang suka terhadap hal-hal yang rutin dan keingintahuan pada konsistensi dan pengulangan.
5.       Musik (2-6 tahun)
Bila musik merupakan bagian dari leluasanya setiap hari, anak-anak akan menunjukkan keinginan yang spontan dalam intonasi, irama dan melodi.
6.      Toilet Training (10 bulan-3 tahun)
Saat sistem persyaratan anak menjadi lebih baik berkembang dan berintegrasi, anak-anak kita akan belajar mengontrol kantung kecil dan perut.
7.      Kehormatan dan Santun (2-6 tahun)
Anak akan cinta pada kesopanan dan sikap yang bijaksana yang akan terinternalisasi kedalam kepribadiannya.
8.      Alat Indera (2-6 tahun)
Pendidikan penginderaan dimulai saat lahir, tetapi dari usia 2 tahun anak akan sangat menyukai pengalaman inderanya.
9.      Menulis (3-4 tahun)
Keterampilan menulis ini mendahului membaca dan dimulai dengan usaha untuk memproduksi huruf-huruf dan angka-angka dengan pensil dan kertas.
10.  Membaca (3-5 tahun)
Anak menunjukkan keinginan yang spontan dalam simbol dan suara-suara yang dikeluarkan tak lama kemudian mereka menyuarakan kata-kata.
11.  Hubungan Spasial (4-6 tahun)
Saat pemahaman hubungan bentuk-bentuk, anak akan berkembang sebagai contoh ia akan mampu mengerjakan puzzle-puzzle yang sulit.
12.  Matematika (4-6 tahun)
Belajar hitung, jumlah dan mengenal angka dengan memberikan pengalaman nyata untuk anak.
Periode sensitif merupakan mekanisme alamiah yang pasti pada anak dan tidak terpisahkan dengan faktor-faktor keturunan sebagai manusia. Masa ini merupakan “kesempatan yang terbatas” karena anak dalam suatu tahapan transisi, sekali anak telah menguasai keterampilan atau kemampuan yang telah diserapnya, periode sensitifnya terlihat lenyap sehingga jika anak tidak diperlihatkan pada pengalaman stimulasi yang benar, kesempatan akan hilang begitu saja. Ketrampilan masih dapat dipelajari akan tetapi saat ini memerlukan waktu dan usaha dan latihan yang benar.

C.    Pembelajaran pada pendidikan anak usia dini
Kegiatan pembelajaran pada anak usia dini pada hakikatnya adalah pengembangan kurikulum secara konkret berupa seperangkat rencana yang berisi sejumlah pengalaman belajar melalui bermain yang diberikan pada anak usia dini berdasarkan potensi dan tugas perkembangan yang harus dikuasainya dalam rangka pencapaian kompetensi yang harus dimiliki oleh anak.[7]
Bennett, Finn dan Cribb (1999:91-100), menjelaskan bahwa pada dasarnya pengembangan program pembelajaran adalah pengembangan sejumlah pengalaman belajar melalui kegiatan bermain yang dapat memperkaya pengalaman anak tentang berbagai hal, seperti cara berpikir tentang diri sendiri, tanggap pada pertanyaan, dapat memberikan argumentasi untuk mencari berbagai alternative. Selain itu, hal ini membantu anak-anak dalam mengembangkan kebiasaan dari setiap karakter yang dapat dihargai oleh masyarakat serta mempersiapkan mereka untuk memasuki dunia orang dewasa yang penuh tanggung jawab.
Unsur utama dalam pengembangan program pembelajaran bagi anak usia dini adalah bermain. Pendidikan awal dimasa kanak-kanak diyakini memiliki peran yang amat vital bagi pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan selanjutnya. Albrecht dan Miller (2000: 216 – 218) berpendapat bahwa dalam pengembangan program pembelajaran bagi anak usia dini seharusnya sarat dengan aktivitas bermain yang mengutamakan adanya kebebasan bagi anak untuk bereksplorasi dan berkreativitas, sedangkan orng dewas seharusnya lebih berperan sebagai fasilitator saat anak membutuhkan bantuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Catron dan Allen (1999: 23) berpendapat bahwa tujuan program pembalajarn yang utama adalah untuk mengoptimalkan perkembangan anak secara menyeluruh serta terjadinya komunikasi interaktif. Tujuan program pembalajaran adalah membantu meletakkan dasar kea rah perkembangan sikap pengetahuan, keterampilan dan kreativitas yang diperlukan oleh anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan pada tahapan berikutnya.
Untuk mencapai tujuan program pembalajaran tersebut, maka diperlukan strategi pembalajaran bagi anak usia dini yang berorientasi pada:
1.         Tujuan yang mengarah pada tugas-tugas perkembangan di setiap rentangan usia anak;
2.         Materi yang diberikan harus mengacu dan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan yang sesuai dengan taraf perkembangan anak (DAP = Developmentally Approriate Practice );
3.         Metode yang dipilih seharusnya bervariasi sesuai dengan tujuan kegiatan belajar dan mampu melibatkan anak secara aktif dan kreatif serta menyenangkan;
4.         Media dan lingkungan bermain yang digunaka haruslah aman, nyaman, dan menimbulkan keterarikan bagi anak dan perlu adanya waktu yang cukup untuk bereksplorasi;
5.         Evaluasi yang terbaik dan dianjurkan untuk dilakukan adalah rangkaian sebuah assessment melalui observasi partisipasi terhadap segala sesuatu yang dilihat, didengar dan diperbuat oleh anak.
Program pembelajaran memiliki sejumlah fungsi, diantaranya adalah :
1.         Untuk mengembangkan seluruh kemampuan yang dimiliki anak sesuai dengan tahap perkembangannya;
2.         Mengenalkan anak dengan dunia sekitar;
3.         Mengembangkan sosialisasi anak;
4.         Mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak, dan;
5.         Memberikan kesempatan kepada anak untuk menikmati masa bermainnya.[8]

D.    Model Pembelajaran Anak Usia Dini
Pembelajaran anak usia dini memiliki dua jenis model yaitu pembelajaran yang berpusat pada guru dan berpusat pada anak. Pembelajaran yang berpusat pada guru diprakarsai oleh Povdov,Skinner, dan behavioris. Adapun pembelajaran  yang berpusat pada anak diprakarsai oleh piaget, erikson dan Isaacs.
Teori behavioris, berdasarkan penelitian Pavlov dalam mengamati perilaku hewan, bahwa jika hewan diberi stimulus tertentu, maka menimbulkan respons yang tertentu, maka menimbulkan respons yang tertentu sesuai dengan stimulasi yang diberikan. Skinner mengemukakan bahwa seluruh perilaku manusia dapat dijelaskan atau diamati sebagai respons yang terbentuk dari berbagai stimulus yang pernah diterimanya dari lingkungannya.
Teori perkembangan. Para ahli psikologi perkembangan melihat bahwa anak memiliki motivasi diri yang dimilikinya sejak lahir untuk menjadi mampu. “motivasi kemampuan inilah yang kemudian dipandang oleh para psikologi sebagi dasar untuk mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada anak, dengan  menghargai seluruh proses perkembangan yang dimiliki oleh anak dan berkembang sesuai dengan ritme yang dimiliki masing-masing anak. Menciptakanlingkungan dan menyediakan peralatan yang menyediakan kesempatan pada untuk belajar dan berkembang. Lembaga pendidikan “sekolah” untuk anak usia dini menggunakan kedua teori tersebut dalam mengembangkankegiatannya.
Berikut ini adalah karakteristik mengajar berdasarkan kegiatan pembelajaranberpusat pada anak dan yang berpusat pada guru

Pembelajaran yang berpusat pada Anak
Pembelajaran berpusat pada guru
Bahan, ruang dan waktu peran guru
Dapat digunakan secara bebas.
Mengikuti minat dan keinginan anak
Pengalaman langsung, berpusat pada anak.
Berdasarkan petunjuk guru.
Langsung, inisiasi, mengevaluasi, menekan dan berdasarkan penampilan anak.

Kerangka kerja pengajaran
Berorientasi pada kegiatan : menguju, menggali dan mempunyai tantangan.
Memiliki tahapan berdasarkan tujuan akhir yang akan dicapai
Motivasi
Keinginan belajar intrinsic
Eksternal, berdasarkan penghargaan
Konsep belajar
Pengalaman langsung menggunakan pengetahuan untuk dalam bermainuntuk memahami situasi yang nyata
Drill atau pengulanganuntuk menguasai keterampilan
Individual vs.fokus kelompok
Individual berdasarkan kebutuhan anak
Kebutuhan kelompok sebagai satu kesatuan.
Kemampuan untuk berkelompok
Metodologi
Kebebasan sepenuhnya bagi guru untukmenggunakan intuisi, perasaan dan penilaian
Berdasarkan model / contoh yang dilihat

Secara khusus proses pembelajaran pada anak usia dini haruslah didasarkan prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini berikut ini:
1)      Proses kegiatan belajar pada anak usia dini harus dilaksanakan berdasarkan prinsip belajar melalui bermain
2)      Proses kegiatan belajar anak usia dini dilaksanakan dalam lingkungan yang kondusif dan inovatif  baik didalam ataupun diluar ruangan
3)      Proses kegiatan belajar anak usia dini dilaksanakan dengan pendekatan tematik dan terpadu
4)      Proses kegiatan belajar usia dini harus diarahkan pada pengembangan potensi kecerdasan secarah menyeluruh dan terpadu.[9]


[1]. Mansur, Pendidikan Anak Dini Dalam Islam, Puataka pelajar, Yogyakarta, 2005, hlm.149.
[2]. Ibid, hlm. 151
[3]. Soemiarti Padmonodewo, Pendidikan Anak Prasekolah¸ Rineka Cipta, Jakarta, 1998, hlm. 102-103.      
[4]  Yuliani Nurani Sujiono, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta: PT. Indeks, 2009, hlm. 135.
[5]  Danar Santi, Pendidikan Anak Usia Dini; Antara Teori dan Praktek, Jakarta: PT. Indeks, 2009, hlm. 74-73.
[6]  Yuliani Nurani Sujiono, Op. Cit,  hlm. 136-138.
[7] Ibid, hlm. 206
[8]  Ibid, hlm. 138-140
[9] .Ibid, hlm. 140-141
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Random Post

Google+ Followers

About Me

My Photo

Knowledge is being aware of what you can do. Wisdom is knowing when not to do it.
 
Support : SMP N 1 Pecangaan | SMA N 1 Pecangaan | Universitas Islam Negeri Walisongo
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Islamic Centre - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template